Pelatihan Ecoprint Jadi Upaya Pemberdayaan dan Penuntasan Anak Tidak Sekolah di Bangsalsari
- 25 Juni 2026
- Dibaca 28 Kali
Bagikan Via:
Pelatihan Ecoprint Jadi Upaya Pemberdayaan dan Penuntasan Anak Tidak Sekolah di Bangsalsari
JEMBER, 25 JUNI 2026 – Upaya penuntasan dan pemberdayaan Anak Tidak Sekolah (ATS) di Kabupaten Jember terus dilakukan melalui berbagai program yang inovatif dan berkelanjutan. Salah satunya diwujudkan melalui Pelatihan Ecoprint bagi Anak Tidak Sekolah (ATS) yang diselenggarakan di Kecamatan Bangsalsari, Kabupaten Jember, Kamis 25 Juni 2026.
Kegiatan tersebut dibuka dan dihadiri secara langsung oleh Plt. Kepala Bidang PAUD dan Pendidikan Nonformal (PNF) Dinas Pendidikan Kabupaten Jember, Muhammad Ghozali, S.Pd., M.Pd. Pelatihan ini menjadi salah satu langkah strategis untuk memberikan keterampilan hidup (life skill) kepada ATS agar memiliki bekal yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari maupun untuk meningkatkan perekonomian keluarga.
Pelatihan ecoprint dipilih karena merupakan keterampilan yang mudah dipelajari, ramah lingkungan, dan memiliki peluang usaha yang cukup menjanjikan. Ecoprint sendiri adalah teknik menghias kain menggunakan bahan-bahan alami seperti daun, bunga, dan tumbuhan yang menghasilkan motif unik dan bernilai seni tinggi.
Dalam sambutannya, Muhammad Ghozali menyampaikan bahwa penanganan ATS tidak hanya dilakukan dengan mengembalikan anak-anak ke jalur pendidikan, tetapi juga memberikan keterampilan yang dapat menjadi bekal masa depan mereka.
“Anak Tidak Sekolah merupakan salah satu perhatian utama pemerintah daerah. Melalui pelatihan ecoprint ini, kami ingin memberikan kesempatan kepada mereka untuk memperoleh keterampilan yang bermanfaat sekaligus menumbuhkan semangat belajar dan berkarya. Pendidikan tidak selalu harus berada di ruang kelas, tetapi juga dapat diwujudkan melalui pelatihan yang membangun kemandirian,” ujar Muhammad Ghozali.
Menurutnya, pelatihan berbasis keterampilan seperti ecoprint memiliki nilai lebih karena selain mengasah kreativitas juga membuka peluang ekonomi bagi peserta. Produk ecoprint saat ini memiliki pasar tersendiri dan diminati berbagai kalangan karena mengusung konsep ramah lingkungan serta memiliki motif yang tidak bisa disamakan satu dengan lainnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa program ATS membutuhkan dukungan dari berbagai pihak agar dapat berjalan optimal. Pemerintah, masyarakat, lembaga pendidikan nonformal, hingga keluarga memiliki peran penting dalam memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk terus berkembang.
“Kami berharap pelatihan ini tidak berhenti pada hari ini saja. Yang terpenting adalah keberlanjutan pendampingan sehingga peserta mampu mengembangkan keterampilan yang diperoleh menjadi produk yang bernilai ekonomi. Dengan demikian, mereka tidak hanya memperoleh pengetahuan baru tetapi juga memiliki peluang untuk meningkatkan kesejahteraan,” tambahnya.
Kegiatan pelatihan berlangsung dengan suasana yang penuh semangat. Para peserta mendapatkan materi mengenai pengenalan ecoprint, pemilihan bahan alami, teknik penyusunan motif, hingga proses pencetakan pada kain. Instruktur memberikan pendampingan secara langsung sehingga peserta dapat memahami setiap tahapan dengan baik.
