Berbekal Sistem Peringatan Dini, Warga Sempusari Kini Lebih Sigap Hadapi Ancaman Banjir hingga DBD
- 11 Juli 2026
- Dibaca 29 Kali
Bagikan Via:
Berbekal Sistem Peringatan Dini, Warga Sempusari Kini Lebih Sigap Hadapi Ancaman Banjir hingga DBD
JEMBER, 11 JULI 2026 – Upaya memperkuat kapasitas masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana di wilayah perkotaan terus digencarkan. Program Desa/Kelurahan Tangguh Bencana (Keltana) di Kelurahan Sempusari, Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember, resmi ditutup pada Sabtu, 11 Juli 2026, setelah berlangsung intensif selama empat hari.
Kegiatan yang difasilitasi oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember berkolaborasi dengan Fasilitator Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Provinsi Jawa Timur ini menjadi langkah nyata dalam menciptakan masyarakat yang siaga dan mandiri.
Pelatihan yang digelar di Kantor Kelurahan Sempusari ini melibatkan perangkat kelurahan, Babinsa, Bhabinkamtibmas, anggota Keltana, mahasiswa magang FKIP Universitas Jember, serta unsur BPBD Kabupaten Jember.
Selama pelatihan, para peserta tidak hanya dijejali teori, tetapi juga diajak terjun langsung memetakan kerawanan wilayahnya. Pada hari kedua, peserta menyusun Rencana Aksi Penanggulangan Bencana yang diadaptasi dari ancaman nyata di Sempusari, mulai dari angin kencang, banjir genangan, hingga potensi Kejadian Luar Biasa (KLB) Demam Berdarah Dengue (DBD). Dari pemetaan ini, lahir rumusan pencegahan, kesiapsiagaan, dan tanggap darurat yang akan menjadi pedoman dokumen rencana kontinjensi kelurahan.
Aspek komunikasi juga menjadi sorotan utama. Pada hari ketiga, Fasilitator FPRB Provinsi Jawa Timur, Thoif Nizar, membekali peserta dengan materi Sistem Peringatan Dini (early warning system). Peserta diajak menyusun mekanisme penyebaran informasi kebencanaan yang cepat, akurat, dan terpercaya guna meredam peredaran hoaks di tengah kepanikan warga. Di saat yang sama, pemenuhan kebutuhan dasar dalam skenario bencana terburuk juga ikut diidentifikasi.
Puncak kegiatan pada hari terakhir ditandai dengan praktik Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD). Peserta dilatih melakukan simulasi penanganan awal pada korban luka bakar dan patah tulang. Tujuannya, warga mampu memberikan pertolongan pertama yang cepat dan aman sebelum tenaga medis tiba di lokasi.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Jember sekaligus Pelaksana Tugas kegiatan, Maryani, S.Kom., M.M., menegaskan bahwa esensi dari Keltana adalah pemberdayaan masyarakat.
"Melalui Keltana, masyarakat diharapkan mampu mengenali risiko di lingkungannya, memiliki sistem peringatan dini yang jelas, serta memperkuat kolaborasi seluruh unsur kelurahan. Dengan begitu, penanganan bencana dapat dilakukan lebih cepat, terarah, dan risiko jatuhnya korban dapat diminimalkan," ujar Maryani.
Rangkaian kegiatan ini ditutup secara resmi oleh Lurah Sempusari, Husein Satria Mahardhika, S.STP., M.M. Penutupan ini sekaligus mengukuhkan Keltana Sempusari sebagai garda terdepan penanggulangan bencana di wilayahnya. Lewat sinergi yang solid antara pemerintah, aparat, relawan, dan warga, Sempusari kini bersiap menjadi kawasan yang tangguh dan tak gentar menghadapi segala potensi bencana. (tgh)