logo ppid jember kim
Oleh : Kelurahan Gebang

Kolaborasi Cepat Kelurahan Gebang-Puskeswan Rambipuji: Investigasi Kematian Massal Ternak, Upaya Pencegahan Heatstroke Digencarkan

  • 24 Oktober 2025
  • Dibaca 286 Kali
Bagikan Via:
kolaborasi-cepat-kelurahan-gebang-puskeswan-rambipuji-investigasi-kematian-massal-ternak-upaya-pencegahan-heatstroke-digencarkan-20251024

Kolaborasi Cepat Kelurahan Gebang-Puskeswan Rambipuji: Investigasi Kematian Massal Ternak, Upaya Pencegahan Heatstroke Digencarkan

Jember, 23 Oktober 2025 – Kelurahan Gebang, Kecamatan Patrang, Jember, saat ini tengah menghadapi kasus kematian mendadak yang menimpa populasi ternak domba milik warga di wilayahnya. Kejadian ini menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan peternak, mengingat jumlah domba yang mati mencapai angka signifikan dalam waktu singkat. Laporan awal mengenai insiden ini datang dari warga Rukun Warga (RW) 007 Kelurahan Gebang, yang melaporkan adanya domba-domba mereka yang tiba-tiba tumbang tanpa menunjukkan gejala sakit yang jelas sebelumnya. Merespons cepat laporan tersebut, pihak Kelurahan Gebang segera mengambil langkah koordinatif untuk mengidentifikasi penyebab dan mencegah meluasnya kerugian.

 

Lurah Gebang, Bapak Nanang Suwono, S.Sos., menunjukkan respons tanggap yang patut diacungi jempol. Begitu menerima laporan dari Ketua RW 007, ia tidak menunda untuk segera berkoordinasi dengan instansi terkait. Pilihan koordinasi jatuh kepada Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) Rambipuji, sebuah unit pelayanan kesehatan hewan yang memiliki kapabilitas dan otoritas untuk menangani kasus penyakit ternak. Kolaborasi yang cepat ini mencerminkan kesadaran pemerintah kelurahan terhadap pentingnya sektor peternakan bagi mata pencaharian warganya.

 

Pada hari yang sama, Lurah Nanang Suwono, S.Sos., bersama tim medis veteriner dari Puskeswan Rambipuji, yang terdiri dari dokter hewan dan paramedis, langsung turun ke lokasi kejadian di area peternakan RW 007 Kelurahan Gebang. Kunjungan ini bertujuan untuk melakukan investigasi langsung, mengambil sampel, dan melakukan pemeriksaan fisik pada domba yang telah mati. Langkah ini krusial untuk mendapatkan diagnosis awal yang akurat sebelum mengambil tindakan pencegahan lebih lanjut. Kehadiran Lurah di lokasi juga memberikan ketenangan dan dukungan moral bagi para peternak yang sedang dilanda kecemasan.

 

Dari hasil pemeriksaan di lokasi, tim gabungan Kelurahan Gebang dan Puskeswan Rambipuji mendapati fakta yang cukup mengkhawatirkan. Total sebanyak 24 ekor domba dilaporkan mati mendadak dalam rentang waktu yang sangat singkat. Domba-domba yang mati ini menunjukkan gejala klinis yang seragam, yaitu tampak adanya gejala kelumpuhan pada kaki, dan kondisi badan domba yang mati tampak kaku atau mengalami rigor mortis yang cepat. Gejala-gejala ini menjadi petunjuk penting bagi tim veteriner dalam mengarahkan diagnosis.

 

Pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter hewan dari Puskeswan Rambipuji meliputi inspeksi visual terhadap kondisi umum lingkungan kandang dan domba, serta palpasi (perabaan) pada domba yang telah mati. Inspeksi menunjukkan bahwa kondisi cuaca dalam beberapa hari terakhir cenderung sangat panas dan kering. Lingkungan kandang, meskipun relatif bersih, diduga kurang memiliki ventilasi dan peneduh yang memadai untuk menahan suhu ekstrem. Palpasi pada tubuh domba yang mati memastikan kekakuan otot yang tidak wajar dan cepat, mendukung dugaan adanya gangguan sistemik akut.

 

Berdasarkan keseluruhan temuan di lapangan, termasuk riwayat kematian mendadak, jumlah domba yang mati, dan gejala klinis yang dominan seperti kelumpuhan kaki dan badan kaku, tim medis veteriner dari Puskeswan Rambipuji memberikan diagnosis sementara. Diagnosis sementara mengarah kuat pada kasus Heatstroke atau sengatan panas. Heatstroke pada domba umumnya terjadi ketika suhu lingkungan meningkat drastis dan domba tidak mampu mengatur suhu tubuh internalnya (termoregulasi).

