Air Bersih Jadi Barang Mahal, 60 KK di Patrang Jember Terpaksa Andalkan Tetangga
- 11 September 2026
- Dibaca 32 Kali
Bagikan Via:
Air Bersih Jadi Barang Mahal, 60 KK di Patrang Jember Terpaksa Andalkan Tetangga
JEMBER, 11 SEPTEMBER 2026 – Kekeringan di Lingkungan Patrang Tengah, Kelurahan Patrang, Kecamatan Patrang, Kabupaten Jember, tak hanya membuat sumur warga mulai mengering. Persoalan semakin terasa karena jaringan pipanisasi yang tersedia di sejumlah wilayah bersifat berbayar, sehingga belum seluruh warga mampu mengaksesnya.
Kondisi tersebut berdampak pada 60 kepala keluarga (KK) yang tersebar di RT 01 hingga RT 04 RW 08. Mereka mengalami keterbatasan air bersih dan sebagian warga terpaksa menumpang atau mengambil air dari tetangga yang memiliki akses terhadap jaringan pipanisasi.
Di tengah kondisi tersebut, Palang Merah Indonesia (PMI) kembali menyalurkan bantuan air bersih sebanyak 5.000 liter pada Jumat, 11 September 2026. Distribusi ini mendapat pendampingan dari Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (TRC-PB) BPBD Kabupaten Jember.
Data BPBD menunjukkan, 15 KK terdampak berada di RT 01/RW 08, 12 KK di RT 02/RW 08, 20 KK di RT 03/RW 08, dan 13 KK di RT 04/RW 08. Total terdapat 60 KK yang membutuhkan dukungan air bersih.
Kekeringan di wilayah tersebut terjadi sebagai dampak musim kemarau. Selain keterbatasan akses pipanisasi, kondisi sumur warga yang mulai mengering turut memperparah persoalan. Warga yang tidak memiliki akses terhadap jaringan air akhirnya mengandalkan bantuan dari lingkungan sekitar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Tim BPBD Jember bergerak menuju lokasi sekitar pukul 08.50 WIB dan tiba sekitar pukul 09.00 WIB. Petugas kemudian berkoordinasi dengan perangkat Kelurahan Patrang sebelum mendampingi PMI melakukan distribusi air bersih ke tandon yang telah tersedia.
Sebanyak 5.000 liter air bersih disalurkan ke lokasi dan ditampung pada sarana yang telah disiapkan. Saat ini terdapat tiga unit tandon milik BPBD dengan kapasitas masing-masing 1.200 liter serta satu tandon milik warga berkapasitas sekitar 1.100 liter.
Selain pendistribusian air, petugas juga memberikan edukasi kepada masyarakat terkait kondisi kekeringan dan pentingnya penggunaan air secara bijak selama musim kemarau.
Naringga Manggala Putra, TRC BPBD Jember, mengatakan persoalan di lokasi bukan hanya berkaitan dengan menurunnya ketersediaan air akibat kemarau, tetapi juga akses masyarakat terhadap jaringan pipanisasi yang belum merata.
“Sebagian warga belum dapat mengakses jaringan pipanisasi karena sistemnya berbayar. Ketika sumur mulai mengering, warga yang tidak memiliki akses tersebut akhirnya harus mengambil air dari warga lain atau menunggu bantuan distribusi,” ujar Naringga.
Menurutnya, distribusi air bersih menjadi langkah sementara untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat selama kondisi kekeringan masih berlangsung. Namun, kebutuhan tersebut perlu dipantau secara berkala agar pasokan air dapat disesuaikan dengan kondisi di lapangan.
BPBD Jember merekomendasikan distribusi air bersih sebanyak 5.000 liter setiap dua hari sekali ke wilayah terdampak. Selain itu, persoalan ketersediaan dan akses air bersih juga direkomendasikan untuk diteruskan kepada dinas terkait guna mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Keberadaan tandon di lokasi menjadi salah satu pendukung penting dalam penanganan kekeringan. Dengan adanya titik penampungan, air yang didistribusikan dapat lebih mudah dimanfaatkan oleh warga terdampak sesuai kebutuhan.
Distribusi air bersih tersebut berlangsung aman dan terkendali dengan melibatkan BPBD Kabupaten Jember, Lurah Patrang, PMI, ketua RW, serta masyarakat setempat. Kegiatan selesai sekitar pukul 11.00 WIB.
Di tengah musim kemarau yang masih berlangsung, warga di Patrang Tengah diharapkan dapat menghemat penggunaan air dan memprioritaskan kebutuhan utama. Sementara itu, pemantauan serta distribusi lanjutan akan dilakukan sesuai perkembangan kondisi masyarakat di wilayah terdampak. (bob)