Penjual Tempe Curhat ke Gus Fawait Soal Nasib Pedagang di Pasar Tanjung
- 17 September 2026
- Dibaca 19 Kali
Bagikan Via:
Penjual Tempe Curhat ke Gus Fawait Soal Nasib Pedagang di Pasar Tanjung
JEMBER, 17 SEPTEMBER 2026 - Ada momen haru dan penuh makna saat Bupati Jember Muhammad Fawait atau Gus Fawait blusukan ke Pasar Tanjung, Rabu siang, 16 September 2026. Seorang pedagang tempe bernama Budi Hartono memberanikan diri curhat langsung kepada bupati soal nasib pedagang.
Budi Hartono, pedagang tempe yang sudah bertahun tahun berjualan di lantai 2 Pasar Tanjung, dengan suara bergetar menyampaikan kekhawatirannya soal rencana revitalisasi pasar. Ia juga mengeluhkan sepinya pembeli di lapaknya.
"Kita itu ragu. Opo payu wong neng pasar ngene ae," keluh Budi Hartono yang disambut anggukan pedagang lainnya.
Gus Fawait yang saat itu mengenakan seragam dinas dan peci hitam, langsung duduk mendekat dan mendengarkan dengan seksama. Ia memberikan pemahaman dengan analogi memperbaiki rumah.
"Sama kayak kita memperbaiki rumah lah, Pak Budi. Kita kan harus minggir sebentar, kalau rumahnya sudah selesai baru kita masuk lagi dengan kondisi yang lebih bagus, pas," jawab Gus Fawait.
Dialog pun berlanjut. Ibu ibu pedagang di sekitar Budi Hartono menagih tiga janji utama yang pernah disampaikan: soal pajak retribusi pasar yang tinggi, permintaan mushola yang layak, dan beasiswa untuk anak pedagang.
Gus Fawait menegaskan semua sudah dipenuhi, termasuk jaminan BPJS Kesehatan gratis untuk seluruh pedagang Pasar Tanjung.
"Saya sudah penuhi. Terus kesehatan sudah saya tanggung BPJS-nya, beasiswa anak pedagang, dan Mushola. Makanya saya datang lagi. Apalagi?" tegasnya.
Namun curhatan paling jujur datang dari Budi Hartono. Ia mewakili suara wong cilik. Menurutnya, pedagang lantai 2 kalah saing karena pedagang di lantai bawah buka lapak hingga siang, sehingga pembeli tidak naik ke atas.
"Iya sudahlah, cuma soalnya kalau gini Pak, saya itu yang di atas wong cilik, yang di bawah wong cilik. Sini juga pengen cari makan. Kalau di sana sampai siang, sini ndak nemu," curhat Budi Hartono dengan nada lirih namun tegas.
Mendengar curhatan Budi Hartono tersebut, Gus Fawait langsung memberikan solusi yang adil dan solutif. Ia memutuskan akan menertibkan jam operasional pasar.
"Akhirnya ya sudahlah kalau jamnya saja. Jamnya itu ditertibkan, sama-sama cari makan," kata Gus Fawait.
Ia mengusulkan agar lapak di lantai bawah wajib tutup pukul 06.00 WIB, sehingga pembeli akan beralih dan berbelanja ke lapak pedagang di atas seperti lapak Budi Hartono.
Usulan itu langsung disambut tepuk tangan dan sorak setuju dari para pedagang. Budi Hartono pun tersenyum lega karena aspirasinya didengar langsung oleh orang nomor satu di Jember.
Momen blusukan ini membuktikan komitmen Gus Fawait untuk tidak hanya membangun fisik Pasar Tanjung, tetapi juga membangun keadilan. Bagi Budi Hartono dan pedagang tempe lainnya, kehadiran Gus Fawait adalah harapan baru bahwa wong cilik tidak akan tertinggal dalam pembangunan Jember Baru. (mad)