LOMBA SAMBITAN LAYANG-LAYANG DI DESA PANCAKARYA: MENJAGA TRADISI, MENGGERAKKAN EKONOMI, MENDUKUNG PROGRAM GUS BUPATI FAWAIT
- 18 September 2025
- Dibaca 359 Kali
Bagikan Via:
LOMBA SAMBITAN LAYANG-LAYANG DI DESA PANCAKARYA: MENJAGA TRADISI, MENGGERAKKAN EKONOMI, MENDUKUNG PROGRAM GUS BUPATI FAWAIT
Ajung, 17 September 2025 – Suasana sore di lapangan Dusun Krasak, Desa Pancakarya, Kecamatan Ajung, tampak semarak. Ratusan warga berkumpul, tidak hanya untuk menyaksikan, tetapi juga berpartisipasi dalam lomba sambitan layang-layang. Acara ini dihadiri langsung oleh Camat Ajung, Muhammad Sifak Beni Kurniawan, didampingi Penjabat Kepala Desa Pancakarya, Bapak Ach. Fauzi.
Perlombaan ini bukan sekadar adu keterampilan dalam menerbangkan layang-layang. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi bukti nyata bagaimana tradisi masyarakat desa masih hidup dan terjaga, sekaligus menjadi potensi yang dapat mendorong perputaran ekonomi lokal apabila dikembangkan secara serius dan terarah.
Layang-layang sudah lama dikenal sebagai permainan rakyat yang mengakar kuat di berbagai daerah di Indonesia, termasuk Jember. Di Desa Pancakarya, tradisi sambitan layang-layang bukan hanya hiburan, melainkan wadah interaksi sosial dan ajang mempererat tali persaudaraan antarwarga.
Ketika lomba dimulai, suara sorakan masyarakat menggema. Warna-warni layang-layang menghiasi langit, menambah semarak pemandangan alam Pancakarya. Anak-anak, remaja, hingga orang tua larut dalam kegembiraan. Pemandangan ini menunjukkan bahwa permainan sederhana dapat menjadi magnet yang menggerakkan kebersamaan, bahkan menjadi daya tarik wisata budaya yang bernilai tinggi.
Kehadiran Camat Ajung dalam acara ini tidak lepas dari upaya pemerintah daerah untuk mendukung visi besar Bupati Jember, Gus Fawait, dalam menggerakkan roda perekonomian masyarakat. Melalui berbagai program, Gus Bupati mendorong agar seluruh potensi desa dihidupkan kembali, baik dalam sektor wisata, budaya, maupun UMKM.
Lomba layang-layang di Pancakarya adalah contoh kecil bagaimana kegiatan berbasis tradisi bisa dikemas menjadi agenda wisata lokal. Apabila dilanjutkan secara rutin dan dipromosikan secara luas, acara ini mampu menarik wisatawan dari luar desa, bahkan luar kecamatan, yang pada akhirnya akan berdampak pada peningkatan pendapatan masyarakat. Warung makan, pedagang kaki lima, hingga pengrajin layang-layang bisa mendapatkan manfaat ekonomi langsung dari kegiatan semacam ini.
“Inilah yang diharapkan oleh Gus Bupati Fawait. Bahwa setiap desa memiliki keunikan, dan keunikan itu harus diangkat menjadi potensi wisata yang pada akhirnya menggerakkan ekonomi rakyat,” ujar Camat Ajung dalam kesempatan sambutan singkatnya.
Pemerintah Kabupaten Jember, di bawah kepemimpinan Gus Bupati Fawait, berkomitmen untuk melakukan strategi “full up potensi” desa. Artinya, semua kekuatan lokal—baik sumber daya alam, tradisi, budaya, maupun kreativitas warga—perlu ditonjolkan dan dioptimalkan agar tidak tenggelam oleh arus modernisasi.
Desa Pancakarya sendiri memiliki potensi besar, tidak hanya dalam tradisi layang-layang, tetapi juga dalam sektor pertanian, kuliner khas desa, hingga potensi alamnya yang masih asri. Dengan kolaborasi antara pemerintah kecamatan, pemerintah desa, dan masyarakat, potensi ini bisa dikemas menjadi paket wisata desa yang berdaya jual tinggi.
Bayangkan, lomba layang-layang bisa menjadi agenda tahunan yang dipadukan dengan pameran UMKM lokal, pentas seni tradisional, hingga kuliner khas desa. Jika ini diwujudkan, maka Desa Pancakarya bukan hanya menjadi lokasi perlombaan, tetapi juga destinasi wisata budaya yang mampu memperkenalkan identitas Jember di tingkat nasional.
Kegiatan sederhana seperti lomba layang-layang terbukti mampu menghidupkan denyut ekonomi desa. Para pedagang makanan keliling yang hadir di lokasi lomba merasakan langsung berkahnya. Anak-anak membeli jajanan, orang tua menyeruput kopi, dan pemuda membeli aksesoris layang-layang. Perputaran uang terjadi, meski dalam skala kecil, tetapi dampaknya nyata.
Jika potensi seperti ini dikelola secara berkelanjutan, maka perputaran ekonomi bisa meningkat. Inilah inti dari program Gus Bupati Fawait: menggerakkan ekonomi dari akar rumput. Bupati meyakini bahwa desa adalah motor penggerak utama pembangunan, sehingga setiap kegiatan masyarakat yang bernuansa lokal harus mendapat perhatian dan dukungan.
Camat Ajung menegaskan bahwa kegiatan lomba layang-layang di Pancakarya akan terus didorong menjadi agenda rutin. Pemerintah kecamatan siap bersinergi dengan desa dan masyarakat untuk menjadikannya salah satu potensi wisata budaya unggulan.
“Kalau semua desa punya acara khas dan bisa mengangkat identitasnya, Jember akan semakin dikenal. Yang lebih penting, ekonomi masyarakat bisa bergerak tanpa harus menunggu investasi besar dari luar. Inilah yang kita sebut kemandirian desa, sesuai arahan Gus Bupati Fawait,” ujarnya.
Lomba sambitan layang-layang di Desa Pancakarya bukan hanya sekadar ajang hiburan, melainkan simbol kebangkitan ekonomi berbasis tradisi lokal. Kehadiran Camat Ajung dan PJ Kepala Desa dalam acara ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mendukung visi pembangunan Gus Bupati Fawait.
Dengan semangat gotong royong, inovasi, dan kesadaran untuk mengangkat potensi lokal, Desa Pancakarya berpeluang besar menjadi destinasi wisata budaya. Dan melalui langkah kecil seperti menerbangkan layang-layang, roda ekonomi masyarakat mulai berputar, menuju Jember yang lebih mandiri, maju, dan berdaya saing