Bakesbangpol Satukan Akademisi dan Tokoh Agama
- 07 Agustus 2026
- Dibaca 62 Kali
Bagikan Via:
Bakesbangpol Satukan Akademisi dan Tokoh Agama
JEMBER, 7 Agustus 2026 – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Jember menggelar Diskusi Terpadu Tokoh Agama dan Akademisi di halaman Kantor Bakesbangpol Kabupaten Jember, Jumat (7/8/2026) malam. Kegiatan yang dimulai pukul 20.00 WIB tersebut menjadi forum strategis untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah daerah, tokoh agama, akademisi, dan mahasiswa dalam membangun kerukunan, memperkuat toleransi, serta mendorong pembangunan daerah berbasis ilmu pengetahuan dan riset.
Diskusi dipimpin langsung oleh Kepala Bakesbangpol Kabupaten Jember, Lingga Diputra, S.Sos., didampingi Sekretaris Bakesbangpol Poerwahjoedi, S.E., M.M., serta seluruh kepala bidang, yakni M. Syamsu Rijal, S.H., M.H., Dwi Handarisasi, S.Psi., M.Si., Mega Wulandari, S.STP., M.M., dan Teguh Kurniawan, S.Sos. Hadir pula jajaran pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Jember beserta perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan mahasiswa dari 19 perguruan tinggi negeri maupun swasta di Kabupaten Jember.
Kegiatan ini diselenggarakan sebagai upaya memperkuat komunikasi lintas sektor dalam menghadapi tantangan kehidupan masyarakat yang semakin kompleks, mulai dari isu toleransi, perkembangan ilmu pengetahuan, hingga ancaman penyebaran paham radikalisme di lingkungan kampus.
Dalam sambutannya, Kepala Bakesbangpol Kabupaten Jember, Lingga Diputra, menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak hanya bertumpu pada pembangunan fisik, tetapi juga membutuhkan penguatan karakter bangsa, kerukunan sosial, serta kolaborasi seluruh elemen masyarakat.
Menurutnya, perguruan tinggi memiliki posisi strategis sebagai pusat lahirnya gagasan, inovasi, dan calon pemimpin masa depan. Karena itu, sinergi antara pemerintah daerah, akademisi, tokoh agama, dan mahasiswa harus terus diperkuat agar pembangunan di Kabupaten Jember berjalan secara harmonis, inklusif, dan berkelanjutan.
Diskusi menghadirkan tiga narasumber dari kalangan akademisi dan tokoh agama. Narasumber pertama, Prof. Agus Trihartono, S.Sos., M.A., Ph.D., Akademisi Universitas Jember, menyampaikan materi bertajuk Merawat Kerukunan, Menumbuhkan Pengetahuan, Membangun Peradaban. Ia menjelaskan bahwa kemajuan suatu daerah dibangun di atas tiga pilar utama, yakni modal sosial berupa kerukunan, modal pengetahuan melalui riset, dan modal kelembagaan yang mampu mengelola kolaborasi.
Menurut Prof. Agus, kerukunan menjadi fondasi lahirnya kepercayaan, kepercayaan melahirkan kolaborasi, kolaborasi menghasilkan pengetahuan, dan pengetahuan akan menghadirkan kebijaksanaan yang bermuara pada pembangunan yang dirasakan seluruh masyarakat.
Ia juga menekankan pentingnya budaya riset sebagai bentuk kerendahan hati akademik. Menurutnya, riset selalu dimulai dengan kesadaran bahwa manusia belum mengetahui seluruh jawaban atas berbagai persoalan sehingga diperlukan penelitian dan kolaborasi untuk menemukan solusi terbaik.
Prof. Agus juga mendorong FKUB memasuki babak baru sebagai knowledge mediator, yakni ruang yang mempertemukan nilai-nilai keagamaan dengan ilmu pengetahuan sehingga kerukunan tidak hanya menjaga stabilitas sosial, tetapi juga menjadi modal pembangunan berbasis data dan riset.
Sementara itu, narasumber kedua, Dr. Evi Lestari, S.E., M.Si., menyampaikan materi bertema "Generasi Tangguh dan Toleran: Kunci Sinergi PTN dan PTS dalam Menyukseskan Pembangunan Kabupaten Jember."
Ia mengungkapkan bahwa Jember memiliki modal besar sebagai kota pendidikan dengan lebih dari 20 perguruan tinggi negeri dan swasta. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya terorkestrasi menjadi kekuatan pembangunan daerah.
Menurutnya, berbagai hasil penelitian di perguruan tinggi masih belum terhubung secara optimal dengan kebijakan pemerintah. Karena itu diperlukan sinergi antara pemerintah, dunia pendidikan, dunia usaha, dan masyarakat agar riset benar-benar mampu memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat.
Dr. Evi menegaskan bahwa generasi masa depan tidak cukup hanya tangguh secara intelektual, tetapi juga harus memiliki sikap toleran, terbuka terhadap perbedaan, dan mampu bekerja sama lintas institusi. Ia mengajak seluruh perguruan tinggi di Jember membangun budaya Cinta Riset sebagai langkah awal menuju pembangunan berbasis pengetahuan.
Materi ketiga disampaikan Ketua FKUB Kabupaten Jember, Dr. KH. Abdul Muis Sonhaji, S.Ag., M.Si., yang mengangkat tema Peran Toleransi Beragama dalam Perguruan Tinggi.
Ia menjelaskan bahwa kampus merupakan miniatur masyarakat Indonesia yang majemuk sehingga harus menjadi ruang aman bagi seluruh mahasiswa tanpa membedakan agama maupun latar belakang.
Menurutnya, toleransi menjadi benteng utama dalam mencegah munculnya eksklusivisme dan radikalisme di lingkungan akademik. Ia memaparkan sejumlah hasil penelitian nasional yang menunjukkan masih adanya paparan paham radikal di sejumlah perguruan tinggi, sehingga diperlukan langkah konkret berupa penguatan regulasi kampus, integrasi moderasi beragama dalam pembelajaran, peningkatan literasi digital, pengembangan ruang dialog lintas agama, serta pengawasan organisasi kemahasiswaan.
Ia menambahkan bahwa dosen dan tenaga pendidik memiliki peran penting sebagai mentor moral yang mampu mendeteksi perubahan perilaku mahasiswa sekaligus membimbing mereka menjadi generasi yang moderat, inklusif, dan berkomitmen terhadap Pancasila serta Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Setelah seluruh materi dipaparkan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi interaktif dan tanya jawab. Para mahasiswa, akademisi, dan tokoh agama memanfaatkan forum tersebut untuk bertukar pandangan mengenai penguatan kerukunan, pembangunan berbasis riset, serta strategi membangun kampus yang inklusif dan bebas dari paham radikalisme.
Melalui kegiatan ini, Bakesbangpol Kabupaten Jember menegaskan komitmennya untuk terus membangun ruang dialog yang konstruktif antara pemerintah, tokoh agama, akademisi, dan generasi muda sebagai bagian dari upaya memperkuat persatuan, menjaga kondusivitas daerah, serta mewujudkan Jember sebagai kabupaten yang maju, harmonis, berdaya saing, dan berlandaskan nilai-nilai kebangsaan.(but)