Banjir Besar Landa Jember, 7.445 KK Terdampak dan Satu Warga Meninggal Dunia
- 18 Februari 2026
- Dibaca 1210 Kali
Bagikan Via:
Banjir Besar Landa Jember, 7.445 KK Terdampak dan Satu Warga Meninggal Dunia
Bencana banjir melanda Kabupaten Jember pada Kamis, 12 Februari 2026 hingga Senin, 16 Februari 2026, sebagai dampak hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi hampir sepanjang hari. Peristiwa ini terjadi di 10 kecamatan, meliputi 19 desa dan 4 kelurahan, sehingga menyebabkan gangguan serius terhadap aktivitas masyarakat. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), total terdapat 7.445 kepala keluarga terdampak, dengan satu korban meninggal dunia di Kecamatan Rambipuji. Kejadian ini menjadi salah satu bencana hidrometeorologi dengan dampak cukup luas di wilayah tersebut pada awal tahun 2026.
Banjir terjadi akibat meningkatnya debit air di sejumlah sungai besar dan kecil, seperti Sungai Bedadung, Sungai Kalijompo, Sungai Dinoyo, dan beberapa aliran sungai lainnya. Hujan deras yang berlangsung sejak pukul 12.00 WIB hingga malam hari menyebabkan air meluap ke permukiman warga dengan ketinggian bervariasi antara 30 sentimeter hingga 2 meter. Akibatnya, akses jalan terendam, lalu lintas terganggu, dan beberapa jembatan mengalami kerusakan hingga ambruk. Kondisi ini diperparah oleh arus deras yang membawa lumpur dan material lainnya ke rumah-rumah warga serta fasilitas umum.
Dampak banjir dirasakan hampir merata di wilayah terdampak, dengan kerusakan pada rumah warga, fasilitas pendidikan, tempat ibadah, hingga infrastruktur penghubung antarwilayah. Tercatat empat jembatan ambruk, satu masjid roboh, serta beberapa sekolah, balai desa, dan pondok pesantren terendam banjir. Selain itu, sebanyak 12 unit speedboat milik warga di Kecamatan Puger terbawa arus sungai, meski sebagian telah berhasil ditemukan. Di sektor pertanian, sekitar 200 hektare lahan tergenang air dan diperkirakan 14 hektare mengalami gagal panen atau puso.
Menanggapi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Jember melalui BPBD bersama unsur terkait segera melakukan langkah penanganan darurat. Upaya yang dilakukan meliputi pemantauan lapangan, evakuasi warga terdampak, pendirian posko tanggap darurat, serta distribusi bantuan logistik dan air bersih. Dapur mandiri didirikan di beberapa titik untuk memenuhi kebutuhan konsumsi pengungsi, sementara PDAM turut mendistribusikan puluhan ribu liter air bersih ke wilayah yang terdampak krisis air. Seluruh kegiatan dilakukan secara terpadu bersama TNI/Polri, Basarnas, PMI, relawan, dan perangkat desa.
Selama masa tanggap darurat, tercatat sebanyak 557 jiwa sempat mengungsi di beberapa lokasi aman, seperti masjid, balai desa, dan sekolah. Kelompok rentan yang terdampak meliputi balita, lansia, dan penyandang disabilitas, yang menjadi prioritas dalam proses evakuasi dan pemenuhan kebutuhan dasar. Hingga Senin malam, 16 Februari 2026, seluruh pengungsi telah kembali ke rumah masing-masing setelah air dinyatakan surut total di seluruh wilayah terdampak. Pembersihan lumpur dan sisa material banjir terus dilakukan untuk memulihkan kondisi lingkungan.
Sebagai langkah lanjutan, BPBD merekomendasikan agar laporan dampak banjir diteruskan ke dinas terkait guna percepatan penanganan infrastruktur rusak dan normalisasi sungai. Pemerintah juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana susulan, khususnya longsor dan banjir ulang, mengingat kondisi cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi. Sinergi antarinstansi dan partisipasi aktif masyarakat diharapkan dapat mempercepat proses pemulihan pascabencana. Dengan upaya bersama, pemerintah optimistis kondisi sosial dan ekonomi masyarakat terdampak dapat segera pulih secara bertahap.