Lestarikan Warisan Budaya, Desa Sidodadi Gelar Jamasan Kentongan Pusaka dan Sedekah Bumi
- 06 Juli 2026
- Dibaca 17 Kali
Bagikan Via:
Lestarikan Warisan Budaya, Desa Sidodadi Gelar Jamasan Kentongan Pusaka dan Sedekah Bumi
JEMBER – Pemerintah Desa Sidodadi, Kecamatan Tempurejo, Kabupaten Jember, kembali menggelar prosesi adat Jamasan Kentongan Pusaka yang menjadi bagian dari rangkaian tradisi Sedekah Bumi, Minggu 5 Juli 2026 mulai pukul 13.00 WIB hingga selesai.
Kegiatan berlangsung dengan khidmat dan dihadiri oleh Muspika Kecamatan Tempurejo, Kepala Desa Sidodadi beserta perangkat desa, tokoh masyarakat, sesepuh desa, serta ribuan warga dari tiga dusun, yaitu Dusun Mandiku, Dusun Jatirejo, dan Dusun Krajan.
Rangkaian prosesi budaya ini diawali dengan pengambilan air dari tujuh mata air yang dilaksanakan pada Jumat Legi, 3 Juli 2026, dipimpin oleh Bude Leolintang AniesM.
Pengambilan air suci tersebut merupakan bagian penting dalam prosesi Jamasan Kentongan Pusaka Balai Desa sekaligus untuk memberkahi gunungan hasil bumi yang akan dipersembahkan sebagai wujud rasa syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Adapun tujuh mata air yang menjadi sumber air jamasan meliputi: Sumber Mata Air Kucur Gunung, Dusun Mandiku, Sumber Mata Air Terjun Curah Urang, Gunung Mandiku, Sumber Mata Air Dusun Mandiku, Sumber Air Kali Mayang, Mandiku, Sumber Mata Air Dusun Jatirejo, Sumber Mata Air Dusun Krajan, Sidodadi, Sumber Mata Air Sumur Balai Desa Sidodadi.
Air yang diambil dari ketujuh mata air tersebut kemudian disatukan ke dalam sebuah kendi sebagai lambang persatuan seluruh wilayah Desa Sidodadi. Selanjutnya, air tersebut digunakan dalam prosesi Jamasan Kentongan Pusaka Balai Desa Sidodadi, yakni memandikan kentongan pusaka sebagai simbol penyucian, penghormatan terhadap warisan leluhur, sekaligus doa agar Desa Sidodadi senantiasa diberikan keselamatan, keberkahan, ketenteraman, serta hasil bumi yang melimpah.
Kepala Desa Sidodadi, Suyono, menyampaikan bahwa kentongan pusaka memiliki makna sejarah yang sangat penting bagi masyarakat. Menurutnya, pada masa lampau kentongan menjadi alat komunikasi utama yang digunakan untuk menyampaikan berbagai informasi kepada warga, mulai dari ajakan berkumpul, penanda adanya musibah atau bahaya, hingga pemberitahuan kegiatan masyarakat.
"Kentongan bukan sekadar benda pusaka, tetapi merupakan simbol persatuan, kewaspadaan, dan semangat gotong royong masyarakat Desa Sidodadi. Melalui prosesi jamasan ini, kami ingin terus menjaga warisan budaya sekaligus mengenang nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur agar tetap hidup dan diteruskan oleh generasi penerus," ujar Suyono.
Selain prosesi jamasan, kegiatan juga diisi dengan pemberkatan gunungan hasil bumi sebagai simbol rasa syukur masyarakat atas rezeki dan hasil pertanian yang telah diberikan oleh Allah SWT. Gunungan tersebut menjadi lambang kemakmuran, kebersamaan, serta harapan agar musim panen berikutnya semakin membawa keberkahan bagi seluruh warga.
Sementara itu, Camat Tempurejo Muhammad Najmul Huda, S.STP., M.Si menyampaikan apresiasi atas komitmen Pemerintah Desa Sidodadi dalam menjaga dan melestarikan tradisi budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.
"Tradisi seperti ini merupakan kekayaan budaya yang sangat berharga. Selain mempererat tali silaturahmi masyarakat, kegiatan ini juga menjadi media pendidikan bagi generasi muda agar mengenal dan mencintai warisan leluhurnya. Mari kita bersama-sama melestarikan adat dan budaya sebagai bagian dari identitas bangsa," ungkap Camat Tempurejo.
Suasana prosesi berlangsung khidmat, penuh kebersamaan, dan sarat makna. Kehadiran masyarakat dari berbagai dusun menunjukkan tingginya semangat gotong royong serta kepedulian terhadap pelestarian adat istiadat. Tradisi Jamasan Kentongan Pusaka bukan sekadar ritual budaya, melainkan menjadi pengingat akan pentingnya menjaga nilai-nilai persatuan, kebersamaan, penghormatan kepada leluhur, serta rasa syukur atas segala nikmat yang telah dianugerahkan Tuhan Yang Maha Esa.
Melalui penyelenggaraan tradisi ini, Pemerintah Desa Sidodadi berharap warisan budaya yang adiluhung tetap lestari, menjadi kebanggaan masyarakat, serta terus memberikan keberkahan bagi seluruh warga Desa Sidodadi dari generasi ke generasi. (MHR)