NGOP-NGOP Forum RT/RW Kaliwates, Camat dan Lurah Duduk Bersama Warga, Bahas Solusi Permasalahan hingga Inovasi Pelayanan Publik
- 18 Oktober 2026
- Dibaca 22 Kali
Bagikan Via:
NGOP-NGOP Forum RT/RW Kaliwates, Camat dan Lurah Duduk Bersama Warga, Bahas Solusi Permasalahan hingga Inovasi Pelayanan Publik
KALIWATES – Suasana hangat dan penuh keakraban mewarnai kegiatan NGOP-NGOP (Ngopi dan Ngobrol) yang digelar Forum RT/RW Kelurahan Kaliwates, Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember, pada Rabu malam (14/10/2026). Bertempat di kafe kawasan RW 12 Perumahan GOR, Jalan Nusantara, kegiatan ini menjadi ruang dialog terbuka antara pemerintah dan masyarakat untuk membahas berbagai persoalan lingkungan, sekaligus mencari solusi bersama secara langsung.
Tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi sambil menikmati kopi, pertemuan tersebut menghadirkan komunikasi dua arah yang lebih dekat, santai, dan terbuka. Berbagai aspirasi, keluhan, serta gagasan masyarakat disampaikan tanpa sekat formalitas, sehingga persoalan yang berkembang di tingkat lingkungan dapat dibicarakan bersama para pemangku kepentingan.
Kegiatan ini dihadiri Camat Kaliwates, Farisa Jamal Taslim, S.STP., M.Si., Lurah Kaliwates, Abdul Khamil, S.Si., S.Sos., M.M., para ketua RW, sejumlah ketua RT, tokoh masyarakat, serta perwakilan berbagai unsur kelembagaan dan relawan, di antaranya Desa Tangguh Bencana (Destana), Sahabat Tagana, Destana Muda, kader Posyandu, dan Pos Bantuan Hukum (Posbankum) Kelurahan Kaliwates.
Kehadiran berbagai elemen tersebut memperlihatkan kuatnya semangat kebersamaan dalam membangun lingkungan yang lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Pertemuan itu sekaligus menegaskan pentingnya peran RT dan RW sebagai ujung tombak pelayanan dan penghubung antara pemerintah kelurahan dengan warga.
Lurah Kaliwates: NGOP-NGOP Jadi Ruang Mendengar dan Mencari Solusi
Dalam sambutannya, Lurah Kaliwates Abdul Khamil menyampaikan bahwa kegiatan NGOP-NGOP merupakan forum komunikasi berskala lebih kecil dibandingkan pertemuan rutin Forum RT/RW. Konsep tersebut sengaja dikembangkan agar komunikasi dapat berlangsung lebih intensif, akrab, dan mampu menyentuh berbagai persoalan yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Menurut Khamil, kegiatan ini bukan sekadar pertemuan informal, melainkan bagian dari upaya memperkuat tata kelola pemerintahan kelurahan yang terbuka, partisipatif, dan berorientasi pada penyelesaian masalah.
Melalui forum tersebut, para ketua RT, RW, tokoh masyarakat, serta unsur kelembagaan dapat menyampaikan berbagai kondisi di wilayah masing-masing, mulai dari pelayanan administrasi, kesejahteraan sosial, kesehatan, hingga persoalan lingkungan.
Khamil menekankan bahwa komunikasi yang baik antara pemerintah dan masyarakat menjadi salah satu kunci keberhasilan pembangunan di tingkat kelurahan. Karena itu, keakraban dan kekompakan seluruh elemen masyarakat perlu terus dipelihara agar setiap persoalan dapat diselesaikan melalui musyawarah dan kerja sama.
Ia juga mengingatkan bahwa ketua RT dan RW memiliki peran strategis karena merupakan unsur lingkungan yang paling memahami keadaan sosial, ekonomi, serta kebutuhan warganya. Kehadiran inovasi pelayanan berbasis teknologi, menurutnya, harus tetap memperkuat peran tersebut, bukan justru menggantikannya.
SIMPEL-WA, Inovasi Pelayanan Administrasi yang Lebih Mudah dan Cepat
Pada kesempatan tersebut, Khamil turut memaparkan sejumlah program inovasi Kelurahan Kaliwates yang telah dikembangkan untuk memberikan kemudahan pelayanan kepada masyarakat.
