Hampir Setiap Hari Padamkan Api, BPBD Jember Catat 76 Kejadian Karhutla
- 24 September 2026
- Dibaca 145 Kali
Bagikan Via:
Hampir Setiap Hari Padamkan Api, BPBD Jember Catat 76 Kejadian Karhutla
JEMBER – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember mencatat sebanyak 76 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di wilayah Kabupaten Jember sejak awal Juni hingga 24 September 2026. Dari jumlah tersebut, sebanyak 10 kejadian merupakan kebakaran hutan, sedangkan 66 lainnya merupakan kebakaran lahan.
Kepala BPBD Kabupaten Jember, Dr. Drs. Edy Budi Susilo, M.Si., mengatakan bahwa kejadian kebakaran hutan dan lahan mengalami peningkatan intensitas terutama memasuki Agustus hingga September 2026. Kondisi tersebut membuat petugas dan unsur terkait harus melakukan penanganan hampir setiap hari terhadap titik-titik api yang muncul di sejumlah wilayah.
“Dari data Pusdalops BPBD Kabupaten Jember mulai dari awal bulan Juni sampai dengan hari ini tanggal 24 September, sudah terjadi 76 kejadian kebakaran hutan dan lahan. 10 adalah kebakaran hutan dan 66 kebakaran lahan,” ujar Kepala BPBD Kabupaten Jember.
Menurutnya, peningkatan kejadian tersebut terlihat cukup signifikan dalam dua bulan terakhir. Tim penanganan bencana harus bergerak untuk melakukan pemadaman ketika laporan mengenai titik api diterima oleh Pusdalops BPBD Kabupaten Jember.
“Sejak bulan Agustus, intensitas kebakaran lahan dan hutan semakin meningkat. Memasuki September, kondisinya semakin luar biasa, hampir setiap hari kami melaksanakan kegiatan pemadaman titik api baik di lahan maupun kawasan hutan,” katanya.
Edy Budi Susilo menjelaskan, penyebab kebakaran hingga saat ini belum seluruhnya dapat dipastikan. Hal tersebut disebabkan sebagian besar laporan yang diterima petugas berasal dari masyarakat setelah api sudah muncul dan membesar. Dengan kondisi tersebut, petugas di lapangan masih melakukan identifikasi untuk mengetahui sumber awal api.
Beberapa dugaan penyebab yang ditemukan antara lain pembakaran sisa lahan tebu, pembakaran semak belukar, serta kebakaran pada kawasan yang terdapat barongan bambu. Selain itu, di kawasan hutan, khususnya wilayah pegunungan Puger Wetan, terdapat dugaan kebakaran yang berkaitan dengan aktivitas masyarakat, termasuk pemancing yang diduga membuang puntung rokok.
“Memang Sejauh ini memang cukup sulit untuk mengidentifikasi penyebab kebakaran, karena laporan dari masyarakat biasanya masuk setelah kejadian berlangsung. Sehingga hanya dugaan-dugaan saja,” jelas Edy Budi Susilo.
Ia menambahkan, BPBD belum dapat memastikan pihak yang bertanggung jawab atas setiap kejadian sebelum terdapat hasil identifikasi atau informasi yang dapat membuktikannya. Karena itu, penanganan kebakaran lebih difokuskan terlebih dahulu pada upaya pemadaman dan pencegahan agar api tidak meluas.
Dalam penanganan kejadian karhutla, BPBD Kabupaten Jember tidak bekerja sendiri. Pemadaman melibatkan tim gabungan dari berbagai unsur, mulai dari BPBD, Relawan, TNI, Polri hingga petugas pemadam kebakaran (Damkar). Kolaborasi tersebut diperlukan karena karakter kebakaran lahan dan hutan memiliki potensi penyebaran yang cepat, terutama ketika terjadi pada kondisi lahan kering.
“Saat ini kami belum dapat memastikan siapa pelaku yang dengan sengaja membuang puntung rokok maupun yang membakar lahan hingga tidak terkendali. Kondisi tersebut akhirnya membutuhkan penanganan bersama oleh tim gabungan, mulai dari BPBD, Relawan, TNI, Polri, hingga Damkar, yang bergerak bersama untuk memadamkan api di lokasi.,” tutur Edy Budi Susilo.
Tingginya kejadian kebakaran selama Agustus hingga September menjadi perhatian karena sebagian kebakaran terjadi pada area terbuka yang memiliki material mudah terbakar. Kondisi tersebut membutuhkan respons cepat agar api tidak menjalar ke area yang lebih luas maupun mendekati permukiman dan kawasan lainnya.
BPBD Kabupaten Jember mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, terutama ketika melakukan aktivitas yang berkaitan dengan api di lahan terbuka. Masyarakat juga diharapkan tidak meninggalkan api dalam kondisi masih menyala maupun membuang puntung rokok sembarangan di kawasan yang memiliki vegetasi kering.
Data 76 kejadian tersebut menunjukkan bahwa kebakaran hutan dan lahan masih menjadi salah satu ancaman yang perlu diantisipasi bersama. Selain mengandalkan respons petugas ketika kebakaran terjadi, upaya pencegahan melalui kesadaran masyarakat menjadi bagian penting untuk menekan potensi munculnya titik api baru di wilayah Kabupaten Jember. (tgh)