Strategi Pupuk Organik Jadi Investasi Jangka Panjang Petani Jember
- 07 April 2026
- Dibaca 273 Kali
Bagikan Via:
Strategi Pupuk Organik Jadi Investasi Jangka Panjang Petani Jember
JEMBER, 07 APRIL 2026 – Pembahasan mengenai pupuk organik dalam pertemuan kelompok tani pada Program Bunga Desaku di Balai Desa Suco, Kecamatan Mumbulsari, Selasa 07 April 2026, membuka perspektif baru bagi petani. Pupuk organik tidak lagi dipandang sebagai alternatif semata, melainkan strategi jangka panjang untuk meningkatkan kesejahteraan.
Dalam forum bertema Unit Layanan Kompos (ULK) Poktan: “Mewujudkan Kemandirian Pupuk dan Kesejahteraan Petani”, pendekatan pertanian berkelanjutan menjadi sorotan utama. Salah satu poin penting yang mengemuka adalah bagaimana petani dapat memproduksi pupuk organik secara mandiri dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di sekitar mereka.
Dr. Bambang Herry Purnomo, seorang pakar pertanian, menjelaskan secara langsung bahwa potensi bahan baku kompos sebenarnya sangat melimpah di tingkat petani, terutama dari limbah pertanian dan peternakan.
“Yang paling menguntungkan adalah kita memproduksi sendiri. Bahannya apa? Bahan yang paling murah itu adalah jerami hasil panen kita. Jadi kalau satu hektar itu jeraminya kira-kira berapa nggih? Kan sekitar lima ton nggih. Lima ton itu kalau dikomposkan jadinya dua setengah ton,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kombinasi antara jerami, kotoran ternak, dan bahan organik lainnya dapat mencukupi kebutuhan pupuk dalam satu siklus tanam. Pendekatan ini tidak hanya menekan biaya produksi, tetapi juga memperkuat kemandirian petani dalam jangka panjang.
Lebih jauh, ia memaparkan bahwa penggunaan pupuk organik secara bertahap, dikombinasikan dengan pupuk kimia, mampu memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan hasil panen dan keuntungan petani.
“Menurut data, kalau kita menggunakan komposisi lima puluh lima puluh atau minimal enam puluh empat puluh, enam puluh itu kimia, empat puluh organik, itu bisa meningkatkan panen sepuluh persen. Tapi itu ndak langsung nggih. Jadi musim pertama mungkin agak turun dikit, musim kedua sama, musim ketiga baru naik,” jelasnya.
Penjelasan tersebut menegaskan bahwa hasil dari penggunaan pupuk organik tidak bersifat instan, melainkan bertumbuh secara bertahap. Namun, dalam jangka panjang, dampaknya dinilai jauh lebih menguntungkan, baik dari sisi produktivitas maupun kesehatan tanah.
Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Jember turut mendorong pendekatan ini sebagai bagian dari transformasi sistem pertanian. Melalui penguatan Unit Layanan Kompos (ULK), pemerintah daerah berupaya membangun ekosistem pertanian yang tidak hanya produktif, tetapi juga berkelanjutan.
Jika ditarik lebih luas, gagasan ini menunjukkan bahwa masa depan pertanian tidak hanya ditentukan oleh hasil panen hari ini, tetapi oleh keputusan yang diambil sekarang. Pupuk organik, dalam konteks ini, menjadi bentuk investasi—bukan hanya untuk peningkatan hasil, tetapi juga untuk memastikan bahwa lahan pertanian tetap produktif bagi generasi mendatang. (fan)