Kultivator Pangkas Waktu Olah Lahan Petani dari 3 Hari Jadi 1 Hari
- 18 September 2026
- Dibaca 13 Kali
Bagikan Via:
Kultivator Pangkas Waktu Olah Lahan Petani dari 3 Hari Jadi 1 Hari
JEMBER, 16 SEPTEMBER 2026 — Tiga hari mengolah lahan dengan tenaga manual bisa berubah menjadi sekitar satu hari setelah menggunakan kultivator. Gambaran itu dirasakan Hendro, Ketua Kelompok Tani (Poktan) Kopang Jaya, Desa Kamal, Kecamatan Arjasa, saat mengikuti uji coba alat dalam pelatihan tanaman sayur dan tanaman obat di Jember.
Menurut Hendro, perbedaan waktu kerja tersebut terlihat saat alat digunakan langsung di lahan. Sebelumnya, pengolahan tanah mengandalkan cangkul dan tenaga orang sehingga membutuhkan waktu lebih lama. Kehadiran kultivator membuat pekerjaan menjadi lebih cepat.
“Itu biasanya pakai tenaga orang itu biasanya 3 hari, insyaallah kalau dengan uji coba barusan itu bisa 1 hari pekerjaan,” ujar Hendro.
Bagi kelompok tani, manfaat alat tidak hanya soal kecepatan. Dalam pelatihan tersebut, peserta juga dikenalkan dengan cara menyesuaikan penggunaan kultivator berdasarkan kondisi lahan. Lebar dan kedalaman pengolahan dapat diatur, sehingga alat tidak digunakan dengan satu pola untuk semua kebutuhan.
Hendro menilai kemampuan tersebut sesuai dengan kebutuhan petani. Ia menyebut ukuran lebar dan kedalaman alat dapat disesuaikan saat digunakan di lahan.
“Lebar terus kedalamannya itu bisa diukur dengan mesin itu, bisa,” katanya.
Kepala Bidang Hortikultura DTPHP Jember Agung Satrio Setiawan menekankan, pemanfaatan alat perlu diikuti dengan perawatan agar manfaatnya dapat dirasakan bersama oleh anggota kelompok tani.
“Jadi jangan cuma dipakai saja tapi dijaga, dipelihara, supaya awet dan bisa bermanfaat untuk semua anggota kelompok,” ujar Agung.
Pelatihan yang digelar Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jawa Timur tersebut melibatkan DTPHP Kabupaten Jember. Selain penggunaan kultivator, peserta juga mendapat materi mengenai soil block, PGPR, benih sayuran, serta pembuatan pupuk organik.
Bagi Poktan Kopang Jaya, pengetahuan tersebut diharapkan tidak berhenti pada peserta yang mengikuti pelatihan. Hendro berharap ilmu yang diperoleh dapat diterapkan bersama anggota kelompok, sehingga manfaat alat dan pengetahuan budidaya bisa digunakan secara bersama.
Dengan pemanfaatan alat dan pengetahuan yang tepat, pekerjaan pengolahan lahan diharapkan menjadi lebih efisien sekaligus memberi ruang bagi petani untuk meningkatkan keterampilan dalam mengelola lahan. (fan)