Nyepi 2026, Lurah Patrang Serukan Semangat Persaudaraan
- 18 Maret 2026
- Dibaca 837 Kali
Bagikan Via:
Nyepi 2026, Lurah Patrang Serukan Semangat Persaudaraan
JEMBER, 18 MARET 2026 - Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 pada 2026 mengusung tema Vasudhaiva Kutumbakam, sebuah filosofi universal yang menegaskan bahwa seluruh umat manusia adalah satu keluarga besar tanpa sekat perbedaan agama, suku, maupun kepercayaan.
Tema ini tidak sekadar menjadi slogan, melainkan refleksi nilai yang relevan di tengah kehidupan masyarakat yang majemuk. Harapannya, semangat tersebut mampu memperkuat toleransi dan mempererat hubungan sosial, khususnya di Kabupaten Jember yang dikenal dengan keberagaman latar belakang masyarakatnya.
Momentum Nyepi tahun ini terasa semakin bermakna karena berdekatan dengan Hari Raya Idulfitri. Kedekatan dua perayaan besar ini dinilai sebagai ruang perjumpaan nilai spiritual lintas iman yakni introspeksi, saling memaafkan, dan mempererat tali persaudaraan.
Lurah Patrang, Hariyono, menyampaikan bahwa tema Vasudhaiva Kutumbakam sejalan dengan semangat pemerintah daerah dalam menjaga harmoni sosial. Ia berharap masyarakat dapat menjadikan perayaan Nyepi sebagai pengingat pentingnya hidup berdampingan secara damai serta menghormati perbedaan.
“Dengan tema ini diharapkan masyarakat semakin menyadari bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan kekuatan untuk membangun kebersamaan,” ujarnya, Rabu 18 Maret 2026.
Sementara itu, Pemangku Pura Agung Amerta Asri, Ide Bagus Rai Jelantik, usai sembahyang menjelaskan bahwa rangkaian perayaan Nyepi diawali dengan Tawur Kesanga atau pengerupukan. Ritual ini sarat makna penyucian, yakni upaya mengubah energi negatif menjadi energi positif yang disimbolkan melalui arak-arakan ogoh-ogoh.
Menurutnya, ogoh-ogoh yang diarak kemudian dibakar sebagai simbol pemusnahan unsur-unsur negatif atau buta kala. “Itulah filosofi utama dari rangkaian kegiatan hari ini, sebagai upaya membersihkan diri dan lingkungan dari hal-hal buruk,” jelasnya.
Memasuki Hari Raya Nyepi, umat Hindu akan menjalankan Catur Brata Penyepian, empat laku utama yang menjadi inti perenungan diri. Pertama, Amati Geni, tidak menyalakan api, yang secara spiritual dimaknai sebagai upaya meredam amarah dan hawa nafsu. Kedua, Amati Karya, yakni tidak bekerja untuk memberi ruang pada meditasi dan refleksi diri.
Selanjutnya, Amati Lelungan berarti tidak bepergian, serta Amati Lelanguan yang mengajarkan untuk tidak mencari hiburan. Keempat brata ini menjadi sarana untuk mencapai ketenangan batin dan keseimbangan hidup.
Rangkaian Nyepi kemudian ditutup dengan Ngembak Geni keesokan harinya. Pada pagi hari, umat melaksanakan persembahyangan sebelum kembali beraktivitas seperti biasa. Momen ini juga dimaknai sebagai awal baru untuk menjalani kehidupan dengan hati yang lebih bersih dan damai.
Dengan mengusung semangat Vasudhaiva Kutumbakam, Nyepi 2026 diharapkan tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga momentum memperkuat nilai kemanusiaan dan persaudaraan lintas perbedaan di tengah masyarakat. (yud)