Mengapa Padi PM-AAS Ditanam Lebih Rapat? Ini Logikanya!
- 06 Oktober 2026
- Dibaca 23 Kali
Bagikan Via:
Mengapa Padi PM-AAS Ditanam Lebih Rapat? Ini Logikanya!
JEMBER, 06 OKTOBER 2026 — Menanam padi lebih rapat bukan sekadar membuat tanaman terlihat memenuhi petak sawah. Dalam pola PM-AAS (Pertanian Modern-Advanced Agriculture System), jarak tanam diatur untuk meningkatkan jumlah tanaman dalam satuan luas sehingga peluang terbentuknya tanaman produktif dan malai juga semakin besar.
Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Jember, Luhur Prayogo, menjelaskan pola tersebut menggunakan jarak antartanaman sekitar 5–10 sentimeter dalam barisan. Sementara jarak antarbarisan sekitar 20 sentimeter dan pola legowo sekitar 40 sentimeter.
Dengan susunan tersebut, populasi tanaman dalam satu petak dapat ditingkatkan. Logikanya sederhana: semakin banyak tanaman produktif yang dapat tumbuh dengan baik dalam satuan luas, semakin besar pula peluang produksi yang dihasilkan dari lahan tersebut.
“Kalau kita biasanya satu ruangan hanya satu orang, kemudian kita isi 10 orang, tentu makanannya juga harus lebih banyak. Begitu juga tanaman, kalau populasinya kita tambah, kebutuhan nutrisinya juga harus kita tambah,” kata Luhur, Selasa 06 Oktober 2026.
Karena itu, pola tanam rapat tidak berdiri sendiri. Peningkatan populasi harus diikuti pengelolaan nutrisi dan tanaman yang lebih intensif. Salah satu yang menjadi perhatian adalah silikat, unsur hara mikro yang disebut berperan membantu memperkuat tanaman dan mengurangi risiko tanaman mudah rebah.
Penerapan PM-AAS juga dapat dilakukan melalui dua metode, yakni tanam pindah atau TAP dan tanam benih langsung atau Tabela. Pendekatan tersebut memungkinkan pola budidaya disesuaikan dengan kondisi penerapan di lapangan.
Luhur menyebut pola PM-AAS telah diuji coba di BRMP dengan hasil yang disebut mencapai lebih dari 10 ton per hektare. Hasil tersebut menjadi bagian dari dasar pengembangan pola tanam yang kini mulai diterapkan secara terbatas di sejumlah lokasi di Jember.
“Jadi prinsipnya bagaimana kita meningkatkan populasi tanaman per satuan luas, kemudian tanaman-tanaman itu lebih produktif, sehingga produksinya juga bisa meningkat,” ujarnya.
Melalui PM-AAS, perubahan tidak hanya terjadi pada jarak tanam, tetapi juga pada cara petani mengelola tanaman setelah ditanam. Semakin tinggi populasi, semakin penting pula pengaturan nutrisi dan pemeliharaan agar tanaman tetap tumbuh optimal. (fan)