Salah satunya adalah SIMPEL-WA, inovasi pelayanan administrasi melalui aplikasi WhatsApp yang memungkinkan masyarakat mengakses layanan administrasi kependudukan maupun pengurusan berbagai surat keterangan secara lebih praktis.
Melalui layanan tersebut, warga diharapkan tidak perlu menghadapi proses administrasi yang berbelit-belit. Pemanfaatan teknologi komunikasi yang sudah akrab digunakan sehari-hari menjadi salah satu pendekatan untuk mendekatkan pelayanan pemerintah kepada masyarakat.
Meski demikian, Khamil menegaskan bahwa penggunaan layanan digital tetap harus berjalan beriringan dengan keterlibatan ketua RT dan RW. Sebab, pengurus lingkungan merupakan pihak yang paling memahami kondisi sebenarnya dari warga yang membutuhkan pelayanan.
Dengan demikian, inovasi SIMPEL-WA tidak hanya diarahkan untuk mempercepat pelayanan, tetapi juga menjaga ketepatan data, koordinasi antarunsur pemerintahan, serta hubungan sosial yang selama ini terbangun di lingkungan masyarakat.
CINTA SiPeka, Budidaya Ayam Petelur untuk Mendukung Pemenuhan Gizi Balita
Selain inovasi administrasi, Lurah Kaliwates juga memperkenalkan perkembangan program CINTA SiPeka, sebuah inovasi pemberdayaan masyarakat yang salah satu kegiatannya berupa budidaya ayam petelur.
Program tersebut kini telah dikembangkan di lima koloni yang tersebar pada lima RW di wilayah Kelurahan Kaliwates. Keberadaan koloni ayam petelur ini diharapkan dapat menjadi sumber pangan bergizi sekaligus memperkuat kepedulian masyarakat terhadap upaya penanganan stunting.
Telur yang dihasilkan dari budidaya tersebut direncanakan dapat dimanfaatkan untuk membantu pemenuhan kebutuhan protein hewani, khususnya bagi balita yang mengalami stunting, melalui pemberian secara gratis kepada penerima manfaat.
Khamil memandang bahwa penanganan stunting membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri, melainkan perlu mendapatkan dukungan pengurus lingkungan, kader Posyandu, kelompok masyarakat, serta warga yang memiliki kepedulian terhadap kesehatan anak.
Pengembangan CINTA SiPeka diharapkan tidak berhenti pada lima koloni yang telah terbentuk, tetapi dapat terus diperkuat sesuai kemampuan dan dukungan masyarakat, sehingga manfaatnya semakin luas dan berkesinambungan.
Inovasi tersebut menjadi contoh bahwa pemanfaatan potensi lokal dapat dikembangkan menjadi gerakan pemberdayaan yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, baik dalam mendukung ketahanan pangan maupun meningkatkan kepedulian terhadap pemenuhan gizi keluarga.
Camat Kaliwates Apresiasi NGOP-NGOP, Dorong Keberlanjutan Inovasi Kelurahan
Sementara itu, Camat Kaliwates, Farisa Jamal Taslim, menyampaikan apresiasi atas inisiatif Forum RT/RW Kelurahan Kaliwates yang telah menghadirkan ruang komunikasi langsung antara pemerintah dengan berbagai unsur masyarakat.
Menurutnya, kegiatan seperti NGOP-NGOP patut dipertahankan dan dikembangkan karena mampu membangun kedekatan, memperkuat koordinasi, serta mendorong penyelesaian berbagai persoalan melalui dialog yang terbuka dan konstruktif.
Camat juga memberikan perhatian terhadap sejumlah inovasi yang telah dijalankan Pemerintah Kelurahan Kaliwates, khususnya SIMPEL-WA dan CINTA SiPeka. Ia menilai inovasi pelayanan dan pemberdayaan masyarakat tersebut perlu terus dijaga keberlangsungannya agar manfaat yang telah dirasakan warga tidak berhenti pada tahap pelaksanaan awal.
Keberhasilan suatu inovasi, menurutnya, tidak cukup hanya diukur dari keberhasilan peluncuran program, tetapi juga dari konsistensi pelaksanaan, keterlibatan masyarakat, serta kemampuannya menjawab kebutuhan warga dari waktu ke waktu.
