Warga Dusun Loncatan Ajung Mulai Dilanda Kekeringan, BPBD Jember Lakukan Assessment dan Pantau Ketersediaan Air
- 25 September 2026
- Dibaca 1 Kali
Bagikan Via:
Warga Dusun Loncatan Ajung Mulai Dilanda Kekeringan, BPBD Jember Lakukan Assessment dan Pantau Ketersediaan Air
JEMBER, 25 September 2026 — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember melakukan assessment potensi bencana kekeringan di Dusun Loncatan, Desa Mangaran, Kecamatan Ajung, Jumat, 25 September 2026. Langkah ini dilakukan menyusul laporan warga yang mulai mengalami kesulitan mendapatkan air bersih akibat sumur-sumur yang mengering selama musim kemarau.
Assessment tersebut merupakan tindak lanjut atas Surat Keputusan Bupati Jember Nomor 100.3.3.2/206/1.12/2026 tentang Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan dan Kebakaran Hutan dan Lahan Kabupaten Jember Tahun 2026, serta perintah Kepala BPBD Kabupaten Jember untuk memantau wilayah yang berpotensi terdampak kekeringan.
Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Jember dipimpin menuju lokasi sejak sore hari untuk melakukan koordinasi dengan perangkat lingkungan dan warga setempat. Kegiatan yang dilakukan meliputi pendataan warga terdampak, pengecekan kondisi sumur warga, hingga peninjauan sumber mata air di sekitar lokasi.
Hasil assessment menunjukkan kekeringan berdampak pada tiga wilayah rukun tetangga (RT) di RW 15 Dusun Loncatan. Sebanyak 30 kepala keluarga (KK) di RT 03, 35 KK di RT 04, dan 30 KK di RT 05 mengalami penurunan ketersediaan air bersih. Total terdapat 95 KK yang terdampak kondisi tersebut.
Tim Reaksi Cepat BPBD Kabupaten Jember, Iwan Mujiartono, mengatakan bahwa menurunnya debit air sumur menjadi penyebab utama kesulitan air yang dialami warga.
“Sebagian besar sumur warga mulai mengalami penurunan debit bahkan ada yang hampir mengering. Kondisi ini berdampak pada pemenuhan kebutuhan sehari-hari, seperti memasak, mandi, mencuci, dan kebutuhan domestik lainnya. Karena itu kami melakukan assessment untuk mengetahui tingkat kerawanan dan menyiapkan langkah penanganan lebih lanjut,” ujar Iwan.
Menurut dia, warga sementara ini melakukan upaya mandiri untuk mempertahankan ketersediaan air. Mereka menyewa mesin penyedot air atau alkon dengan biaya sekitar Rp120.000 selama empat jam untuk mengambil air dari sungai terdekat. Air tersebut kemudian dialirkan ke lahan di sekitar sumur agar meresap dan membantu meningkatkan debit air tanah.
“Cara ini cukup membantu warga karena air yang meresap dapat mengisi kembali sumur dan diperkirakan dapat memenuhi kebutuhan selama sekitar 10 hari ke depan. Namun kondisi ini tetap perlu dipantau karena bergantung pada tingkat kekeringan yang terjadi,” kata Iwan.
BPBD Jember merekomendasikan assessment ulang dalam kurun 20 hingga 30 hari mendatang guna memantau perkembangan kondisi air sumur warga. Selain itu, hasil kajian lapangan akan diteruskan kepada organisasi perangkat daerah terkait, seperti Dinas PUPR dan Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Cipta Karya, untuk penanganan lebih lanjut.
Kepala BPBD Kabupaten Jember, Dr. Drs. Edy Budi Susilo, M.Si., menegaskan bahwa pihaknya terus melakukan pemantauan wilayah rawan kekeringan selama musim kemarau agar penanganan dapat dilakukan secara cepat dan tepat.
“Assessment ini menjadi dasar dalam menentukan langkah penanganan, baik distribusi air bersih maupun solusi jangka panjang untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat,” ujar Edy Budi Susilo.(tgh)