logo ppid jember kim
Oleh : Kecamatan Sumbersari

Puskesmas Sumbersari Miliki 590 Sasaran Home Care, 100 Persen Sudah Dikunjungi pada Agustus

  • 19 September 2026
  • Dibaca 17 Kali
Bagikan Via:
puskesmas-sumbersari-miliki-590-sasaran-home-care-100-persen-sudah-dikunjungi-pada-agustus-20260920

Puskesmas Sumbersari Miliki 590 Sasaran Home Care, 100 Persen Sudah Dikunjungi pada Agustus

JEMBER, 19 SEPTEMBER 2026 - Program Home Care di wilayah kerja Puskesmas Sumbersari, Kabupaten Jember, mencatat sebanyak 590 sasaran yang telah dipetakan oleh Dinas Kesehatan bersama Dinas Sosial.

Sasaran tersebut tersebar di lima kelurahan yang berada di wilayah Kecamatan Sumbersari. Meliputi Kelurahan Tegal Boto, Wirolegi, Tegal Gede, Karangrejo, dan Antirogo.

Dari jumlah tersebut, seluruh sasaran alias 100 persen yang masuk dalam target kunjungan pada Agustus 2026 telah dikunjungi. Data sasaran tersebut mencakup sejumlah kelompok rentan, mulai dari ibu hamil risiko tinggi, balita stunting, penyandang disabilitas hingga lansia yang tinggal seorang diri.

Kepala Puskesmas Sumbersari, dr. Adinda Putri Yusri Amrina, mengatakan 590 sasaran tersebut merupakan data yang dihimpun bersama Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial. Sasaran tersebut terdiri dari beberapa kelompok rentan yang membutuhkan perhatian dan pelayanan kesehatan secara langsung di rumah.

“Total sasaran yang dari Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial sudah ada data BNBA (By Name By Address, Red), adalah 590 sasaran. Berlokasi di lima kelurahan di wilayah Kecamatan Sumbersari,” ujar dr. Adinda, saat evaluasi program Home Care di wilayah Kecamatan Sumbersari, Jumat 18 September 2026. Sebelum ia resmi dipindah tugaskan.

Dari total tersebut, sasaran paling banyak berada di wilayah Kelurahan Antirogo, 170 sasaran. Adinda menjelaskan, berdasarkan pemutakhiran data, terdapat sejumlah sasaran yang harus dikeluarkan karena sudah meninggal dunia, pindah wilayah, maupun alamatnya tidak ditemukan.

Untuk kategori ibu hamil risiko tinggi (bumil risti), terdapat 70 sasaran dan seluruhnya telah dikunjungi. Kemudian, terdapat 219 sasaran balita stunting yang juga telah mendapatkan kunjungan selama Agustus.

Sementara itu, untuk kelompok penyandang disabilitas tercatat sebanyak 187 sasaran. Namun, tiga orang di antaranya diketahui telah meninggal dunia sehingga akan dikeluarkan dari daftar sasaran.

“Untuk lansia kategori tunggal ada 111 sasaran, dimana lima sasaran meninggal, tiga alamatnya tidak ditemukan dan satu sasaran pindah ke luar wilayah Sumbersari,” imbuhnya.

Selain kelompok tersebut, terdapat tiga sasaran dengan penyakit kronis dan tiga tokoh agama dalam data Home Care. “Untuk tiga sasaran tokoh agama, ketiganya menolak untuk dikunjungi karena sudah memiliki dokter pribadi,” jelasnya.

dr. Adinda mengatakan, pemetaan tersebut menjadi dasar bagi tim Home Care untuk melakukan kunjungan secara lebih terarah. Selain pemeriksaan kondisi kesehatan, hasil kunjungan juga digunakan untuk menentukan tindak lanjut yang dibutuhkan masing-masing sasaran.

Memasuki September, kunjungan Home Care masih terus dilakukan. Hingga minggu kedua September, capaian yang tercatat dalam sistem mencapai 17 persen. Namun, angka tersebut belum menggambarkan seluruh kunjungan yang telah dilakukan karena masih terdapat laporan dari tim yang belum masuk.

“Kemungkinan sudah banyak yang dikunjungi, hanya saja teman-teman belum sempat laporan ke tim Home Care, sampai yang terekam hanya 17 persen,” jelasnya.

Menurut Adinda, Puskesmas Sumbersari juga terus melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan Home Care. Salah satu catatan yang perlu diperbaiki adalah kedisiplinan dalam pelaporan hasil kunjungan.

“Sehingga harapannya anggota tim Home Care dapat segera melaksanakan kunjungan rumah sesuai dengan jadwal. Dan juga ada tambahan lagi yaitu, optimalisasi telemedicine ke dokter spesialis di rumah sakit,” pungkasnya.

Sementara, Camat Sumbersari, Deni Hadiatullah, S.IP., MM., mengatakan pemerintah perlu memiliki gambaran yang lebih utuh mengenai kondisi di lapangan. Menurutnya, data jumlah kunjungan saja belum cukup untuk menjadi dasar evaluasi.

“Karena kami tidak akan melihat data saja sebagai standar dari suatu keberhasilan. Tapi kami harus bisa membaca bagaimana respons masyarakat, seperti apa respons masyarakat,” kata Deni.

Ia menilai kondisi tersebut perlu disikapi dengan pendekatan yang tepat. Pemerintah kecamatan tidak hanya ingin mengetahui siapa saja yang sudah menerima kunjungan, tetapi juga memahami alasan ketika ada masyarakat yang belum bersedia menerima layanan.

“Jadi kita harus pahami, mengapa sasaran menolak dikunjungi tim Home Care,” tandasnya. (fat)

Galeri Foto