logo ppid jember kim
Oleh : Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak

Gayeng! IHT di SDN Sidomulyo 05 Silo Jadi Ruang Berbagi Guru Atasi Perundungan dan Kekerasan pada Anak

  • 15 Oktober 2026
  • Dibaca 23 Kali
Bagikan Via:
gayeng-iht-di-sdn-sidomulyo-05-silo-jadi-ruang-berbagi-guru-atasi-perundungan-dan-kekerasan-pada-anak-20261015

Gayeng! IHT di SDN Sidomulyo 05 Silo Jadi Ruang Berbagi Guru Atasi Perundungan dan Kekerasan pada Anak

JEMBER, 15 OKTOBER 2026 – Suasana In House Training (IHT) bertema "Peningkatan Kompetensi Guru dalam Memahami Perundungan, Kekerasan, dan Kekerasan Seksual di Lingkungan Satuan Pendidikan" berlangsung gayeng. Hampir semua peserta antusias membagikan pengalaman dan persoalan yang mereka hadapi di kelas. Kegiatan itu digelar Rabu, 14 Oktober 2026 di Aula SDN Sidomulyo 05, Kecamatan Silo.

Diskusi yang hidup tersebut mengiringi pemaparan materi dari Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA) Jember. Para guru tidak hanya menyimak, tetapi juga saling bertukar cara menghadapi perilaku siswa sehari-hari.

Dalam paparannya, pemateri dari Dinsos PPPA Jember, Mauvirotul Arifah, S.H., mengawali dengan menjelaskan prinsip umum Konvensi Hak Anak. Prinsip itu meliputi non-diskriminasi, yakni anak memiliki hak yang sama tanpa membedakan kondisi. Berikutnya kepentingan terbaik bagi anak, yang mengutamakan keselamatan, kebutuhan, hak, dan perkembangan terbaik anak.

Selanjutnya, prinsip ketiga adalah hak hidup, kelangsungan hidup, dan berkembang, yaitu hak anak untuk hidup, tumbuh, belajar, dan bermain. Prinsip keempat adalah menghargai pandangan anak, sehingga anak berhak menyampaikan pendapat, didengar, dan dipertimbangkan.

Peserta turut dibekali pemahaman tentang unsur perundungan. Pertama, ada tindakan yang merugikan. Kedua, terdapat ketimpangan kekuatan. Ketiga, terjadi berulang atau berpola. Keempat, menimbulkan rasa takut atau tertekan pada korban.

Mauvirotul Arifah menekankan pentingnya guru menjadi pendengar yang baik ketika anak bercerita. Menurutnya, guru kerap terburu-buru menyimpulkan.

"Begitu anak cerita, kita sudah menyimpulkan, oh ini karena kamu seperti ini jadinya seperti ini. Jadi kita menyimpulkan perilaku anak, padahal anak masih belum bercerita sepenuhnya. Nah, itu kurang tepat ya, Bapak Ibu. Kita harus dengarkan hingga selesai, atau kita perlu gali lebih dalam lagi, misalnya, kok bisa seperti ini, terus ini bagaimana kelanjutannya," ujarnya.

Dari sisi pilihan bahasa, Pengawas Sekolah Kecamatan Silo, Atika Sari, mengingatkan agar guru menghindari kata-kata bermakna negatif. Ia mencontohkan frasa "sekolah bebas bullying" yang sebaiknya diganti dengan "sekolah ramah anak". "Ini juga akan berdampak pada cara respons otak bawah sadar anak didik," katanya.

Suasana semakin cair saat peserta berbagi praktik baik. Salah satunya Nisa, yang menceritakan cara menangani siswa yang mudah emosi. Ia meminta anak tersebut berhitung dari satu sampai dua puluh ketika emosinya naik guna meredakan amarah. Bila berhasil, anak diberi hadiah (reward) sebagai bentuk apresiasi. (rou)

Galeri Foto