Puskesmas Gladakpakem Tingkatkan Kapasitas Kader Posyandu Kebonsari Jadi Ujung Tombak Deteksi Dini Kesehatan Warga
- 22 September 2026
- Dibaca 11 Kali
Bagikan Via:
Puskesmas Gladakpakem Tingkatkan Kapasitas Kader Posyandu Kebonsari Jadi Ujung Tombak Deteksi Dini Kesehatan Warga
JEMBER, 22 SEPTEMBER 2026 – Kader Posyandu Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Sumbersari, diperkuat kapasitasnya agar mampu menjadi mata rantai awal dalam menemukan persoalan kesehatan masyarakat. Tidak hanya memberikan edukasi, kader juga diarahkan untuk menghubungkan warga dengan layanan kesehatan serta melaporkan kondisi yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Penguatan tersebut dilakukan melalui kegiatan Pemberdayaan Kader Posyandu oleh Puskesmas Gladakpakem di Pendapa Kelurahan Kebonsari, Selasa 22 September 2026. Kegiatan diikuti para kader Posyandu se-Kelurahan Kebonsari dan dihadiri Lurah Kebonsari Edy Hariyanto, Kepala Puskesmas Gladakpakem dr. Tunsiah, Sekretaris Kelurahan Puji Prahastyo, Kasi PMKS Endro Sugiyanto serta pemateri dari Puskesmas Gladakpakem.
Lurah Kebonsari Edy Hariyanto mengatakan, peningkatan kapasitas kader merupakan bagian penting dalam mendukung pelayanan kesehatan masyarakat di tingkat kelurahan.
“Pertemuan ini kami harapkan memberikan manfaat, tambahan ilmu, pengetahuan dan keterampilan kepada kader. Kelurahan memfasilitasi melalui kebijakan dan penganggaran, sedangkan Puskesmas menjadi pembina teknis dalam pelatihan, pendampingan dan koordinasi. Keduanya harus terus bersinergi karena saling berkaitan,” ujar Edy.
Ia meminta kader tidak hanya mengikuti kegiatan secara administratif, tetapi mampu menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam pelayanan sehari-hari. Kader juga didorong menyampaikan berbagai persoalan yang ditemukan di lingkungan kepada kelurahan maupun petugas kesehatan.
“Kami berharap kader mampu meningkatkan kinerjanya sehingga pelayanan kepada warga Kebonsari semakin maksimal. Kalau ada hal yang perlu disampaikan kepada kelurahan, silakan dikoordinasikan,” katanya.
Sementara itu, Kepala Puskesmas Gladakpakem dr. Tunsiah menjelaskan, pemberdayaan dilaksanakan selama dua hari dengan materi yang disusun untuk memperluas kemampuan kader dalam mengenali berbagai persoalan kesehatan. Hari pertama membahas imunisasi dan Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I), serta kesehatan lingkungan. Hari kedua membahas penyakit menular dan penyakit tidak menular.
“Harapannya, dalam satu Posyandu ada kader yang lebih memahami imunisasi, kesehatan lingkungan, penyakit menular maupun tidak menular. Dengan begitu pengetahuan kader menjadi lebih merata. Kader yang mengikuti kegiatan ini juga akan mendapatkan sertifikat,” jelasnya.
Dr. Tunsiah juga menyampaikan program prioritas Bupati Jember, Home Care, yang diarahkan untuk mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dengan keterbatasan akses. Enam sasaran prioritasnya meliputi ibu hamil risiko tinggi, balita stunting, lansia kepala keluarga tunggal dengan penyakit, penyandang disabilitas, masyarakat tidak mampu dengan penyakit kronis, serta tokoh agama.
Puskesmas Gladakpakem memiliki 13 tim Home Care yang masing-masing terdiri atas satu bidan dan satu perawat. Saat ini tim tersebut menangani 280 pasien sasaran Home Care.
“Bagi warga yang belum terdata dan memenuhi kriteria, bisa menghubungi Wadul Guse. Pendataan menjadi satu pintu sehingga Puskesmas dapat memperoleh disposisi untuk memberikan layanan,” ungkap dr. Tunsiah.
Menurutnya, kader memiliki posisi penting karena mengetahui kondisi warga di lingkungannya. Karena itu, kader diminta proaktif melaporkan kondisi kesehatan yang ditemukan sehingga dapat segera ditindaklanjuti tenaga kesehatan.
Penguatan peran tersebut terlihat dalam materi imunisasi dan PD3I yang disampaikan Adhitya Dekha E.A. Kader dibekali pola kerja Temukan, Edukasi, Arahkan, dan Laporkan.
Kader diminta menemukan anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap, mengedukasi keluarga mengenai manfaat, jadwal, keamanan dan efek samping ringan imunisasi, kemudian mengarahkan anak ke Puskesmas atau bidan untuk imunisasi rutin maupun imunisasi kejar. Jika ditemukan dugaan PD3I atau kejadian penting, kader harus melaporkan kepada petugas kesehatan.
“Peran kader bukan melakukan diagnosis, tetapi menemukan, memberikan edukasi, mengarahkan dan melaporkan kepada petugas kesehatan ketika menemukan kondisi yang perlu ditindaklanjuti,” menjadi pokok materi Adhitya.
Kader juga diperkenalkan dengan tanda yang perlu segera dilaporkan, seperti lumpuh layu mendadak pada anak di bawah 15 tahun, demam disertai ruam menyeluruh, batuk berat atau paroksismal yang berlangsung lama terutama pada bayi, sakit tenggorok dengan selaput putih atau abu-abu disertai sesak, serta spasme atau kaku rahang dan otot setelah luka.
Selain imunisasi, Ayu Nurul Huda memberikan materi Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Kader didorong menjadi penggerak masyarakat, melakukan pendataan dan pemantauan, serta menjadi teladan dalam perilaku sanitasi sehat.
Lima pilar STBM meliputi Stop Buang Air Besar Sembarangan, Cuci Tangan Pakai Sabun, Pengelolaan Air Minum dan Makanan Rumah Tangga, Pengelolaan Sampah Rumah Tangga, serta Pengelolaan Air Limbah Domestik Rumah Tangga.
Persoalan sampah menjadi salah satu perhatian. Berdasarkan materi yang disampaikan, estimasi timbulan sampah di Kabupaten Jember mencapai sekitar 1.302 ton per hari, sedangkan sekitar 328 ton per hari masuk ke lima TPA. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pengelolaan sampah sejak dari sumbernya.
“Harapannya, kader mampu menjadi penggerak perubahan di lingkungannya. Bukan hanya mengajak masyarakat untuk tidak buang air besar sembarangan atau mencuci tangan dengan sabun, tetapi juga memastikan pengelolaan air minum, sampah dan limbah rumah tangga dilakukan dengan cara yang aman,” pungkasnya.
Melalui pemberdayaan ini, kader Posyandu Kebonsari diharapkan tidak berhenti sebagai penyampai informasi, tetapi mampu menjadi penggerak, pendamping, pemantau, sekaligus penghubung warga dengan layanan kesehatan. Dengan peran tersebut, berbagai persoalan kesehatan dan lingkungan di tingkat masyarakat diharapkan dapat ditemukan lebih awal dan ditindaklanjuti melalui koordinasi dengan kelurahan serta Puskesmas Gladakpakem. (aji)