logo ppid jember kim
Oleh : Badan Penanggulangan Bencana Daerah

BPBD Jember Gelar Rakor Tindak Lanjut Keretakan Jalan Gumitir, Penanganan Mendesak Jelang Musim Hujan

  • 08 Oktober 2026
  • Dibaca 21 Kali
Bagikan Via:
bpbd-jember-gelar-rakor-tindak-lanjut-keretakan-jalan-gumitir-penanganan-mendesak-jelang-musim-hujan-20261008

BPBD Jember Gelar Rakor Tindak Lanjut Keretakan Jalan Gumitir, Penanganan Mendesak Jelang Musim Hujan

JEMBER, 08 OKTOBER 2026 – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember menggelar rapat koordinasi tindak lanjut terkait keretakan ruas Jalan Gumitir, tepatnya pada ruas Sumberjati–Batas Banyuwangi KM 230+950 Jalan Banyuwangi–Jember, kawasan Gumitir, Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember, Kamis 08 Oktober 2026.

Rapat yang berlangsung di Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Kabupaten Jember mulai pukul 10.00 hingga 11.30 WIB tersebut dipimpin Kepala BPBD Kabupaten Jember Dr. Drs. Edy Budi Susilo, M.Si.

Kegiatan diikuti sejumlah unsur terkait, di antaranya Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Timur–Bali, Satuan Lalu Lintas Polres Jember, Dinas Perhubungan Kabupaten Jember, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR), Cabang Dinas Kehutanan Jawa Timur Wilayah Jember, Perum Perhutani, Forkopimcam Silo, serta unsur media kebencanaan BPBD Kabupaten Jember.

Rapat tersebut merupakan tindak lanjut atas laporan masyarakat dan relawan kebencanaan serta hasil asesmen BPBD Kabupaten Jember bersama BBPJN Jawa Timur–Bali. Berdasarkan asesmen pada 5 Oktober 2026, ditemukan retakan ringan sepanjang kurang lebih 30 meter pada permukaan aspal.

Retakan tersebut berada di lajur kanan, sekitar 2 hingga 2,5 meter dari tebing dan batas bahu jalan pada arah Jember menuju Banyuwangi.

Dalam pemaparannya, Kepala BPBD Kabupaten Jember Dr. Drs. Edy Budi Susilo, M.Si., menyampaikan hasil survei sekaligus sejumlah langkah yang perlu segera dilakukan untuk meminimalkan risiko.

"Retakan ini perlu mendapat perhatian serius, terlebih kawasan Gumitir akan memasuki musim penghujan. Air hujan yang masuk melalui celah retakan dikhawatirkan dapat mempercepat gerusan dan memengaruhi kondisi badan jalan," ujar Edy.

Menurutnya, kondisi tersebut perlu diantisipasi karena jalur Gumitir juga menjadi salah satu jalur yang dilalui kendaraan dengan tonase berat.

"Karena itu, penanganan tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan koordinasi lintas sektor agar langkah mitigasi dapat dilakukan secara cepat, tepat, dan terukur," katanya.

Dalam rapat tersebut, BBPJN Jawa Timur–Bali menyampaikan bahwa kondisi serupa pernah terjadi beberapa kali di kawasan tersebut. Penanganan sebelumnya dilakukan secara bertahap, antara lain menggunakan sandbag, bronjong, dan bambu.

BBPJN juga menyampaikan bahwa untuk kawasan KM 230 pada 2026 telah disiapkan desain dan rencana pembiayaan penanganan. Namun, pelaksanaannya masih menunggu instruksi lebih lanjut dari balai.

Sementara itu, langkah penanganan awal telah dilakukan. Pada Rabu (7/10/2026), BBPJN melakukan sealing atau penutupan pada permukaan aspal di sekitar titik keretakan. Kemudian, Kamis (8/10/2026), dilakukan penanganan sementara menggunakan sandbag dan geotekstil untuk mengantisipasi potensi dampak air hujan.

