SMD Jadi Pijakan Ponpes NURINA Menentukan Prioritas Kesehatan
- 20 September 2026
- Dibaca 41 Kali
Bagikan Via:
SMD Jadi Pijakan Ponpes NURINA Menentukan Prioritas Kesehatan
JEMBER, 20 SEPTEMBER 2026 – Upaya membangun lingkungan pondok pesantren yang sehat perlu diawali dengan mengenali kondisi dan kebutuhan yang ada di dalamnya. Hal tersebut dilakukan melalui Survei Mawas Diri (SMD) yang menjadi bagian penting dalam Musyawarah Masyarakat Pondok Pesantren (MMPP) di Pondok Pesantren Nurul Inaroh (NURINA), Sabtu, 19 September 2026. SMD menjadi salah satu tahapan untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi kesehatan di lingkungan pesantren. Melalui pemetaan tersebut, berbagai potensi yang dapat dikembangkan sekaligus tantangan yang masih dihadapi dapat diketahui. Hasilnya kemudian menjadi bahan pembahasan bersama dalam MMPP.
Pendekatan ini membuat persoalan kesehatan pesantren tidak hanya dilihat dari sisi pelayanan ketika warga pesantren mengalami sakit. Lebih dari itu, kondisi lingkungan, kebiasaan sehari-hari, ketersediaan fasilitas, serta kemampuan warga pesantren dalam menjaga kesehatan juga menjadi bagian yang perlu diperhatikan. Dalam pemaparan MMPP, hasil SMD menjadi dasar untuk menggali berbagai permasalahan yang perlu mendapatkan perhatian. Pesantren bersama unsur kesehatan dapat melihat persoalan secara lebih spesifik sehingga upaya yang dilakukan nantinya dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi di lapangan.
Hadi Purwanto, S.KM., staf Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes PPKB Jember, menekankan pentingnya melihat kebutuhan kesehatan pesantren secara menyeluruh. Salah satunya berkaitan dengan fasilitas sanitasi dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) para santri. “Jumlah toilet perlu disesuaikan secara rasional dengan jumlah santri. Namun, penyediaan fasilitas harus dibarengi dengan pembiasaan PHBS. Dari kondisi yang ditemukan, pesantren juga dapat melihat peluang untuk mengembangkan solusi, termasuk dalam pengelolaan sampah,” ujarnya.
Menurut Hadi, hasil pemetaan dapat menjadi pijakan bagi pesantren untuk menentukan langkah yang realistis sesuai potensi yang dimiliki. Dengan demikian, persoalan yang ditemukan tidak berhenti sebagai catatan, tetapi dapat diolah menjadi bahan untuk merancang inovasi dan perbaikan. Ketua Tim Kerja Program Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat, Triyaningsih, S.KM., M.Kes., mengatakan hasil MMPP selanjutnya akan ditindaklanjuti bersama jejaring layanan kesehatan. “Kegiatan ini tidak berhenti pada musyawarah. Kami bersama Puskesmas Bangsalsari dan Rumah Sakit Paru akan memberikan tindak lanjut melalui pendampingan, skrining kesehatan, dan edukasi,” katanya.
Melalui SMD dan MMPP, pesantren memiliki kesempatan untuk mengenali kondisi kesehatannya secara lebih terarah. Pemetaan tersebut diharapkan menjadi dasar dalam menentukan prioritas kebutuhan serta mendorong keterlibatan warga pesantren dalam menciptakan lingkungan yang sehat dan berkelanjutan. (ken)