Mengenal Pengolahan Sampah Organik di TPST 3R Baratan: Dari Rumah Tangga Hingga Pakan Ternak
- 11 Maret 2026
- Dibaca 318 Kali
Bagikan Via:
Mengenal Pengolahan Sampah Organik di TPST 3R Baratan: Dari Rumah Tangga Hingga Pakan Ternak
JEMBER, 11 MARET 2026 - Upaya pengurangan sampah tidak selalu harus dimulai dari tempat besar. Justru, langkah kecil dari rumah tangga dapat memberikan dampak besar bagi lingkungan. Hal inilah yang terus disosialisasikan di TPST 3R Baratan, salah satu pusat pengolahan sampah yang aktif memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya memilah dan mengolah sampah, khususnya sampah organik.
Di lokasi ini, aktivitas pengolahan sampah organik menjadi salah satu perhatian utama. Tumpukan daun kering, sisa sayuran, hingga limbah dapur yang biasanya dianggap tidak berguna justru menjadi bahan bernilai ketika diolah dengan benar. Proses tersebut dikoordinasikan langsung oleh Nurul Hidayah, yang sehari-hari bertugas mengawasi pengelolaan sampah organik di TPST 3R Baratan.
Saat ditemui pada Rabu 11 Maret 2026, Nurul menjelaskan bahwa masyarakat sebenarnya dapat mulai mengolah sampah organik dari rumah masing-masing tanpa harus langsung membuangnya ke tempat pembuangan akhir.
“Sebetulnya sampah organik bisa kita pilah sejak dari rumah. Tidak perlu langsung dibuang ke TPA terdekat, karena sampah itu masih bisa kita manfaatkan,” ujar Nurul.
Ia mencontohkan cara sederhana yang dapat dilakukan oleh masyarakat, yakni dengan membuat komposter dari barang bekas yang mudah ditemukan di rumah.
“Misalnya ada galon bekas yang sudah tidak dipakai, itu bisa kita manfaatkan sebagai tempat komposter. Sampah organik yang baru bisa kita masukkan dan dicampurkan dengan kompos lama di dalamnya, sehingga proses penguraian bisa berjalan lebih cepat,” jelasnya.
Menurutnya, langkah sederhana ini jika dilakukan secara bersama-sama oleh masyarakat akan berdampak besar terhadap pengurangan sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir.
“Kalau semua masyarakat mau mengolah sampah organik dari rumah dan tidak membuangnya ke TPA, maka kita sebenarnya sudah mengurangi sekitar 50 sampai 60 persen sampah yang masuk ke TPA,” tambah Nurul.
Tidak hanya melalui metode komposter, pengolahan sampah organik di TPST 3R Baratan juga dikembangkan melalui kerja sama dengan salah satu pembudidaya maggot di Jember, yakni Yalidi. Dalam kerja sama ini, sampah organik dimanfaatkan sebagai pakan bagi larva lalat tentara hitam atau maggot.
Larva tersebut memiliki kemampuan mengurai sampah organik dengan cepat. Selain membantu mengurangi volume sampah, maggot juga memiliki nilai ekonomi karena dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak.
“Maggot ini nantinya bisa dimanfaatkan menjadi pakan hewan seperti ikan, bebek, atau unggas lainnya. Jadi selain mengurangi sampah, juga bisa memberikan manfaat ekonomi,” jelas Nurul.
Menariknya lagi, sisa hasil dari budidaya maggot juga tidak terbuang percuma. Kotoran maggot yang dikenal dengan istilah kasgot dapat dimanfaatkan sebagai pupuk kompos yang baik bagi tanaman.
Melalui berbagai metode ini, TPST 3R Baratan berharap masyarakat semakin sadar bahwa sampah bukan sekadar limbah yang harus dibuang. Dengan pengelolaan yang tepat, sampah organik justru dapat menjadi sumber manfaat bagi lingkungan, pertanian, hingga peternakan. Edukasi sederhana ini diharapkan mampu menggerakkan masyarakat untuk mulai mengolah sampah dari rumah demi lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan. 🌱♻️