Sumur Tinggal Dasarnya, 190 KK di Jatian Jember Terjebak Krisis Air
- 15 September 2026
- Dibaca 2 Kali
Bagikan Via:
Sumur Tinggal Dasarnya, 190 KK di Jatian Jember Terjebak Krisis Air
JEMBER, 15 SEPTEMBER 2026 – Musim kemarau mulai menunjukkan dampak serius di Dusun Krajan, Desa Jatian, Kecamatan Pakusari, Kabupaten Jember. Sebanyak sekitar 190 kepala keluarga (KK) kini membutuhkan dukungan air bersih setelah sejumlah sumber air warga mulai menyusut, bahkan sebagian sumur sudah memperlihatkan dasar.
Kondisi tersebut menjadi perhatian BPBD Kabupaten Jember melalui kegiatan assessment sekaligus pendistribusian air bersih pada Selasa (15/9/2026). Kegiatan dilakukan sebagai tindak lanjut permohonan bantuan dari Kecamatan Pakusari dan Pemerintah Desa Jatian di tengah status siaga darurat bencana kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan di Kabupaten Jember.
Kekeringan di wilayah tersebut mulai dirasakan sejak awal Agustus 2026 ketika memasuki musim kemarau. Sumber air alami yang berada di sekitar persawahan dan menjadi salah satu alternatif warga berjarak sekitar 300 meter dari permukiman. Namun, debit sumber tersebut kini mulai mengecil sehingga tidak lagi mampu menjadi andalan utama masyarakat.
Dari hasil assessment, kondisi paling mengkhawatirkan ditemukan di RT 02/RW 08. Dari delapan sumur warga yang diperiksa, sekitar 90 persen sudah terlihat dasar sumurnya. Sebagian sumur bahkan dilaporkan mulai mengeluarkan bau.
Sementara itu, warga RT 01/RW 06 juga menghadapi keterbatasan sumber air. Jarak permukiman menuju sumber alternatif mencapai sekitar 700 meter dengan kondisi air yang juga semakin kecil. Adapun sungai yang berada sekitar 200 hingga 500 meter dari permukiman tidak dapat dijadikan sumber air konsumsi karena kondisinya tidak layak.
Secara keseluruhan, kebutuhan air bersih tersebar di beberapa wilayah. Di RT 02/RW 08 terdapat sekitar 50 KK dari total 129 KK yang membutuhkan air bersih. Kemudian RT 01/RW 06 mencatat sekitar 140 KK dari total 200 KK mengalami kebutuhan air bersih.
Selain itu, sekitar 90 KK di RT 01/RW 10 dan 80 KK di RT 02/RW 10 masih membutuhkan air untuk mandi dan mencuci, meskipun kebutuhan air untuk minum di dua wilayah tersebut masih tercukupi.
Melihat kondisi tersebut, TRC-PB BPBD Jember bergerak sejak pukul 08.30 WIB. Petugas melakukan koordinasi dengan pemerintah desa dan perangkat lingkungan, assessment kondisi sumber air, pengecekan sumur warga, edukasi mengenai kekeringan, serta mendistribusikan 2.500 liter air bersih ke tandon BPBD yang telah tersedia di lokasi.
M. Zaenudin Permana, anggota TRC BPBD Jember, mengatakan hasil assessment menunjukkan bahwa tekanan kekeringan mulai terasa dari menurunnya debit sumber air hingga kondisi sumur warga.
“Dari hasil pengecekan, sejumlah sumber air alternatif mulai mengecil. Bahkan di RT 02/RW 08, sebagian besar sumur warga sudah memperlihatkan dasar sumur. Kondisi ini menunjukkan kebutuhan distribusi air bersih perlu dilakukan secara berkala,” ujar Zaenudin.
BPBD juga menemukan dua tandon milik BPBD yang tersedia di wilayah RT 02/RW 06 untuk mendukung pemenuhan kebutuhan air masyarakat.
Namun, pemeriksaan terhadap jaringan pipanisasi belum dapat dilakukan secara langsung karena kondisi listrik di lokasi sedang padam. Pemerintah Desa Jatian sendiri telah melaporkan kondisi kekeringan tersebut kepada BPBD untuk mendapatkan penanganan.
Untuk menjaga ketersediaan air bagi warga terdampak, BPBD Jember merekomendasikan distribusi air bersih menggunakan satu unit truk tangki berkapasitas 5.000 liter setiap dua hari sekali.
Selain pasokan air, BPBD juga merekomendasikan penambahan dua unit tandon berkapasitas masing-masing 1.200 liter di RT 01, RT 02 dan RT 03 RW 06 guna memperluas titik penampungan serta mempermudah akses masyarakat terhadap bantuan air.
Kegiatan assessment dan distribusi air bersih tersebut berlangsung aman dan tanpa kendala berarti. Tim kemudian kembali ke Mako BPBD Jember sekitar pukul 11.00 WIB.
Kondisi di Jatian menjadi gambaran bahwa dampak kemarau tidak hanya ditandai dengan mengeringnya sumber air, tetapi juga semakin jauhnya akses masyarakat terhadap sumber air yang masih tersedia. Ketika sumur mulai kehilangan debit dan sungai di sekitar permukiman tidak layak untuk konsumsi, distribusi air bersih menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi.
Dengan sekitar 190 KK terdampak, keberlanjutan distribusi air serta penguatan sarana penampungan menjadi kebutuhan mendesak selama musim kemarau masih berlangsung. BPBD Jember pun merekomendasikan pola distribusi berkala agar masyarakat tidak semakin kesulitan memenuhi kebutuhan air sehari-hari. (bob)