Karena itu, dukungan seluruh elemen masyarakat, terutama pengurus RT/RW, tokoh masyarakat, kader kesehatan, dan relawan sosial, menjadi faktor penting untuk memastikan program kelurahan dapat berjalan secara berkesinambungan.
Sosialisasikan UHC, Home Care, dan Mobil Cinta sebagai Program Prioritas Bupati Jember
Dalam arahannya, Camat Kaliwates juga menekankan pentingnya pemahaman masyarakat terhadap berbagai program prioritas Pemerintah Kabupaten Jember di bawah kepemimpinan Bupati Jember, Muhammad Fawait, yang akrab disapa Gus Fawait.
Tiga program pelayanan kesehatan yang menjadi perhatian dalam pertemuan tersebut adalah Universal Health Coverage (UHC), Home Care, dan Mobil Cinta.
Melalui UHC, pemerintah berupaya memperluas akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. Sementara itu, Home Care diarahkan untuk mendekatkan pelayanan kesehatan kepada warga yang membutuhkan penanganan khusus, termasuk mereka yang menghadapi keterbatasan mobilitas maupun kesulitan mengakses fasilitas kesehatan.
Dalam pertemuan tersebut, turut disampaikan enam kelompok masyarakat yang perlu mendapatkan perhatian dalam pelayanan kesehatan, yakni lansia sebatang kara, penyandang disabilitas dengan penyakit penyerta, tokoh masyarakat, ibu hamil berisiko tinggi, balita stunting, serta warga kurang mampu dan/atau mengalami kesulitan mengakses pelayanan kesehatan.
Adapun program Mobil Cinta melengkapi pelayanan kesehatan dengan menyediakan dukungan transportasi bagi pasien, khususnya untuk membantu kepulangan pasien dari rumah sakit menuju tempat tinggalnya sesuai ketentuan layanan. Program ini telah diluncurkan Pemerintah Kabupaten Jember pada 8 Oktober 2026.
PPID Kabupaten Jember
+1
Camat berharap seluruh ketua RT/RW, tokoh masyarakat, dan kader kesehatan ikut berperan aktif menyampaikan informasi mengenai program-program tersebut kepada masyarakat.
Menurutnya, program pemerintah yang baik harus diimbangi dengan penyebarluasan informasi yang tepat agar masyarakat yang membutuhkan tidak mengalami kesulitan memperoleh akses pelayanan.
Ingatkan Ketepatan Sasaran Bantuan Sosial dan Bahaya Judi Online
Selain membahas pelayanan kesehatan, Camat Kaliwates turut memberikan perhatian terhadap persoalan bantuan sosial, khususnya terkait pemanfaatan data digital dalam proses evaluasi dan penetapan penerima manfaat.
Ia mengingatkan bahwa sistem pendataan bantuan sosial semakin terintegrasi dengan berbagai sumber informasi, sehingga keakuratan data dan kesesuaian kondisi penerima manfaat menjadi hal yang sangat penting.
Dalam kesempatan itu, masyarakat juga diingatkan mengenai risiko keterlibatan dalam praktik judi online serta persoalan pinjaman online yang dapat menimbulkan dampak ekonomi dan sosial bagi keluarga.
Camat menekankan pentingnya kewaspadaan warga penerima bantuan sosial terhadap aktivitas keuangan yang berpotensi menimbulkan persoalan dalam proses verifikasi data maupun evaluasi kelayakan penerima bantuan.
Hal tersebut menjadi perhatian mengingat pemerintah terus melakukan pemadanan dan evaluasi data untuk memastikan bantuan sosial benar-benar diterima oleh masyarakat yang memenuhi persyaratan.
Kendati demikian, perubahan tingkat kesejahteraan atau desil maupun penghentian bantuan sosial tetap harus mengacu pada mekanisme pendataan, verifikasi, dan ketentuan resmi yang berlaku.
Cek Bansos
+2
Melalui forum NGOP-NGOP, para ketua RT dan RW diharapkan dapat membantu meningkatkan pemahaman masyarakat, sekaligus mengingatkan warga agar menggunakan bantuan sosial secara bertanggung jawab dan menghindari aktivitas yang berpotensi merugikan keluarga.
