logo ppid jember kim
Oleh : Badan Penanggulangan Bencana Daerah

Program Bunga Desaku di Pakusari, BPBD Jember Rintis Generasi Tangguh Bencana lewat Bangku Sekolah

  • 20 Juli 2026
  • Dibaca 14 Kali
Bagikan Via:
program-bunga-desaku-di-pakusari-bpbd-jember-rintis-generasi-tangguh-bencana-lewat-bangku-sekolah-20260721

Program Bunga Desaku di Pakusari, BPBD Jember Rintis Generasi Tangguh Bencana lewat Bangku Sekolah

JEMBER, 20 JULI 2026 - Kabupaten Jember menyimpan kerawanan bencana yang cukup lengkap: gempa bumi, banjir, tanah longsor, hingga cuaca ekstrem kerap mengintai wilayah ini. Menghadapi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Jember memilih jalur pendidikan sebagai salah satu ujung tombak mitigasi, dengan menanamkan kesiapsiagaan sejak bangku sekolah menengah pertama.

Langkah itu terlihat pada Senin, 20 Juli 2026, ketika Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember menggelar sosialisasi kesiapsiagaan bencana di SMP Negeri 1 Pakusari pada rangkaian Program Bupati Ngantor di Desa dan Kelurahan (Bunga Desaku).

Sebanyak 809 pelajar dari enam sekolah, dari SMP Negeri 1 Pakusari, SMP Islam Bustanul Ulum, SMPS Nidhomiyyah, SMP Islam Al-Multazam, SMPI Miftahul Hasan, dan SMPS Shofa Marwa, mengikuti kegiatan yang menjadi bagian dari Program Bunga Desaku itu.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Jember, Maryani, S.Kom, M.M, menyebut, membangun ketangguhan masyarakat terhadap bencana tidak bisa hanya mengandalkan respons saat kejadian berlangsung. Menurut dia, kesadaran itu harus dibentuk jauh sebelum bencana datang, dan sekolah adalah titik paling strategis untuk memulainya.

"Pembentukan budaya sadar bencana harus dimulai dari lingkungan sekolah. Ketika siswa memahami potensi ancaman di daerahnya serta mengetahui langkah penyelamatan diri yang benar, maka mereka memiliki bekal untuk melindungi diri sendiri sekaligus mengedukasi keluarga dan lingkungan sekitarnya," kata Maryani saat membuka kegiatan.

Pendekatan yang diambil BPBD Jember ini sejalan dengan prinsip pengurangan risiko bencana yang lebih menitikberatkan pada pencegahan ketimbang penanganan pascabencana. Materi yang disampaikan mencakup dasar-dasar kebencanaan, pemetaan potensi ancaman di wilayah Jember, hingga pengenalan konsep Tas Siaga Bencana — perlengkapan dasar yang perlu disiapkan warga menghadapi kondisi darurat.

Pemateri Rizky Kusumawardani Putri, S.Geo, yang didampingi Muhammad Rizal Purnama, S.T, menekankan bahwa pengetahuan kebencanaan tidak cukup berhenti di ranah teori. Ia menilai pembiasaan lewat simulasi menjadi kunci agar respons siswa terhadap situasi darurat menjadi refleks, bukan sekadar hafalan.

"Pengetahuan mengenai kebencanaan harus terus dilatih, bukan hanya dipahami secara teori. Dengan latihan sederhana seperti simulasi evakuasi dan mengenal isi Tas Siaga Bencana, siswa akan lebih siap apabila sewaktu-waktu menghadapi kondisi darurat," ujarnya.

Prinsip itu langsung dipraktikkan dalam sesi simulasi gempa bumi menggunakan metode Drop, Cover, and Hold On, merunduk, berlindung, dan berpegangan. Ratusan pelajar berlatih mengambil posisi aman secara serentak, sebuah simulasi yang di banyak daerah lain baru diperkenalkan setelah bencana benar-benar terjadi.

Antusiasme yang tercermin dari derasnya pertanyaan peserta soal mitigasi dan penanganan darurat di sesi diskusi menjadi indikator bahwa pendekatan berbasis sekolah ini mendapat sambutan positif dari generasi muda Jember.

Kegiatan ini turut melibatkan sejumlah pemangku kepentingan, antara lain Dinas Pendidikan Kabupaten Jember, Dinas Kesehatan Kabupaten Jember, TP3D, Puskesmas Pakusari, Duta Genre, serta akademisi Politeknik, menunjukkan bahwa isu kebencanaan di Jember mulai ditangani secara lintas sektor, tidak lagi menjadi domain tunggal BPBD.

Tim BPBD juga turut mengikuti rangkaian Apel Siswa Program Bunga Desaku yang dilanjutkan dengan sambutan dan arahan Bupati Jember, Dr. Muhammad Fawait, S.E, M.Sc. (bob)

Galeri Foto