Oleh : Dinas Ketahanan Pangan, Peternakan dan Perikanan
Program Bioflok KKP Masih Dibuka, 21 KDMP di Jember Jalani Pra-Verifikasi
- 25 Mei 2026
- Dibaca 595 Kali
Bagikan Via:
Program Bioflok KKP Masih Dibuka, 21 KDMP di Jember Jalani Pra-Verifikasi
JEMBER, 25 MEI 2026 – Program Tematik Bioflok Budidaya Ikan Nila dan Lele dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) masih membuka pendaftaran bagi Kelompok Desa Merah Putih (KDMP) yang memiliki lahan minimal 1.000 meter persegi. Program ini menjadi salah satu upaya pemerintah dalam mendukung ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kemandirian ekonomi desa melalui sektor perikanan budidaya.
Melalui program tersebut, peserta akan mendapatkan berbagai fasilitas bantuan, mulai dari kolam bioflok, mesin dan peralatan budidaya, benih ikan unggul, pakan awal, hingga pendampingan teknis dan manajemen usaha budidaya sampai tahun 2029.Teknologi bioflok sendiri merupakan metode budidaya ikan dengan memanfaatkan mikroorganisme untuk menjaga kualitas air, menekan biaya pakan, serta meningkatkan produktivitas usaha secara berkelanjutan. Komoditas yang menjadi fokus program yakni ikan nila dan ikan lele.APHP Ahli Pertama, Rizky Dewantara, menyampaikan bahwa saat ini proses pendataan dan pra-verifikasi terus dilakukan terhadap kelompok yang mengusulkan bantuan program bioflok di Kabupaten Jember.“Untuk saat ini total ada 21 KDMP yang dilakukan pra-verifikasi untuk bantuan budidaya tematik bioflok di Jember,” ujarnya pada Senin, 25 Mei 2026.Sementara itu, Kepala Bidang Perikanan Dinas Ketahanan Pangan, Peternakan dan Perikanan Kabupaten Jember, Mohammad Adi Selamet, S.Pi., M.Pi, mengatakan program bioflok menjadi peluang besar bagi KDMP untuk mengembangkan usaha budidaya perikanan yang modern dan berkelanjutan.“Program bioflok ini tidak hanya mendukung peningkatan produksi perikanan, tetapi juga menjadi langkah nyata dalam memperkuat ketahanan pangan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat desa. Kami berharap kelompok yang mengikuti program ini dapat memanfaatkan bantuan secara optimal dan berkelanjutan,” ungkapnya.Ia menambahkan, salah satu syarat utama program ini adalah lahan yang digunakan bukan termasuk LSD (Lahan Sawah Dilindungi). Selain itu, kelompok peserta juga harus bersedia mengikuti pendampingan dan mengelola usaha budidaya secara berkelanjutan hingga tahun 2029.Program bioflok dinilai memiliki banyak keuntungan, di antaranya produktivitas tinggi, hemat air dan lahan, efisiensi biaya pakan, ramah lingkungan, serta mampu meningkatkan pendapatan masyarakat desa.Pendaftaran dan pengusulan proposal program masih dibuka hingga 26 Mei 2026. Setelah tahapan seleksi dan verifikasi pada Juni–Juli 2026, penyaluran bantuan dan pembangunan direncanakan berlangsung mulai Agustus hingga Desember 2026. (ran)