Aspirasi Warga Dijawab Langsung, Diskusi Berlangsung Hangat dan Penuh Solusi
Salah satu hal menarik dari pelaksanaan NGOP-NGOP adalah adanya kesempatan bagi para peserta untuk menyampaikan secara langsung berbagai persoalan yang berkembang di lingkungan masing-masing.
Para ketua RT/RW dan perwakilan kelompok masyarakat memanfaatkan forum tersebut untuk menyampaikan keluhan, masukan, serta kondisi terkini yang memerlukan perhatian bersama.
Berbeda dengan pola pertemuan formal yang cenderung didominasi penyampaian materi, kegiatan NGOP-NGOP memberikan ruang lebih luas bagi seluruh peserta untuk terlibat dalam diskusi.
Berbagai pertanyaan dan persoalan yang disampaikan peserta langsung mendapatkan tanggapan, penjelasan, serta pembahasan bersama pada malam itu juga.
Diskusi berlangsung dinamis, hangat, dan penuh keakraban. Perbedaan pandangan maupun persoalan yang muncul menjadi bahan musyawarah untuk menemukan langkah penyelesaian yang dapat dilakukan secara bersama-sama.
Kehadiran unsur Destana, Sahabat Tagana, Destana Muda, kader Posyandu, dan Posbankum juga memperkaya perspektif pembahasan, mengingat berbagai persoalan masyarakat tidak hanya berkaitan dengan administrasi pemerintahan, tetapi juga menyangkut kesehatan, kesejahteraan, kebencanaan, hingga akses terhadap bantuan hukum.
Forum tersebut sekaligus memperlihatkan pentingnya kolaborasi lintas unsur dalam membangun lingkungan yang lebih tangguh, peduli, dan responsif.
Dari Secangkir Kopi, Memperkuat Kolaborasi dan Pelayanan Masyarakat
Pelaksanaan NGOP-NGOP Forum RT/RW Kelurahan Kaliwates menjadi gambaran bahwa upaya membangun pemerintahan yang dekat dengan masyarakat tidak selalu harus dilakukan melalui pertemuan resmi dan seremonial.
Melalui suasana sederhana dan komunikasi yang egaliter, pemerintah dapat mendengar langsung aspirasi warga, sementara masyarakat memperoleh kesempatan untuk memahami kebijakan serta program yang sedang dijalankan.
Sinergi antara Pemerintah Kecamatan Kaliwates, Pemerintah Kelurahan Kaliwates, Forum RT/RW, tokoh masyarakat, kader kesehatan, dan unsur relawan diharapkan semakin memperkuat penyelenggaraan pelayanan publik yang cepat, responsif, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
Kegiatan ini juga menjadi momentum untuk memperkuat keberlanjutan inovasi SIMPEL-WA dan CINTA SiPeka, meningkatkan pemahaman warga terhadap program prioritas Pemerintah Kabupaten Jember, serta mendorong penyelesaian berbagai persoalan lingkungan melalui semangat musyawarah.
Dengan terciptanya komunikasi yang semakin terbuka, pemerintah dan masyarakat diharapkan tidak hanya mampu mengidentifikasi berbagai persoalan, tetapi juga bersama-sama mengambil peran dalam penyelesaiannya.
Dari obrolan santai di sebuah kafe kawasan RW 12 Perumahan GOR Kaliwates, tumbuh pesan penting bahwa pelayanan publik yang baik berawal dari kesediaan untuk mendengar, kepedulian untuk memahami, dan komitmen untuk menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat.
Semangat inilah yang diharapkan terus hidup melalui kegiatan NGOP-NGOP, sebagai langkah sederhana namun bermakna dalam membangun Kelurahan Kaliwates yang semakin kompak, inovatif, dan peduli terhadap warganya, sejalan dengan semangat Jember Baru, Jember Maju.
Catatan redaksi: Nama Camat ditulis Farisa Jamal Taslim mengikuti pemberitaan resmi PPID Kabupaten Jember, meskipun informasi awal menggunakan Faris.
PPID Kabupaten Jember
Bagian bantuan sosial juga disusun secara hati-hati karena klaim bahwa setiap anggota keluarga yang menggunakan pinjaman online otomatis menyebabkan kenaikan desil dan pencoretan bantuan tidak dapat dipastikan sebagai aturan umum. Naskah ini menggunakan uraian pernyataan tidak langsung, bukan kutipan wawancara verbatim yang belum dikonfirmasi.