Mengarak Syukur, Merawat Tradisi, Patrang Turut Mengukir Sejarah untuk Jember
- 23 Agustus 2026
- Dibaca 3 Kali
Bagikan Via:
Mengarak Syukur, Merawat Tradisi, Patrang Turut Mengukir Sejarah untuk Jember
JEMBER — Semangat kebersamaan, gotong royong, dan kecintaan terhadap tradisi lokal kembali menyatukan masyarakat Kabupaten Jember dalam Kirab Pawai Budaya Ancak Agung yang digelar pada Sabtu (22/8/2026). Di tengah kemeriahan ribuan masyarakat dan peserta dari berbagai wilayah, Kecamatan Patrang turut ambil bagian dalam menyemarakkan gelaran budaya tersebut sebagai wujud dukungan terhadap pelestarian tradisi sekaligus penguatan nilai persaudaraan antarmasyarakat.
Keikutsertaan Kecamatan Patrang dalam Kirab Pawai Budaya Ancak Agung bukan sekadar menjadi bagian dari kemeriahan acara. Lebih dari itu, partisipasi tersebut mencerminkan semangat masyarakat untuk bersama-sama menjaga warisan budaya yang sarat dengan nilai religius, sosial, dan kebersamaan.
Ancak yang diarak dalam kegiatan tersebut berisi beragam hasil bumi dan makanan tradisional. Susunan tersebut menjadi simbol rasa syukur kepada Allah SWT atas limpahan rezeki, sekaligus menggambarkan kekayaan hasil bumi, kreativitas, dan semangat gotong royong masyarakat Jember. Tradisi ini juga menjadi bentuk ungkapan kecintaan kepada Rasulullah SAW dalam rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Kirab Ancak Agung tahun 2026 menjadi semakin istimewa karena berhasil mencatatkan dua rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI), yakni Ancak Tertinggi dari Rangkaian Suwar-Suwir dan Kirab Ancak Agung Terbanyak.
Capaian tersebut diumumkan oleh perwakilan MURI, Ari Andriani, dalam kegiatan Doa dan Shalawat Bersama di Alun-Alun Jember pada Sabtu malam. Kegiatan itu merupakan rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia yang diisi dengan lantunan shalawat bersama, dipimpin oleh Pengasuh Pondok Pesantren Walisongo Situbondo, KHR. Muhammad Kholil As’ad.
Rekor Ancak Tertinggi dari Rangkaian Suwar-Suwir tercatat melalui ancak setinggi 3,7 meter yang dihiasi 1.600 kemasan atau sekitar 32.000 buah suwar-suwir. Sementara itu, berdasarkan hasil verifikasi MURI, sebanyak 527 ancak mengikuti kirab, melampaui rekor sebelumnya yang tercatat sebanyak 449 ancak.
Ari Andriani menyampaikan bahwa capaian tersebut dikukuhkan sebagai rekor karena mengangkat kearifan lokal dan kekhasan budaya masyarakat Jember. Sebelumnya, panitia mengusulkan target sebanyak 1.000 ancak. Namun, dengan mempertimbangkan waktu persiapan yang tersedia, MURI menetapkan peningkatan minimal 10 persen dari rekor sebelumnya sebagai syarat pemecahan rekor.
“Setelah tadi pagi kami verifikasi, ada 527 Ancak Agung,” ujar Ari.
Atas capaian tersebut, MURI juga memberikan tantangan kepada Pemerintah Kabupaten Jember untuk meningkatkan jumlah peserta menjadi 1.000 ancak pada pelaksanaan tahun berikutnya.
Camat Patrang, Ajib, S.IP, menyampaikan rasa bangga atas keikutsertaan Kecamatan Patrang dalam momentum budaya yang berhasil mencatatkan sejarah membanggakan bagi Kabupaten Jember. Menurutnya, keberhasilan tersebut merupakan hasil dari semangat kebersamaan seluruh elemen masyarakat.
“Kecamatan Patrang sangat bangga dapat turut berpartisipasi dalam Kirab Ancak Agung ini. Bagi kami, kegiatan ini bukan hanya tentang membawa dan mengarak ancak, tetapi tentang bagaimana masyarakat bersatu, bergotong royong, dan bersama-sama menjaga tradisi yang menjadi bagian dari identitas kita,” ungkap Ajib.
Ia menambahkan, keberhasilan Jember mencatatkan dua rekor MURI hendaknya menjadi motivasi bagi seluruh masyarakat untuk semakin mencintai dan melestarikan budaya lokal.
“Rekor ini tentu menjadi kebanggaan bersama. Namun, yang lebih penting adalah nilai yang terkandung di dalamnya, yaitu rasa syukur, persaudaraan, gotong royong, dan kebersamaan. Nilai-nilai inilah yang harus terus kita rawat dan wariskan kepada generasi muda,” tambahnya.
Mengusung tema “Melestarikan Tradisi, Menguatkan Ukhuwah, Mengangkat Marwah Jember”, Kirab Pawai Budaya Ancak Agung menjadi ruang kebersamaan yang mempertemukan masyarakat dari berbagai kecamatan dalam satu semangat yang sama. Perbedaan wilayah dan latar belakang melebur dalam kebanggaan sebagai bagian dari masyarakat Jember.
Bagi Kecamatan Patrang, keikutsertaan dalam kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa pelestarian tradisi membutuhkan keterlibatan bersama. Tradisi tidak akan tetap hidup hanya karena dikenang, tetapi karena terus dirawat, dilaksanakan, dan diwariskan dalam kehidupan masyarakat.
Melalui Kirab Pawai Budaya Ancak Agung 2026, Kecamatan Patrang turut mengarak lebih dari sekadar hasil bumi dan makanan tradisional. Ada rasa syukur yang dipanjatkan, kebersamaan yang dikuatkan, serta harapan agar budaya dan tradisi Jember tetap tumbuh dari generasi ke generasi.
Keberhasilan mencatatkan dua rekor MURI pun menjadi penanda bahwa ketika masyarakat bersatu dalam semangat gotong royong, tradisi lokal mampu tumbuh menjadi kebanggaan besar. Dari sebuah ancak yang diarak bersama, lahirlah cerita tentang persaudaraan, kecintaan terhadap budaya, dan sejarah baru bagi Kabupaten Jember.
Patrang turut hadir, mengarak syukur, merawat tradisi, dan bersama masyarakat Jember mengukir sejarah.(Naf)