Siswa SMPN 2 Ambulu Sulap Limbah Cangkang Kerang Jadi Chafing Fuel Berkelanjutan
- 08 Oktober 2026
- Dibaca 28 Kali
Bagikan Via:
Siswa SMPN 2 Ambulu Sulap Limbah Cangkang Kerang Jadi Chafing Fuel Berkelanjutan
JEMBER, 08 OKTOBER 2026 – Kreativitas siswa kembali menunjukkan bahwa persoalan lingkungan dapat diubah menjadi sebuah inovasi yang bernilai guna. Dua siswa SMPN 2 Ambulu, yakni Abiyu Akmal Ahmad Sugiarto dan Belicia Rafa Adilla, kelas 8, menghadirkan inovasi pengolahan limbah cangkang kerang menjadi bahan bakar alternatif yang lebih berkelanjutan.
Inovasi tersebut ditampilkan dalam Verifikasi Lapangan Jatim Jagad Inovasi Award 2026 yang berlangsung di SMPN 2 Ambulu, Rabu, 07 Oktober 2026. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari tahapan penilaian inovasi yang diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Provinsi Jawa Timur.
Berdasarkan informasi yang terpampang dalam kegiatan, inovasi yang dikembangkan mengusung nama “Rues Fuel: Revolusi Limbah Cangkang Kerang Pesisir Menjadi Chafing Fuel Berkelanjutan.” Gagasan tersebut berangkat dari persoalan limbah cangkang kerang yang banyak ditemukan di kawasan pesisir.
Selama ini, cangkang kerang sering kali hanya dianggap sebagai limbah dan berakhir menumpuk atau dibuang begitu saja. Melalui kreativitas dan keberanian melakukan eksperimen, kedua siswa tersebut mencoba melihat limbah tersebut dari sudut pandang berbeda.
Bagi Abiyu dan Belicia, limbah tidak selalu berarti sesuatu yang tidak berguna. Dengan pengolahan yang tepat, limbah dapat memiliki nilai manfaat sekaligus membantu mengurangi persoalan lingkungan.
Inovasi tersebut mendapat perhatian dari berbagai pihak yang hadir dalam proses verifikasi. Salah satunya Camat Ambulu Fahrul Asrori yang turut menyaksikan proses pengembangan inovasi para siswa tersebut.
Kehadiran pemerintah di tingkat kecamatan dalam kegiatan ini menjadi bentuk dukungan terhadap kreativitas generasi muda. Apalagi, inovasi yang dikembangkan tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga menyentuh persoalan lingkungan yang dekat dengan kehidupan masyarakat Ambulu sebagai wilayah yang memiliki kawasan pesisir.
Apresiasi juga disampaikan Patut dari Brida Provinsi Jawa Timur. Ia memberikan perhatian terhadap kreativitas siswa yang mampu menghasilkan inovasi dari persoalan limbah.
Menurutnya, kreativitas yang ditunjukkan para siswa patut diapresiasi karena mampu melihat sampah bukan sekadar sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi sebagai persoalan yang bisa dicarikan solusi melalui inovasi.
Semangat tersebut menjadi penting dalam membangun budaya inovasi sejak usia sekolah. Siswa tidak hanya didorong untuk memahami teori di dalam kelas, tetapi juga diajak melihat berbagai persoalan yang ada di lingkungan sekitar dan mencari solusi berdasarkan pengetahuan yang mereka miliki.
Kepala Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Jember, Muhammad Ridhoi, turut mengapresiasi kreativitas dan kepedulian siswa SMPN 2 Ambulu terhadap persoalan lingkungan. Menurutnya, inovasi yang lahir dari lingkungan sekolah menunjukkan bahwa peserta didik memiliki potensi untuk mengembangkan gagasan kreatif sekaligus memberikan solusi terhadap persoalan di sekitarnya.
“Ini menjadi bukti bahwa siswa SMP di Jember memiliki potensi besar untuk berinovasi. Kami berharap kreativitas seperti ini terus tumbuh, tidak hanya untuk mengikuti kompetisi, tetapi juga menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat. Sekolah harus menjadi ruang bagi siswa untuk berpikir kritis, berani mencoba, dan mengembangkan solusi atas persoalan nyata di lingkungan mereka,” ujarnya.
Ridhoi berharap capaian Abiyu Akmal Ahmad Sugiarto dan Belicia Rafa Adilla dapat menginspirasi siswa lainnya di Kabupaten Jember untuk terus berkarya. Menurutnya, pendidikan tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga perlu mendorong kemampuan berpikir kreatif, pemecahan masalah, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Ia menilai, dukungan sekolah dan kolaborasi dengan berbagai pihak menjadi faktor penting agar inovasi siswa dapat terus dikembangkan, diuji, dan disempurnakan sehingga memiliki manfaat yang lebih luas.
Inovasi Rues Fuel juga memperlihatkan bahwa persoalan sampah membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Sekolah dapat menjadi tempat lahirnya gagasan, sementara pemerintah, masyarakat, dan berbagai lembaga terkait dapat memberikan dukungan agar inovasi tersebut terus berkembang. (hz)