logo ppid jember kim
Oleh : Kecamatan Sumbersari

Setelah Verifikasi, Sasaran Home Care Gladak Pakem Menyusut dari 280 Jadi 145 Orang

  • 19 September 2026
  • Dibaca 16 Kali
Bagikan Via:
setelah-verifikasi-sasaran-home-care-gladak-pakem-menyusut-dari-280-jadi-145-orang-20260920

Setelah Verifikasi, Sasaran Home Care Gladak Pakem Menyusut dari 280 Jadi 145 Orang

JEMBER, 19 SEPTEMBER 2026 - Puskesmas Gladak Pakem, Kecamatan Sumbersari, Jember, melakukan verifikasi terhadap data sasaran program Home Care yang sebelumnya tercatat sebanyak 280 orang. Setelah dilakukan pengecekan langsung di lapangan, tepatnya pada kunjungan bulan Agustus, jumlah sasaran yang dinilai sesuai kriteria menyusut menjadi 145 orang.

Data tersebut, bersumber dari dua kelurahan di Kecamatan Sumbersari, yakni Kelurahan Kebonsari dan Kranjingan.

Kepala Puskesmas Gladak Pakem, dr. Tunsiah menjelaskan, perubahan jumlah tersebut terjadi setelah tim melakukan validasi terhadap seluruh data yang diberikan pada awal pelaksanaan Home Care.

“Dari 280 sasaran yang awalnya diberikan, setelah verifikasi bulan Agustus akhirnya tersisa 145 sasaran yang akan kita lakukan tindak lanjut,” ujarnya, saat evaluasi program Home Care di Kecamatan Sumbersari, yang bertempat di Puskesmas Sumbersari, Kecamatan Sumbersari, Jember, Jumat 18 September 2026.

Verifikasi dilakukan pada sejumlah kategori sasaran Home Care. Tim tidak hanya memastikan keberadaan warga, tetapi juga mencocokkan kondisi mereka dengan kategori yang menjadi target program.

Dalam proses tersebut, ditemukan sejumlah data yang sudah tidak lagi masuk kriteria. Pada kategori ibu nifas, misalnya, dari 37 sasaran yang tercatat pada awal Agustus, terdapat lima orang yang sudah selesai masa nifasnya. Dengan demikian, tersisa 32 sasaran.

Sementara pada kategori anak stunting, dari 151 sasaran terdapat 115 anak yang usianya sudah lebih dari dua tahun, sehingga hanya menyisakan 36 sasaran.

“Untuk program ini kami lebih fokus pada yang di bawah dua tahun karena lebih bisa memberikan intervensi. Sehingga sasaran yang di atas dua tahun kita keluarkan,” jelasnya.

Perubahan juga terjadi pada kategori penyandang disabilitas. Dari data awal sebanyak 65 sasaran di dua wilayah, setelah dilakukan Home Care tersisa 41 sasaran. Beberapa data tidak dapat dilanjutkan karena meninggal, alamat tidak ditemukan, atau sudah berpindah wilayah.

“Untuk kategori lansia yang tinggal seorang diri. Dari 19 sasaran, satu orang tidak lagi dapat ditindaklanjuti lantaran sudah meninggal, sehingga tersisa 18 sasaran,” imbuhnya.

Menurutnya, proses verifikasi penting dilakukan agar tenaga kesehatan tidak hanya berpedoman pada data awal, tetapi memastikan sasaran yang dikunjungi benar-benar sesuai dengan kriteria Home Care.

Di sisi lain, hingga 11 September 2026, kunjungan terhadap sasaran yang telah diverifikasi baru mencapai 36,55 persen. Capaian tersebut masih akan terus dikejar melalui penjadwalan dan koordinasi dengan kader, bidan, serta perangkat wilayah.

Pelaksanaan Home Care juga menghadapi sejumlah kendala di lapangan. Di antaranya alamat pasien yang tidak lengkap, keterbatasan tenaga kesehatan dan peralatan, jaringan internet untuk pelaporan ke Sistem Informasi Kesehatan (Simkes), hingga adanya warga yang tidak bersedia menerima kunjungan di rumah.

Selain itu Kepala Puskesmas Gladak Pakem mengatakan, hasil kunjungan juga harus segera dimasukkan ke dalam sistem agar capaian yang terbaca sesuai dengan kondisi sebenarnya di lapangan.

“Kalau sudah dilakukan kunjungan tetapi tidak dimasukkan ke Simkes. Kalau tidak, nanti datanya seolah-olah belum dilakukan kunjungan. Jadi ini juga menjadi evaluasi kami agar setelah kunjungan hasilnya segera di-entry,” katanya.

Sementara, Camat Sumbersari, Deni Hadiatullah, S.IP., MM., mengatakan pemerintah perlu memiliki gambaran yang lebih utuh mengenai kondisi di lapangan. Menurutnya, data jumlah kunjungan saja belum cukup untuk menjadi dasar evaluasi.

“Karena kami tidak akan melihat data saja sebagai standar dari suatu keberhasilan. Tapi kami harus bisa membaca bagaimana respons masyarakat, seperti apa respons masyarakat,” kata Deni.

Ia menilai kondisi tersebut perlu disikapi dengan pendekatan yang tepat. Pemerintah kecamatan tidak hanya ingin mengetahui siapa saja yang sudah menerima kunjungan, tetapi juga memahami alasan ketika ada masyarakat yang belum bersedia menerima layanan.

“Jadi kita harus pahami, mengapa sasaran menolak dikunjungi tim Home Care,” tandasnya. (fat)

Galeri Foto