logo ppid jember kim
Oleh : Kecamatan Ajung

KECAMATAN AJUNG GELAR PENGUATAN KAPASITAS TIM PENDAMPING KELUARGA 2025

  • 14 Oktober 2025
  • Dibaca 356 Kali
Bagikan Via:
kecamatan-ajung-gelar-penguatan-kapasitas-tim-pendamping-keluarga-2025-20251014

KECAMATAN AJUNG GELAR PENGUATAN KAPASITAS TIM PENDAMPING KELUARGA 2025

JEMBER – Selasa, 14 Oktober 2025 — Pemerintah Kecamatan Ajung terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung program nasional percepatan penurunan stunting. Hal itu dibuktikan dengan terselenggaranya Kegiatan Penguatan Kapasitas Tim Pendamping Keluarga (TPK) Tahun 2025, yang digelar di Pendopo Kecamatan Ajung pada pukul 09.00 WIB hingga selesai.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi forum koordinasi, melainkan juga wadah konsolidasi emosional dan teknis antara berbagai unsur pelaksana program di tingkat kecamatan dan desa. Seluruh peserta hadir dengan semangat tinggi, menunjukkan kepedulian terhadap persoalan keluarga, kesehatan ibu dan anak, serta masa depan generasi Ajung.

Acara dihadiri oleh tokoh-tokoh penting dari berbagai sektor:

- Camat Ajung, Bapak M. Sifak Beni Kurniawan, S.STP, M.M

- TP PKK Kecamatan Ajung, Ibu Luvita Sifak, S.Pd

- DP3AKB Kabupaten Jember, Ibu Feronika Kurniawati, S.Kep., Ns

- DP3AKB Kecamatan Ajung, Ibu Siti Rohmatun, S.Th.I

- Kasi PMKS, Bapak M. Hadi Santoso, S.Pd

- TP PKK Desa se-Kecamatan Ajung

- Sekretaris Desa (Sekdes) se-Kecamatan Ajung.

- Seluruh Bidan Desa.

Kehadiran unsur pemerintah, kesehatan, dan pemberdayaan keluarga dalam satu forum menjadi representasi nyata dari semangat “Tiga Pilar Bersatu”.

Camat Ajung Tekankan Pentingnya Satu Data dan Satu Suara.

Dalam sambutannya, Camat Ajung M. Sifak Beni Kurniawan menyampaikan rasa syukur dan apresiasi kepada seluruh peserta.

“Terima kasih, kita bisa bertatap muka dalam forum penting ini. Di Ajung, kita ingin memperkuat kerja tim pendamping keluarga agar lebih solid. Yang paling memahami kondisi lapangan bukan kami para pejabat di belakang meja, tetapi para kader yang setiap hari turun langsung ke rumah-rumah warga,” ujarnya.

Beliau menegaskan bahwa kader TPK adalah ujung tombak, karena merekalah yang paling mengetahui:

- Di mana ibu hamil risiko tinggi (Resti).

- Siapa balita yang pertumbuhannya kurang ideal

- Keluarga mana yang rawan pernikahan dini atau termasuk kategori 4T (terlalu muda melahirkan, terlalu tua hamil, terlalu dekat jarak kehamilan, terlalu sering melahirkan)

Lebih lanjut beliau menekankan pentingnya komunikasi terpadu antara tiga unsur, yaitu:

Kader ,TPK, danTenaga Kesehatan (khususnya Bidan Desa)

“Jika tiap unsur bekerja sendiri-sendiri, data akan berbeda, laporan menjadi simpang siur, dan evaluasi tidak bisa dilakukan. Maka mulai sekarang, kita harus satu suara, satu data, agar satu tujuan tercapai,” tegasnya.

DP3AKB Kabupaten Jember: “Penurunan Stunting Tidak Bisa Dikerjakan Sendiri”.

Selanjutnya, perwakilan dari DP3AKB Kabupaten Jember, Ibu Feronika Kurniawati, memberikan sambutan dan pembekalan.

Ia menegaskan bahwa pencegahan stunting bukan hanya soal angka statistik pemerintah, tetapi menyangkut masa depan generasi bangsa.

“Kadang orang berpikir bahwa stunting itu hanya tentang anak pendek. Padahal lebih dari itu, stunting menyangkut kemampuan otak, perilaku, dan kualitas hidup anak di masa depan. Kalau generasi kita lemah, negara juga akan lemah,” jelasnya.

Ia menekankan pentingnya sinergi cantik antara tiga unsur:

- PKK — sebagai unsur edukasi dan gerakan sosial

Tenaga Kesehatan — sebagai unsur teknis dan validasi kesehatan

- TPK — sebagai unsur pendamping langsung yang menyentuh masyarakat.

“Tim ini tidak bisa jalan sendiri. Harus saling menguatkan. TPK tidak boleh merasa lebih rendah dari bidan, bidan tidak boleh merasa lebih tinggi dari kader. Semua satu tubuh, satu sistem,” pesannya.

Setelah sambutan, acara berlanjut dengan forum diskusi interaktif. Beberapa kader TPK menyampaikan kendala lapangan, seperti: Ibu-ibu hamil yang enggan periksa karena takut biaya, padahal sudah ada program UHC (berobat gratis cukup pakai KTP).

Keluarga yang menikahkan anak di usia 16-17 tahun, karena alasan budaya atau ekonomi, Kesulitan menyamakan data antara posyandu dengan sistem aplikasi ePPGBM.

Semua masukan tersebut ditanggapi langsung.

Galeri Foto