Cegah Banjir Berulang, Warga Bersatu Bersihkan 'Hantu Bambu' dari Hulu Antirogo
- 20 Desember 2025
- Dibaca 389 Kali
Bagikan Via:
Cegah Banjir Berulang, Warga Bersatu Bersihkan 'Hantu Bambu' dari Hulu Antirogo
JEMBER, PPID - Di bawah lengkung jembatan Jalan Sumatra yang megah, sungai yang biasanya mengalir tenang kini berubah menjadi medan perang melawan 'serbuan' bambu. Ratusan potongan bambu gelondongan, hanyut dibawa arus banjir besar pada 15 Desember 2025, kini menumpuk seperti benteng alam yang mengerikan. Sungai Antirogo dan Bedadung bertemu di sini, di wilayah Kelurahan Sumbersari, Kabupaten Jember, Jawa Timur.
Sabtu pagi (20/12/2025), matahari baru saja menyingsing, tapi puluhan warga sudah berjibaku. Air keruh berwarna cokelat kehitaman mengamuk pelan, seolah menolak disentuh. Bambu-bambu itu bukan sekadar sampah, mereka adalah 'hantu' dari hulu yang siap menjadikan kota Jember banjir bandang untuk kesekian kalinya.
Bayangkan, banjir datang seperti monster haus darah. Hujan deras selama berhari-hari membengkakkan Sungai Antirogo di hulu, menyapu segala yang ada di tepiannya. Potongan bambu dari perkebunan ilegal atau proyek pembangunan yang ceroboh, terbawa arus ribuan meter. Kini, mereka menutup aliran sungai di bawah jembatan, menghalangi debit air normal. "Ini seperti mimpi buruk," kata Bapak Suroso, warga setempat berusia 55 tahun, sambil menyeka keringat. Tangan kasarnya memegang parang, memotong bambu yang saling terkait seperti jaring laba-laba raksasa. "Kalau dibiarkan, banjir berikutnya bisa lebih parah. Rumah kami di tepi sungai ini bisa hilang ditelan air," katanya.
Aksi bersih-bersih ini bukan kebetulan. Kemarin, Jumat (19/12/2025), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember menggelar rapat koordinasi mendesak di Ruang Pusdalops. Dipimpin Indra Tri Purnomo, S.STP, M.Si, rapat itu dihadiri kepala dinas-dinas kunci antara lain Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUBMSDA), Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Cipta Karya (PRKP & CK), Sosial, Kesehatan, Perhubungan, Lingkungan Hidup, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (PPPAKB), Komunikasi dan Informatika (Kominfo). Tak ketinggalan, Direktur Perumdam Tirta Pandalungan, Kepala PLN UP3 Jember, UPT Pemadam Kebakaran, Ketua PMI, Plt. Camat Sumbersari, dan Lurah Sumbersari Bhatara Pragusta, ST.
Surat undangan nomor 005/3061/416/2025 tertanggal 18 Desember itu menekankan percepatan penanganan banjir. "Kami harus bertindak cepat," ujar salah satu peserta rapat. "Banjir bukan hanya air, tapi juga sampah seperti bambu yang memperburuk pencemaran." Hasil rapat, tim gabungan dikerahkan hari ini. Truk pengangkut sampah dari Dinas Lingkungan Hidup datang pagi-pagi, dibantu alat berat dari PUBMSDA. Warga, relawan PMI, dan petugas kesehatan bergotong royong. Masker dan sarung tangan dibagikan, mengingat air sungai tercemar, berisiko penyakit.
Dramatisnya, foto-foto dari lokasi menunjukkan betapa mencekam situasi. Bambu menumpuk setinggi 2 meter, menyumbat gorong-gorong jembatan hingga menyebabkan air meluap ke jalan. Seorang relawan muda tergelincir saat mengangkat sampah bambu, hampir terseret arus, tapi untungnya diselamatkan rekan-rekannya. "Ini perjuangan hidup mati," cerita seorang ibu memakai seragam Destana yang ikut serta.
Sungai Antirogo sering jadi korban limbah dari hulu, termasuk bambu dari penebangan tak terkendali. Banjir 15 Desember lalu, yang merendam ratusan rumah di Kabupaten Jember jadi puncaknya. Data BPBD debit air saat itu diperkirakan naik 300 persen, banjir setinggi 1,5 meter.
Saat ini, pembersihan sungai Antirogo dikebut, ditargetkan selesai sore hari, tapi tantangan besar, bambu basah berat, sulit diangkat. "Kami butuh dukungan lebih," kata Lurah Bhatara Pragusta, ST. "Masyarakat harus sadar, jangan buang sampah sembarangan." Aksi bersih-bersih ini dinilai banyak pihak sebagai simbol harapan.
Di tengah keringat dan lumpur, senyum warga muncul saat bambu pertama berhasil diangkut. Sungai mulai bernapas lagi. Tapi pertanyaan besar, akankah banjir berikutnya datang lagi? Pemerintah berjanji menindak tegas para pembalak dan pembuang sampah sembarangan, pencegahan di hulu, penegakan hukum terhadap penebangan ilegal. Jember butuh lebih dari sekadar bersih-bersih, tapi juga butuh komitmen jangka panjang.
Hingga berita ini diturunkan, pembersihan berlanjut. Air sungai pelan-pelan mengalir bebas. Bersih-bersih sungai dari gelondongan batang bambu dan kayu meninggalkan pelajaran, alam tak bisa dilawan, tapi bisa dijaga.