BBPJN juga telah memasang banner peringatan sekitar 50 meter dari titik keretakan sebagai upaya meningkatkan kewaspadaan pengguna jalan.

Edy menegaskan, koordinasi lintas sektor menjadi bagian penting dalam menghadapi potensi risiko di kawasan Gumitir, terutama menjelang musim penghujan.

"Kami ingin memastikan seluruh unsur yang memiliki kewenangan dan sumber daya dapat bergerak bersama. Penanganan jangka pendek harus segera dilakukan, sementara rencana jangka panjang juga harus dipersiapkan agar persoalan ini tidak terus berulang," tegasnya.

BBPJN Jawa Timur–Bali menyampaikan bahwa penanganan jangka panjang telah dipersiapkan dan akan dikonfirmasi lebih lanjut. BBPJN juga membutuhkan dukungan terkait kelengkapan surat dan administrasi yang diperlukan dalam pelaksanaan penanganan.

Selain kondisi jalan, rapat juga membahas potensi peningkatan volume kendaraan di kawasan Gumitir. Hal ini menyusul proses perbaikan Jembatan Pajarahan yang berpotensi menyebabkan sebagian kendaraan menuju Jember menggunakan jalur Gumitir.

Dari sisi pengelolaan kawasan, Perum Perhutani menyampaikan bahwa lokasi keretakan berada di kawasan hutan lindung. Oleh karena itu, setiap tindakan terhadap vegetasi harus memperhatikan ketentuan dan kewenangan yang berlaku.

Perhutani menyatakan siap bersinergi dalam upaya mitigasi dan pengurangan dampak yang mungkin terjadi di kawasan tersebut.

Dinas Perhubungan Kabupaten Jember juga menyatakan kesiapan mendukung penanganan. Dishub memiliki alat timbang portabel yang dapat digunakan untuk memantau tonase kendaraan serta siap menyediakan sky lift untuk mendukung kegiatan perempesan vegetasi sesuai kebutuhan di lapangan.

Dari unsur kepolisian, Satuan Lalu Lintas Polres Jember menyatakan siap mendukung langkah penanganan di lokasi. Satlantas menilai penanganan perlu segera ditindaklanjuti mengingat kejadian serupa pada 2025 memberikan dampak cukup besar.

Selain itu, memasuki akhir tahun, terdapat potensi peningkatan volume kendaraan yang melintas di jalur Gumitir. Karena itu, informasi dan peringatan kepada masyarakat dinilai perlu terus ditingkatkan.

Untuk penanganan jangka pendek, rapat menyepakati kegiatan perempesan vegetasi di sekitar lokasi dilaksanakan pada Sabtu 10 Oktober 2026, mulai pukul 08.00 WIB. Titik kumpul berada di kawasan Gumitir KM 230.

Kegiatan tersebut akan melibatkan sejumlah unsur, antara lain Dinas Perhubungan, DPUPR, Perum Perhutani, BPBD, Muspika setempat, BBPJN, Satlantas Polres Jember, serta Cabang Dinas Kehutanan.

Selain perempesan vegetasi, penanganan sementara dilakukan melalui pemasangan sandbag dan geotekstil serta sealing pada permukaan aspal.

Untuk penanganan jangka panjang, disiapkan rencana penanganan teknis oleh BBPJN, reboisasi atau penghijauan pada area yang memungkinkan, penguatan pembatas di tepi lereng, pemantauan tonase kendaraan, serta koordinasi terkait kemungkinan pemasangan CCTV sebagai sarana pemantauan kendaraan yang berpotensi membawa muatan berlebih.

Rapat koordinasi tersebut ditutup dengan komitmen bersama seluruh unsur untuk memperkuat koordinasi, kolaborasi, dan kesiapsiagaan dalam rangka mitigasi potensi bencana maupun kerusakan jalan di kawasan Gumitir.

Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan keselamatan pengguna jalan sekaligus meminimalkan risiko yang dapat terjadi, terutama menjelang musim penghujan dan potensi peningkatan arus kendaraan di jalur Jember–Banyuwangi. (tgh)

Galeri Foto