Paradigma Baru Pertanian, Bukan Sekadar Panen tapi Kesejahteraan Petani
- 07 April 2026
- Dibaca 265 Kali
Bagikan Via:
Paradigma Baru Pertanian, Bukan Sekadar Panen tapi Kesejahteraan Petani
JEMBER, 07 APRIL 2026 — Di tengah semangat pembangunan sektor pertanian, satu pesan penting mengemuka dalam kegiatan Pertemuan Kelompok Tani pada Program Bunga Desaku yang digelar di Balai Desa Suco, Kecamatan Mumbulsari, Selasa, 07 April 2026. Pertanian tidak lagi cukup diukur dari tingginya hasil panen, melainkan dari seberapa besar kesejahteraan yang benar-benar dirasakan petani.
Kegiatan yang mengusung tema “Unit Layanan Kompos (ULK) Poktan: Mewujudkan Kemandirian Pupuk dan Kesejahteraan Petani” ini menghadirkan perspektif baru dalam melihat persoalan klasik pertanian. Selama ini, peningkatan produksi kerap menjadi indikator utama keberhasilan. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa kenaikan produksi tidak selalu sejalan dengan peningkatan pendapatan.
Dalam pemaparannya, narasumber kegiatan tersebut, Dr. Bambang Herry Purnomo menegaskan bahwa orientasi pembangunan pertanian harus bergeser. “Petani di Kabupaten Jember itu tidak boleh hanya meningkat produksinya. Kalau produksinya meningkat, tapi pendapatannya tidak naik signifikan, itu juga tidak boleh,” ujarnya.
Ia menjelaskan, dengan rata-rata produktivitas padi sekitar 6,5 ton per hektare dan harga gabah sekitar Rp6.500 per kilogram, petani memang dapat menghasilkan pendapatan kotor yang cukup besar. Namun setelah dikurangi biaya produksi, keuntungan yang tersisa tidak selalu memadai, terutama bagi petani dengan kepemilikan lahan terbatas.
Kondisi ini menjadi semakin kompleks karena rata-rata luas lahan petani di Jember hanya sekitar 2.500 meter persegi. Artinya, pendapatan yang diperoleh sering kali masih berada di bawah standar kebutuhan hidup layak. Tidak heran jika banyak petani harus mencari sumber penghasilan tambahan demi memenuhi kebutuhan keluarga.
Melihat realitas tersebut, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Jember terus mendorong berbagai program strategis. Mulai dari bantuan alat dan mesin pertanian, benih, subsidi pupuk, hingga program optimasi lahan dan pendampingan penyuluh. Semua diarahkan untuk mencapai dua tujuan utama: meningkatkan produksi sekaligus meningkatkan pendapatan petani.
Dalam forum ini, gagasan pengembangan Unit Layanan Kompos (ULK) juga diperkenalkan sebagai salah satu solusi jangka panjang. Selain mendorong kemandirian pupuk, ULK diharapkan mampu menekan biaya produksi sekaligus menjaga keberlanjutan kualitas lahan pertanian.
Pendekatan ini menandai perubahan arah pembangunan pertanian di Jember. Bukan lagi sekadar mengejar hasil panen yang tinggi, tetapi membangun sistem yang mampu memberikan nilai tambah nyata bagi petani. Dengan demikian, pertanian tidak hanya menjadi aktivitas produksi, tetapi juga jalan menuju kesejahteraan yang berkelanjutan. (fan)