BPBD Jember Salurkan 5.000 Liter Air Bersih untuk 85 KK Terdampak Kekeringan di Silo
- 18 Agustus 2026
- Dibaca 42 Kali
Bagikan Via:
BPBD Jember Salurkan 5.000 Liter Air Bersih untuk 85 KK Terdampak Kekeringan di Silo
JEMBER, 18 AGUSTUS 2026 – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember kembali melakukan penanganan dampak kekeringan dengan menyalurkan bantuan air bersih kepada masyarakat di Dusun Baban Timur, RT 01 dan RT 02 RW 07, Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo, Senin 17 Agustus 2026.
Dalam kegiatan distribusi air bersih ke-8 tersebut, BPBD Kabupaten Jember menyalurkan sebanyak 5.000 liter air bersih ke sejumlah tandon yang telah disiapkan untuk memenuhi kebutuhan warga terdampak. Sedikitnya 85 kepala keluarga (KK) di wilayah tersebut mengalami kesulitan memperoleh air bersih akibat dampak musim kemarau.
Berdasarkan hasil asesmen Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Jember pada 1 Agustus 2026, kekeringan di Dusun Baban Timur telah berlangsung sejak Juli 2026. Kondisi tersebut menyebabkan warga kesulitan mendapatkan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Keterbatasan sumber air semakin dirasakan karena di RW 07 Dusun Baban Timur belum tersedia jaringan pipanisasi. Selama ini, masyarakat mengandalkan sumur sebagai sumber air utama. Namun, sumur-sumur warga dengan kedalaman sekitar 15 meter kini mengalami kekeringan dan tidak lagi menghasilkan air.
Dalam kondisi tersebut, warga bahkan harus menempuh jarak sekitar tiga kilometer menuju sungai terdekat untuk mendapatkan air. Situasi ini membuat distribusi air bersih menjadi langkah penting untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat selama musim kemarau berlangsung.
Sebanyak 85 KK yang terdampak terdiri atas 45 KK di RT 01 RW 07 dan 40 KK di RT 02 RW 07. Bantuan air kemudian disalurkan ke lima titik tandon yang berada di sekitar permukiman warga agar distribusi dapat menjangkau masyarakat secara lebih merata.
Pelaksanaan kegiatan dimulai pada pukul 11.00 WIB ketika tim BPBD menuju lokasi. Tim tiba di lokasi sekitar pukul 13.30 WIB dan langsung melakukan distribusi air bersih ke tandon yang telah disediakan BPBD serta warga terdampak. Petugas juga memberikan imbauan kepada masyarakat terkait pemanfaatan air bersih secara bijak selama kondisi kekeringan.
Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Jember, Firman Arifianto, mengatakan distribusi air bersih dilakukan sebagai bentuk respons pemerintah daerah terhadap kebutuhan masyarakat yang terdampak kekeringan.
“Kondisi sumber air warga saat ini memang mengalami kekeringan. Karena itu, distribusi air bersih menjadi salah satu langkah penanganan yang dilakukan untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Kami berharap bantuan ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh warga,” ujar Arif.
Ia menambahkan, penanganan kekeringan tidak hanya dilakukan melalui distribusi bantuan air, tetapi juga membutuhkan pemantauan kondisi di lapangan secara berkelanjutan.
“Kami terus memantau perkembangan kondisi di wilayah terdampak. Untuk sementara, distribusi air bersih akan dilakukan secara berkala sesuai kebutuhan masyarakat dan hasil pemantauan petugas di lapangan,” tambahnya.
Dalam kegiatan tersebut, BPBD Kabupaten Jember menyediakan empat tandon berkapasitas 1.200 liter dan satu tandon lama berkapasitas 2.200 liter. Keberadaan tandon tersebut diharapkan dapat membantu proses penampungan sekaligus mempermudah akses masyarakat terhadap bantuan air bersih.
Berdasarkan hasil penanganan, BPBD Kabupaten Jember merekomendasikan agar distribusi air bersih ke wilayah terdampak dilakukan setiap dua hari sekali dengan kapasitas 5.000 liter. Frekuensi tersebut dapat disesuaikan dengan perkembangan kebutuhan warga dan kondisi sumber air setempat.
Kegiatan distribusi melibatkan BPBD Kabupaten Jember bersama kepala dusun, RT/RW, serta masyarakat. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dengan aman, lancar, dan kondusif tanpa kendala berarti.
Penanganan kekeringan di Dusun Baban Timur menjadi bagian dari upaya berkelanjutan BPBD Kabupaten Jember dalam memastikan masyarakat tetap memperoleh akses terhadap air bersih. Di tengah kondisi musim kemarau, koordinasi antara pemerintah daerah, perangkat desa, dan masyarakat menjadi kunci untuk menjaga pemenuhan kebutuhan dasar sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi dampak kekeringan. (bob)