Refleksi Hardiknas 2026: Teladan Guru adalah Kurikulum Paling Hidup
- 04 Mei 2026
- Dibaca 277 Kali
Bagikan Via:
Refleksi Hardiknas 2026: Teladan Guru adalah Kurikulum Paling Hidup
Suasana Aula Wahyawibawagraha Jember pada Sabtu, 2 Mei 2026 mendadak hening saat Dr. Itje Chodidjah, M.A., Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, mengenang kepergian putrinya tepat di Hari Pendidikan Nasional. Di hadapan ratusan guru, kepala sekolah, dan pegiat pendidikan yang dihadirkan Dinas Pendidikan Kabupaten Jember, perempuan yang juga praktisi penyusun kurikulum dari masa ke masa itu mengajak publik Jember merefleksi ulang makna pendidikan Ki Hajar Dewantara.
“Selama ini kita hanya ambil Tut Wuri Handayani. Padahal lengkapnya Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani", tegasnya. Menurut Bunda Itje, pesan Ki Hajar bukan sekadar jargon, melainkan kompas. Ia menyindir, jangan sampai anak-anak menjadikan media sosial sebagai kompas baru. Dalam paparannya, ia mengingatkan guru agar tidak gagap teknologi. “Nanti siswanya kerjakan tugas apa pun lewat ChatGPT, gurunya tidak tahu,” ujarnya disambut tawa getir peserta.
Baginya, pendidikan tidak dimulai dari kurikulum, melainkan dari sosok manusia bernama guru yang hadir di hadapan anak. Ia menegaskan, semua orang adalah guru: tukang becak guru, bakul bakso guru. Jika anak-anak bisa memaknai demikian, maka adab anak juga ikut tumbuh.
Bunda Itje juga memaparkan transformasi pendidikan berbasis cinta anak. Gagasan ini sejalan dengan prioritas Bupati Jember Gus Fawait yang menempatkan pendidikan sebagai pilar utama dalam _timeline_ Jember Baru Jember Maju. Slogan Cinta yang menjadi jargon andalan Gus Fawait diterjemahkan Bunda Itje sebagai cinta yang hadir di ruang kelas: guru mengajar dengan hati, bukan sekadar mengejar target administrasi.
“Pesan utamanya: guru harus fokus mendidik lewat relasi, bukan terbebani administrasi. Integritas di kelas harus dijaga dengan hati. Ajarkan kejujuran,” tandasnya. Ia menguatkan bahwa kendala terbesar selama ini hanya satu: melawan ego sendiri. “Teladan adalah kurikulum yang paling hidup,” imbuhnya.
Ia menutup dengan pertanyaan reflektif yang menggema di aula: sudahkah anak-anak kita benar-benar bertumbuh jadi manusia? Bukan sekadar pintar, tapi juga beradab. Sebab bagi Ki Hajar Dewantara, mendidik adalah menuntun kodrat anak agar selamat dan bahagia. Dan itu dimulai dari guru yang mau jadi teladan, bukan sekadar pengajar.
Peringatan Hardiknas kali ini pun tidak berhenti pada seremoni. Di bawah arah kebijakan Gus Fawait yang menjadikan pendidikan prioritas Jember Baru Jember Maju, aula itu menjadi ruang jeda untuk bertanya ulang: sudahkah kita menjadi guru yang memastikan anak anak bertumbuh? (SH)