logo ppid jember kim
Oleh : Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak

Usung No One Left Behind, Edukasi Gender dan HIV/AIDS Harus Jangkau Seluruh Kelompok Usia

  • 21 Agustus 2026
  • Dibaca 3 Kali
Bagikan Via:
usung-no-one-left-behind-edukasi-gender-dan-hivaids-harus-jangkau-seluruh-kelompok-usia-20260821

Usung No One Left Behind, Edukasi Gender dan HIV/AIDS Harus Jangkau Seluruh Kelompok Usia

JEMBER, 20 Agustus 2026 – Upaya pencegahan HIV/AIDS di kalangan remaja dinilai tidak cukup hanya menyasar peran ibu, tetapi juga memerlukan kesetaraan pola pikir dan pola pengasuhan antara ibu dan ayah dalam keluarga. Hal ini disampaikan Kepala Bidang Pemberdayaan dan Perlindungan Perempuan dan Pengarusutamaan Gender Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) dr. Oktavia Wahyu Krisna Murti, M.M., saat menjadi panelis dalam Gelar Wicara Kependudukan bertema "Peran Keluarga dalam Membentuk Remaja Sehat: Pencegahan HIV/AIDS di Era Modern" yang digelar UKM Kependudukan Universitas Jember, Kamis (20/8/2026), di Auditorium Lantai 5 Gedung Soedjarwo Universitas Jember.

Oktavia menjelaskan, cakupan kerja pengarusutamaan gender tidak hanya berkaitan dengan pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak, tetapi juga menyasar kelompok lanjut usia yang berisiko mengalami kekerasan seksual. Ia mencontohkan adanya kasus pelecehan seksual yang dialami lansia berusia 74 tahun oleh pelaku berusia sekitar 20 tahun, sebagai bukti bahwa kekerasan seksual dapat terjadi lintas usia dan lintas arah.

"Ini orang tua, orang sepuh usia 74 tahun, dilakukan pelecehan seksual bukan oleh remaja, tapi usia 20 tahun. Jadi itu menjadi salah satu concern pengarusutamaan gender, karena sosialisasinya tidak hanya soal kekerasan, tapi juga banyak hal terkait pola pengasuhan," ujar Oktavia.

Ia turut menyoroti persoalan pola pengasuhan pada orang tua yang berstatus sebagai orang dengan HIV/AIDS (Odhiv). Menurutnya, tidak sedikit Odhiv yang enggan mengasuh anaknya sendiri karena khawatir menularkan virus, meski yang bersangkutan sudah menjalani pengobatan dan secara medis tidak berisiko menularkan HIV melalui kontak sehari-hari.

"Jangan sampai dengan pengarusutamaan gender ini kita malah memisah-misahkan, kamu perempuan, kamu laki-laki, kamu disabilitas, kamu lansia. Semua harus menjadi satu kesatuan, no one left behind. Tidak boleh ada satu pun yang tertinggal di bidang gender yang tidak mendapatkan sosialisasi," kata Oktavia.

Sementara itu, Ketua Panitia Gelar Wicara Kependudukan Naura Wanda Nur Fadillah dari Fakultas Hukum Universitas Jember menyampaikan, kegiatan ini merupakan program kerja unggulan UKM Kependudukan yang telah rutin digelar selama tiga tahun terakhir.

"Kami mengangkat tema peran keluarga dalam membentuk remaja sehat: pencegahan HIV/AIDS di era modern, karena kami melihat isu ini memerlukan perhatian bersama, khususnya dalam hal edukasi, pencegahan, serta upaya menghilangkan stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV/AIDS," kata Naura. (rou)

Galeri Foto