logo ppid jember kim
Oleh : Kelurahan Bintoro

Nenek Patrima dari Krajan Terharu Digandeng Anaknya Saat Menerima Bantuan BLT DBHCHT

  • 01 Desember 2025
  • Dibaca 201 Kali
Bagikan Via:
nenek-patrima-dari-krajan-terharu-digandeng-anaknya-saat-menerima-bantuan-blt-dbhcht-20251201

Nenek Patrima dari Krajan Terharu Digandeng Anaknya Saat Menerima Bantuan BLT DBHCHT

PPID.JEMBER - Di antara antrean warga yang menunggu giliran menerima bantuan, tampak sosok seorang nenek renta dengan kerudung lusuh namun rapi. Dialah Patrima, warga Lingkungan Krajan, yang datang bersama anaknya untuk menerima Bantuan Langsung Tunai Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) 2025 di kantor Kelurahan Bintoro, Senin pagi itu.

Tubuhnya sudah tidak sekuat dulu. Kakinya sering gemetar saat melangkah sehingga ia harus berjalan perlahan sambil digandeng erat oleh anaknya. Pegangan kecil itu terlihat begitu hangat—sebuah gambaran sederhana tentang kasih sayang dan perjuangan keluarga kecil ini.
Ketika petugas memanggil namanya, anaknya membantu membimbing nenek Patrima menuju meja penyaluran. Sesampainya di depan petugas, nenek Patrima menerima amplop bantuan itu dengan tangan bergetar. Tak lama kemudian, air matanya mulai jatuh.
“Alhamdulillah, nak… etembang ghun. Engkok tada' ngangka masih aja' neng-oreng se nyare' kaula.” ucapnya sambil menggenggam uang itu seolah takut terlepas.
Anaknya yang berdiri di sampingnya tampak ikut menunduk haru. Ia tahu betul bagaimana sang ibu menjalani hari-hari di usia senja, dengan kondisi kesehatan yang menurun dan penghasilan yang tidak pasti. Selama ini ia berusaha mencukupi kebutuhan ibunya sebisanya, namun kadang tidak cukup.
“Bantuan niki arep kulo enggo tumbas beras lan obat. Kulo matur nuwun sanget… mugi sedoyo sing mboten nyaluraken diparingi kesehatan lan rezeki,” lanjut Patrima dengan suara pelan namun penuh rasa.
Petugas dan warga sekitar ikut terharu melihat momen tersebut. Ada yang membantu memegangi tas kecil nenek Patrima, ada juga yang tersenyum memberi semangat. Kebersamaan sederhana itu membuat suasana penyaluran bantuan terasa hangat dan penuh kepedulian.
Bagi nenek Patrima, bantuan yang diterimanya bukan sekadar nominal uang, tetapi sebuah bentuk perhatian yang membuatnya merasa tidak sendirian di usia senja. “Niki bantuan paling berarti kanggo kulo. Matur nuwun, matur nuwun…” bisiknya sambil menggenggam tangan anaknya lebih erat.
Kisah nenek Patrima menjadi cermin bahwa setiap bantuan yang diberikan memiliki arti besar bagi warga yang membutuhkan. Ada kehidupan yang terangkat, ada harapan yang kembali tumbuh, dan ada air mata yang berubah menjadi senyum syukur.

Galeri Foto