Para peserta terlihat antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Mereka mencoba berbagai kombinasi daun dan bunga untuk menghasilkan motif yang unik pada kain yang telah disiapkan. Kreativitas peserta tampak berkembang seiring proses praktik yang dilakukan secara berkelompok maupun individu.
Selain mengajarkan keterampilan teknis, pelatihan ini juga menanamkan nilai-nilai kepedulian terhadap lingkungan. Peserta diajak memanfaatkan sumber daya alam di sekitar secara bijak dan kreatif tanpa merusak kelestariannya.
Salah satu peserta yang menunjukkan antusiasme tinggi adalah Muhammad Farel, warga Desa Banjarsari, Kecamatan Bangsalsari. Farel mengaku senang dapat mengikuti pelatihan tersebut karena memberikan pengalaman baru yang sebelumnya belum pernah ia dapatkan.
“Saya sangat senang bisa ikut pelatihan ini. Awalnya saya tidak tahu kalau daun-daun yang ada di sekitar rumah bisa menghasilkan motif yang bagus di kain. Ternyata prosesnya juga menarik dan menyenangkan,” ungkap Farel.
Menurutnya, pelatihan ecoprint memberikan wawasan baru tentang bagaimana memanfaatkan bahan-bahan sederhana menjadi produk yang memiliki nilai jual. Ia merasa kegiatan seperti ini sangat bermanfaat bagi anak-anak yang membutuhkan keterampilan tambahan.
“Kegiatan ini membuat saya lebih percaya diri untuk mencoba hal-hal baru. Saya ingin belajar lebih banyak lagi dan mencoba membuat ecoprint sendiri di rumah. Siapa tahu ke depan bisa menjadi usaha yang menghasilkan,” tambahnya.
Antusiasme Farel selama pelatihan terlihat sejak awal kegiatan. Ia aktif bertanya kepada instruktur dan mencoba berbagai teknik yang diajarkan. Semangat tersebut menjadi gambaran bahwa pelatihan keterampilan dapat menjadi sarana efektif untuk membangun motivasi dan rasa percaya diri ATS.
Penyelenggara berharap pelatihan ini dapat menjadi langkah awal bagi peserta untuk mengembangkan kemampuan diri sekaligus membuka peluang usaha kreatif berbasis lingkungan. Dengan keterampilan yang dimiliki, ATS diharapkan mampu menjadi pribadi yang mandiri dan produktif.
Program pemberdayaan melalui pelatihan ecoprint juga menjadi bagian dari komitmen Dinas Pendidikan Kabupaten Jember dalam memberikan layanan pendidikan yang inklusif. Pendidikan tidak hanya dipahami sebagai proses belajar di sekolah formal, tetapi juga sebagai upaya mengembangkan potensi individu melalui berbagai jalur pendidikan nonformal.
Melalui kegiatan ini, ATS tidak hanya memperoleh keterampilan baru, tetapi juga mendapatkan motivasi untuk terus belajar dan mengembangkan diri. Kehadiran pemerintah melalui program-program pemberdayaan menjadi bukti bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk mendapatkan kesempatan berkembang dan meraih masa depan yang lebih baik.
Menutup kegiatan pembukaan, Muhammad Ghozali berpesan kepada seluruh peserta agar terus semangat belajar dan memanfaatkan kesempatan yang ada untuk meningkatkan kualitas diri.
“Setiap anak memiliki potensi yang luar biasa. Jangan pernah merasa tertinggal atau kehilangan harapan. Teruslah belajar, terus berkarya, dan jadikan keterampilan yang diperoleh hari ini sebagai langkah menuju masa depan yang lebih baik,” pungkasnya.
Pelatihan ecoprint di Kecamatan Bangsalsari ini diharapkan menjadi salah satu contoh praktik baik dalam penanganan dan pemberdayaan Anak Tidak Sekolah di Kabupaten Jember. Dengan kolaborasi berbagai pihak dan dukungan yang berkelanjutan, ATS dapat memperoleh kesempatan untuk berkembang, mandiri, serta berkontribusi positif bagi masyarakat dan lingkungan sekitarnya. (hz)