Petani Tamansari Belajar Olah Limbah Ternak Jadi Pupuk Organik
- 30 Juni 2026
- Dibaca 3 Kali
Bagikan Via:
Petani Tamansari Belajar Olah Limbah Ternak Jadi Pupuk Organik
JEMBER, 30 JUNI 2026 – Limbah kotoran ternak yang selama ini kerap menjadi persoalan lingkungan di Desa Tamansari, Kecamatan Wuluhan, mulai diarahkan menjadi produk yang bernilai ekonomi. Sebanyak 19 petani dan peternak setempat mengikuti pelatihan pemanfaatan teknologi tepat guna yang membahas pengolahan limbah ternak menjadi pupuk organik dan manajemen budidaya jagung di lahan pasiran. Kegiatan berlangsung di Aula Desa Tamansari, Kamis, 25 Juni 2026, mulai pukul 10.00 WIB hingga selesai.
Pelatihan menghadirkan dua narasumber dari Politeknik Negeri Jember, yakni Doktor Yuanna dan Tirto Wahyu Widodo, S.P., M.P. Keduanya memberikan materi mengenai pemanfaatan teknologi tepat guna di bidang pertanian dan peternakan, khususnya teknik pengolahan limbah kotoran ayam menjadi pupuk organik serta pengelolaan budidaya jagung di lahan berpasir agar lebih produktif.
Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Daristi beserta staf, Camat Wuluhan Hanifah, S.Pt., M.Si., Kepala Desa Tamansari Nur Hadi, dosen Politeknik Negeri Jember, serta 19 petani dan peternak dari Desa Tamansari.
Dalam sambutannya, Camat Wuluhan Hanifah mengatakan pelatihan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah menyesuaikan program pemberdayaan masyarakat dengan kebutuhan petani dan peternak di lapangan. Menurutnya, aspirasi masyarakat penting untuk menentukan jenis teknologi tepat guna yang dapat diterapkan secara efektif.
"Kami ingin mengetahui kebutuhan masyarakat agar pelatihan yang diberikan benar-benar dapat diterapkan dan memberikan manfaat bagi sektor pertanian maupun peternakan," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Desa Tamansari Nur Hadi mengatakan pemanfaatan limbah kotoran ternak masih menjadi salah satu persoalan yang dihadapi warga. Selama ini, limbah peternakan belum dimanfaatkan secara optimal sehingga kerap dibuang begitu saja. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan, terutama saat musim hujan atau banjir.
"Melalui pelatihan ini kami berharap masyarakat mampu mengolah limbah ternak menjadi pupuk organik yang bermanfaat, sehingga tidak lagi menjadi sumber pencemaran lingkungan," katanya.
Pada sesi diskusi, salah seorang peserta, Suwarno, menyampaikan pengalamannya saat mencoba membuat pupuk organik secara mandiri. Namun, ia mengaku menghentikan kegiatan tersebut karena mengalami gangguan pada kulit setelah proses pengolahan.
"Saya pernah membuat pupuk organik sendiri, tetapi kaki saya terkena kutu air sehingga saya berhenti. Saya berharap para narasumber dapat memberikan cara pembuatan pupuk organik yang benar dan aman sehingga tidak menimbulkan masalah kesehatan," ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, Tirto Wahyu Widodo menjelaskan bahwa pengolahan limbah kotoran ayam harus dilakukan melalui proses fermentasi sesuai prosedur serta memperhatikan aspek kebersihan dan keselamatan kerja. Penggunaan alat pelindung diri, seperti sarung tangan dan sepatu bot, juga diperlukan untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan selama proses pengolahan.
Doktor Yuanna menambahkan bahwa pemanfaatan limbah ternak sebagai pupuk organik tidak hanya mampu menekan biaya produksi pertanian, tetapi juga membantu memperbaiki kualitas tanah dan mengurangi pencemaran lingkungan. Menurutnya, teknologi tepat guna yang diterapkan secara konsisten dapat meningkatkan produktivitas usaha tani sekaligus menciptakan sistem pertanian yang lebih berkelanjutan.
Pelatihan diakhiri dengan sesi tanya jawab antara peserta dan narasumber mengenai teknik pembuatan pupuk organik, penanganan limbah peternakan, serta penerapan teknologi tepat guna yang dapat disesuaikan dengan kondisi lahan dan usaha peternakan di Desa Tamansari. (riz)