logo ppid jember kim
Oleh : Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan

BRIN Gali Kondisi Cabai Jember untuk Penyusunan Strategi Substitusi Impor

  • 02 September 2026
  • Dibaca 39 Kali
Bagikan Via:
brin-gali-kondisi-cabai-jember-untuk-penyusunan-strategi-substitusi-impor-20260903

BRIN Gali Kondisi Cabai Jember untuk Penyusunan Strategi Substitusi Impor

JEMBER, 02 SEPTEMBER 2026 - Upaya memenuhi kebutuhan cabai dalam negeri tidak cukup hanya dengan memastikan produksi tersedia. Bagaimana hasil panen dipertahankan nilainya, diolah, hingga terserap pasar juga menjadi bagian penting yang perlu diperhitungkan.

Hal tersebut menjadi salah satu perhatian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) saat melakukan survei lapangan di Kabupaten Jember, Selasa, 01 September 2026. Survei dilakukan oleh Pelaksana Fungsi Kebijakan Bidang Pangan dan Pertanian, Deputi Bidang Kebijakan Pembangunan, BRIN, yang terdiri atas Drs. Tupan, Rahmat Hidayat, S.E., dan Harris Taruna Nugroho, S.T., sebagai bagian dari penyusunan naskah kebijakan strategi pemenuhan kebutuhan cabai melalui substitusi impor.

BRIN melihat langsung kondisi cabai di bangsal pascapanen milik Kelompok Tani Margo Makmur 1, Desa Andongsari, Kecamatan Ambulu. Dari lapangan, produksi cabai dinilai sudah berjalan dengan baik. Tantangan justru muncul setelah panen, terutama ketika produksi melimpah dan harga di tingkat petani mengalami penurunan.

“Yang paling penting itu sebenarnya penguatan pascapanen dulu. Kalau pascapanennya bisa diselesaikan, pemasaran juga bisa diperbaiki, termasuk bagaimana menjaga harga dan distribusinya,” ujar Tupan, salah satu perwakilan BRIN.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan cabai tidak hanya berkaitan dengan peningkatan produksi. Pengolahan menjadi cabai kering, bubuk cabai, sambal, hingga minyak cabai dapat menjadi pilihan untuk menjaga nilai hasil panen ketika harga cabai segar sedang rendah.

Kondisi itu juga terlihat pada Kelompok Wanita Tani (KWT) Larasati yang berada di bawah Kelompok Tani Margo Makmur. Kelompok tersebut telah mengolah cabai menjadi sejumlah produk, termasuk sambal kemasan dan minyak cabai. Namun, kemampuan produksi masih perlu diikuti dengan penguatan pemasaran agar produk dapat terus berkembang.

Kepala Bidang Hortikultura Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Jember, Agung Satrio Setiawan, S.P., M.P., mengatakan persoalan utama saat ini bukan semata-mata kemampuan menghasilkan cabai, tetapi bagaimana petani memperoleh nilai yang layak dari hasil usahanya.

“Produksi sebenarnya tidak perlu kita khawatirkan. Produktivitas sudah bagus, lahannya juga ada. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana petani mendapatkan hasil maksimal dari apa yang sudah mereka tanam dan kerjakan,” katanya.

Dalam survei tersebut, BRIN turut menghimpun masukan dari Dinas TPHP melalui Bidang Hortikultura serta Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, dan Perdagangan Kabupaten Jember. Keterlibatan lintas sektor ini diharapkan memberi gambaran lebih utuh, mulai dari produksi, pascapanen, pengolahan, hingga akses pasar.

Berbagai temuan tersebut selanjutnya menjadi bahan bagi BRIN dalam merumuskan rekomendasi kebijakan. Harapannya, cabai lokal tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga memiliki kualitas dan daya saing yang cukup untuk mengurangi ketergantungan terhadap produk impor. (fan)

Galeri Foto