logo ppid jember kim
Oleh : Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan

Tikum, Jembatan Pengetahuan yang Mengubah Cara Petani Kopi Jember Melihat Usaha Mereka

  • 07 April 2026
  • Dibaca 223 Kali
Bagikan Via:
tikum-jembatan-pengetahuan-yang-mengubah-cara-petani-kopi-jember-melihat-usaha-mereka-20260409

Tikum, Jembatan Pengetahuan yang Mengubah Cara Petani Kopi Jember Melihat Usaha Mereka

JEMBER, 7 APRIL 2026 – Di tengah upaya penguatan sektor perkebunan, pendekatan baru mulai terlihat di Kabupaten Jember. Bukan sekadar bantuan atau program rutin, melainkan cara berpikir baru yang dibawa langsung ke tengah kebun. Melalui kunjungan Komunitas Tikum (Titik Kumpul), petani kopi kini tidak hanya diajak menanam, tetapi juga memahami nilai ekonomi dari hasil yang mereka produksi.

Di bawah naungan Bidang Perkebunan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Jember, Tikum hadir sebagai penghubung yang mempercepat aliran informasi dari pemerintah ke petani. Peran ini menjadi penting, terutama dalam menjawab tantangan klasik: keterbatasan akses informasi di tingkat lapangan.

Kepala Bidang Perkebunan DTPHP Jember, Rudi Indrawan, S.P., M.P, menegaskan bahwa pendekatan ini bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan strategi untuk memastikan petani mampu bersaing di pasar yang semakin kompetitif. Ia juga menekankan pentingnya menjaga standar produksi kopi daerah.

“Tikum itu harus bisa menjaga kualitas, kuantitas, dan kontinuitas kopi, sehingga produk yang dihasilkan petani tetap konsisten, berdaya saing, dan mampu memenuhi kebutuhan pasar secara berkelanjutan,” ujarnya.

Melalui interaksi langsung di kebun kopi, Tikum membawa berbagai materi praktis yang sebelumnya sulit dijangkau petani. Mulai dari teknik pemangkasan yang efektif, pengendalian hama, hingga pemahaman standar kualitas biji kopi yang dibutuhkan pasar. Lebih dari itu, petani juga dikenalkan pada akses permodalan dan jejaring pemasaran yang lebih luas.

Pendekatan ini secara perlahan menggeser pola lama. Petani tidak lagi hanya fokus pada budidaya, tetapi mulai melihat usaha mereka sebagai bagian dari rantai agribisnis yang utuh. Hal ini diperkuat dengan penerapan Good Agricultural Practices (GAP) serta dorongan standarisasi produksi agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas, termasuk ekspor.

Dalam praktiknya, Tikum juga berfungsi sebagai ruang belajar yang fleksibel. Perannya sebagai “perpustakaan berjalan” menjadi gambaran nyata bagaimana informasi kini hadir langsung di tengah aktivitas petani—memberi ruang konsultasi sekaligus solusi atas berbagai persoalan di lapangan.

Bagi DTPHP, kunjungan ini juga menjadi sarana untuk membaca kondisi riil di lapangan. Data yang diperoleh secara langsung membantu pemerintah memetakan potensi sekaligus kendala yang dihadapi kelompok tani secara lebih cepat dan akurat.

Dengan pola seperti ini, wajah agribisnis kopi di Jember mulai berubah. Dari yang sebelumnya berjalan secara tradisional, kini bergerak menuju sistem yang lebih modern, berbasis data, dan terhubung dengan kebutuhan pasar.

Langkah kecil yang dilakukan di tengah kebun ini menjadi sinyal bahwa pembangunan pertanian tidak selalu harus dimulai dari kebijakan besar, tetapi bisa tumbuh dari interaksi sederhana yang tepat sasaran—mendekat, mendengar, dan memberi solusi langsung kepada petani. (fan)

Galeri Foto