Dari Egrang, Anak Belajar Budaya Perempuan Menguatkan Komunitas
- 08 Agustus 2026
- Dibaca 11 Kali
Bagikan Via:
Dari Egrang, Anak Belajar Budaya Perempuan Menguatkan Komunitas
JEMBER, 08 AGUSTUS 2026 – Festival Egrang XIV Tanoker Ledokombo 2026 tidak sekadar menghadirkan permainan tradisional sebagai tontonan masyarakat. Di balik kemeriahannya, egrang menjadi ruang pertemuan anak-anak, keluarga, perempuan, dan komunitas untuk memperkuat pelestarian budaya sekaligus membangun lingkungan sosial yang positif.
Festival yang menjadi bagian dari rangkaian kunjungan kerja Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Republik Indonesia tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan upaya mendukung tumbuh kembang anak dan memperkuat peran perempuan di tengah masyarakat.
Bagi anak-anak, egrang bukan sekadar permainan. Mereka menjadi peserta sekaligus bagian dari generasi yang ikut menjaga keberadaan permainan tradisional. Melalui permainan tersebut, anak belajar keberanian, keseimbangan, konsentrasi, dan kerja sama, sekaligus mengenal budaya yang tumbuh di lingkungan mereka.
Hal ini menjadi semakin penting di tengah perubahan pola bermain anak yang semakin dekat dengan teknologi. Kehadiran permainan tradisional memberikan ruang bagi anak untuk berinteraksi secara langsung dengan teman sebaya dan lingkungan sosialnya.
Di sisi lain, keluarga memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan budaya tersebut. Dalam konteks ini, perempuan dapat menjadi salah satu penggerak utama, baik sebagai pendamping anak maupun sebagai bagian aktif dari komunitas.
Pemberdayaan perempuan tidak selalu harus diwujudkan dalam kegiatan ekonomi. Keterlibatan perempuan dalam komunitas juga memiliki dampak besar, mulai dari membangun jejaring sosial, menggerakkan kegiatan masyarakat, mendampingi anak, hingga menjaga nilai-nilai positif di lingkungan keluarga.
Camat Sumberjambe Djoni Nurtjahjono, S.H., M.Si. menilai kegiatan budaya seperti Festival Egrang memiliki manfaat yang lebih luas karena dapat mempertemukan anak, keluarga, dan masyarakat dalam kegiatan positif.
“Festival seperti ini bagus karena anak-anak tidak hanya bermain, tetapi juga belajar mengenal budaya. Di sisi lain, keluarga dan masyarakat ikut terlibat. Kalau kegiatan seperti ini terus dijaga, budaya lokal bisa tetap hidup sekaligus menjadi ruang yang baik bagi anak-anak untuk tumbuh,” ujar Djoni.
Menurutnya, keterlibatan perempuan juga menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan yang mendukung anak. Perempuan yang aktif dalam keluarga dan komunitas dapat menjadi penggerak berbagai kegiatan positif di masyarakat.
Semangat tersebut sejalan dengan arah pembangunan Pemerintah Kabupaten Jember di bawah kepemimpinan Bupati Jember Dr. Muhammad Fawait, S.E., M.Sc., yang mendorong penguatan masyarakat melalui berbagai sektor, termasuk pemberdayaan, pendidikan, kebudayaan, serta perhatian terhadap perempuan dan anak.
Festival Egrang juga memperlihatkan bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan melalui cara yang dekat dengan kehidupan anak. Mereka tidak hanya mendengar cerita mengenai tradisi, tetapi mengalami langsung, memainkan, dan berinteraksi dengan budaya tersebut.
Ketika anak bermain egrang bersama teman-temannya, tumbuh kemampuan untuk bekerja sama dan membangun kepercayaan diri. Ketika orang tua mendampingi, tercipta ruang komunikasi antara anak dan keluarga. Sementara ketika masyarakat ikut terlibat, terbentuk lingkungan sosial yang lebih hidup.
Di sinilah festival memiliki dampak yang lebih panjang dari sekadar kemeriahan acara. Pengalaman yang diperoleh anak dan keluarga dapat dibawa kembali ke lingkungan masing-masing, sehingga nilai kebersamaan dan kecintaan terhadap budaya terus berkembang.
Perempuan sebagai penggerak keluarga dan komunitas juga memiliki posisi strategis dalam menjaga keberlanjutan tersebut. Dengan adanya ruang partisipasi, perempuan dapat ikut memastikan kegiatan budaya dan sosial tetap dekat dengan kebutuhan keluarga serta perkembangan anak.
Festival Egrang XIV Tanoker akhirnya membawa pesan bahwa pelestarian budaya, pemberdayaan perempuan, dan perlindungan anak dapat berjalan dalam satu ruang yang sama. Egrang menjadi media sederhana yang mempertemukan generasi, menghidupkan komunitas, dan memperkenalkan kembali nilai budaya kepada anak-anak.
Dari Ledokombo, permainan tradisional tersebut tidak hanya menjadi bagian dari festival, tetapi juga menjadi simbol bahwa budaya akan tetap hidup ketika generasi muda diberi kesempatan untuk mengenal dan meneruskannya, dengan keluarga dan masyarakat sebagai lingkungan pendukungnya. (wd)