Wuluhan Gandeng Guru BK Cegah Pernikahan Dini Lewat “Simbak Gemas”
- 25 Mei 2026
- Dibaca 157 Kali
Bagikan Via:
Wuluhan Gandeng Guru BK Cegah Pernikahan Dini Lewat “Simbak Gemas”
JEMBER, 25 MEI 2026 – Pemerintah Kecamatan Wuluhan mulai memperkuat langkah pencegahan pernikahan dini dengan menggandeng guru bimbingan konseling (BK) melalui program “Simbak Gemas”. Inovasi tersebut diluncurkan saat Sosialisasi Pencegahan Pernikahan Dini dan Kesehatan Reproduksi bertagar stunting di Pendopo Kecamatan Wuluhan, awal pekan kemarin.
Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB itu dihadiri Ketua Komisi D DPRD Jember, unsur Muspika Wuluhan, Kepala UPT Puskesmas Wuluhan dan Lojejer, Koordinator PKB Wuluhan, Kepala KUA Wuluhan, serta guru BK tingkat SD, SMP, hingga SMK se-Kecamatan Wuluhan.
Camat Wuluhan Hanifah, S.Pt., M.Si, menjelaskan, “Simbak Gemas” merupakan singkatan dari Sinergi Muspika Plus dengan Guru BK untuk Generasi Emas. Program tersebut lahir dari hasil koordinasi lintas sektor terkait upaya menekan angka pernikahan usia anak di wilayah Wuluhan.
Menurut Hanifah, gagasan itu muncul setelah adanya usulan agar edukasi pencegahan pernikahan dini lebih difokuskan ke lingkungan sekolah. Sebab, sekolah dinilai menjadi tempat paling efektif untuk memberikan pendampingan dan edukasi kepada remaja.
“Guru BK adalah pihak yang paling dekat dengan siswa. Karena itu, mereka harus menjadi garda depan dalam pencegahan pernikahan dini,” ujarnya, dikutip Senin 25 Mei 2026.
Unsur Muspika Plus terdiri atas kecamatan, Polsek, Koramil, puskesmas, dan KUA. Seluruh pihak tersebut nantinya akan terlibat dalam sosialisasi kepada pelajar terkait kesehatan reproduksi, kenakalan remaja, bullying, hingga pemahaman hukum mengenai batas usia pernikahan.
Hanifah berharap kolaborasi tersebut tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata. Dia mendorong sekolah membuka ruang bagi unsur Muspika Plus untuk terlibat langsung dalam kegiatan siswa, seperti menjadi pembina upacara maupun mengisi sosialisasi rutin di sekolah.
“Kalau bisa, ada jadwal rutin setiap bulan. Materinya tidak hanya soal pernikahan dini, tetapi juga persoalan remaja lainnya yang perlu mendapat perhatian bersama,” katanya.
Selain edukasi, pihak kecamatan juga meminta dukungan sekolah dalam penyediaan data dasar terkait siswa yang membutuhkan pendampingan khusus. Langkah itu dinilai penting agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran.
Program “Simbak Gemas” diharapkan mampu menjadi gerakan bersama dalam menekan risiko pernikahan dini yang berdampak pada meningkatnya angka stunting, angka kematian ibu (AKI), angka kematian bayi (AKB), hingga putus sekolah.
Melalui sinergi lintas sektor tersebut, Pemerintah Kecamatan Wuluhan menargetkan terciptanya generasi muda yang lebih sehat, berpendidikan, dan memiliki kesiapan mental maupun sosial sebelum memasuki usia pernikahan. (riz)