 

Faktor pemicu heatstroke pada domba sangat bervariasi, namun yang utama adalah kombinasi antara suhu udara yang sangat tinggi, kelembapan yang rendah atau malah sangat tinggi, kurangnya sirkulasi udara di kandang, dan kurangnya akses domba ke air minum yang segar dan bersih. Dalam kondisi ekstrem, peningkatan suhu tubuh domba (hipertermia) yang tidak terkontrol dapat merusak sel-sel vital, terutama pada sistem saraf dan otot, yang kemudian bermanifestasi sebagai kelumpuhan, kejang, dan akhirnya kematian mendadak. Kematian 24 domba dalam waktu singkat ini diduga erat kaitannya dengan gelombang panas yang melanda wilayah Jember belakangan ini.

 

Meskipun diagnosis heatstroke bersifat non-infeksius dan tidak menular seperti penyakit viral atau bakteri, tindakan pencegahan harus segera dilakukan untuk menyelamatkan domba-domba yang masih hidup. Tim Puskeswan Rambipuji bersama Lurah Gebang Nanang Suwono S.Sos., menyusun serangkaian langkah mitigasi darurat di lapangan.

 

Langkah pertama yang dilakukan adalah melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh pada semua domba yang masih hidup di RW 007. Pemeriksaan ini untuk mengidentifikasi domba yang mungkin sudah menunjukkan tanda-tanda awal heatstress, seperti nafas yang terengah-engah (panting), kurangnya nafsu makan, dan kelemahan.

 

Langkah kedua dan yang paling penting adalah modifikasi lingkungan kandang secara cepat. Peternak diinstruksikan untuk segera meningkatkan ventilasi, menyediakan atap peneduh tambahan, dan jika memungkinkan, menyemprotkan air (misting) di sekitar area kandang untuk membantu menurunkan suhu udara. Peternak juga diminta untuk memindahkan domba-domba ke tempat yang lebih teduh dan sejuk, terutama pada siang hari.

 

Langkah ketiga adalah intervensi medis nutrisi. Tim Puskeswan segera memberikan vitamin dan elektrolit melalui air minum kepada domba-domba yang masih hidup. Pemberian vitamin, terutama Vitamin C dan B kompleks, bertujuan untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan membantu domba mengatasi stres akibat panas. Sementara itu, elektrolit diberikan untuk mengembalikan keseimbangan cairan tubuh yang hilang akibat dehidrasi berat yang mungkin terjadi karena suhu tinggi. Selain itu, peternak diwajibkan memastikan ketersediaan air minum segar dan bersih setiap saat.

 

Lurah Gebang Nanang Suwono, S.Sos., memanfaatkan momen ini untuk memberikan edukasi langsung kepada para peternak. Ia menghimbau peternak untuk lebih peka terhadap kondisi cuaca ekstrem dan dampaknya terhadap ternak. "Suhu udara saat ini sangat tinggi. Saya meminta peternak untuk tidak lagi mengabaikan faktor lingkungan. Domba adalah makhluk hidup yang juga bisa stres dan mati karena panas. Ini adalah kerugian besar bagi kita semua," ujar Lurah Nanang.

 

Tim Puskeswan Rambipuji juga memberikan pelatihan singkat mengenai manajemen pakan dan air selama musim kemarau atau cuaca panas. Mereka menyarankan agar pemberian pakan hijauan yang memiliki kandungan air tinggi dilakukan di malam hari atau pagi buta, dan menghindari penggembalaan di bawah terik matahari langsung. Himbauan juga diberikan agar peternak segera melapor jika menemukan gejala yang mencurigakan pada ternak mereka, sekecil apapun itu, agar penanganan dapat dilakukan sesegera mungkin.

 

Kasus kematian massal domba ini menjadi pelajaran berharga bagi Kelurahan Gebang dan Puskeswan Rambipuji. Ke depannya, Lurah Nanang Suwono berkomitmen untuk menjalin kerjasama yang lebih erat dan terstruktur dengan Puskeswan dan Dinas Peternakan Kabupaten Jember. Rencana ke depan mencakup program penyuluhan berkala mengenai manajemen kesehatan dan kesejahteraan hewan (Keswan), khususnya dalam menghadapi perubahan iklim.

 

Diharapkan, dengan adanya diagnosis cepat dan intervensi yang tepat, kerugian yang lebih besar dapat dicegah, dan populasi domba di RW 007 Kelurahan Gebang dapat segera pulih. Kejadian ini juga menjadi pengingat bagi seluruh peternak di Jember untuk meningkatkan kewaspadaan dan memperbaiki manajemen pemeliharaan ternak mereka, terutama dalam menghadapi tantangan cuaca ekstrem yang semakin tidak menentu. Pemerintah Kelurahan Gebang akan terus memantau perkembangan kondisi ternak di lapangan untuk memastikan semua domba yang masih hidup berada dalam kondisi aman dan sehat.

Galeri Foto