logo ppid jember kim
Oleh : Kecamatan Wuluhan

Wuluhan Gandeng Sekolah dan KUA Tekan Pernikahan Dini

  • 25 Mei 2026
  • Dibaca 183 Kali
Bagikan Via:
wuluhan-gandeng-sekolah-dan-kua-tekan-pernikahan-dini-20260526

Wuluhan Gandeng Sekolah dan KUA Tekan Pernikahan Dini

JEMBER, 25 MEI 2026 – Kasus pernikahan dini yang masih ditemukan di sejumlah wilayah Kecamatan Wuluhan menjadi perhatian serius pemerintah setempat. Upaya pencegahan pun diperkuat melalui sosialisasi kesehatan reproduksi dan pencegahan stunting yang melibatkan sekolah, tenaga kesehatan, hingga Kantor Urusan Agama (KUA).

Kegiatan yang berlangsung di Pendopo Kecamatan Wuluhan, awal pekan kemarin itu, diikuti guru bimbingan konseling (BK) tingkat SD, SMP, dan SMK se-Kecamatan Wuluhan. Hadir pula Ketua Komisi D DPRD Jember, Muspika Wuluhan, Kepala UPT Puskesmas Wuluhan dan Lojejer, Koordinator PKB Wuluhan, serta jajaran KUA Wuluhan.

Camat Wuluhan Hanifah, S.Pt., M.Si., menegaskan bahwa pernikahan usia dini tidak bisa dianggap persoalan sepele. Selain berdampak pada masa depan anak, kondisi tersebut juga memicu persoalan sosial, ekonomi, hingga kesehatan ibu dan anak.

“Pencegahan harus dilakukan bersama. Sekolah, keluarga, dan lingkungan punya peran penting untuk memberikan pemahaman kepada remaja,” ujarnya, dalam keterangan tertulis yang diperoleh, Senin 25 Mei 2026.

Menurut Hanifah, edukasi kepada pelajar perlu diperkuat agar remaja memahami batas usia pernikahan sesuai aturan hukum serta risiko yang muncul apabila menikah di usia belum matang. Karena itu, guru BK dinilai menjadi ujung tombak dalam pendampingan siswa di lingkungan sekolah.

Kepala KUA Wuluhan Muhammad Subkhan Zain, S.H., menambahkan, pernikahan dini kerap dipicu berbagai faktor. Mulai persoalan ekonomi keluarga, rendahnya pendidikan, pengaruh lingkungan, media sosial, hingga pergaulan bebas yang berujung kehamilan di luar nikah.

“Tujuan pernikahan bukan sekadar menikah muda, tetapi membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Karena itu, kesiapan mental dan ekonomi harus benar-benar diperhatikan,” katanya.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Wuluhan Ns. Andi Sukismanto, S.Kep., menyoroti pentingnya edukasi kesehatan reproduksi di kalangan remaja. Menurut dia, masa remaja menjadi fase rawan karena banyak perubahan fisik maupun psikologis yang terjadi dalam waktu bersamaan.

Ia menjelaskan, persoalan remaja tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik, seperti gangguan pertumbuhan, masalah gizi, dan pubertas dini, tetapi juga menyangkut perilaku berisiko. Di antaranya penyalahgunaan narkotika dan zat adiktif, kebiasaan merokok, hubungan seksual pranikah, hingga pernikahan usia muda.

Selain itu, persoalan psikologis remaja juga menjadi perhatian. Mulai depresi, tekanan mental, hingga masalah belajar yang dapat memengaruhi perkembangan anak.

“Guru dan orang tua harus hadir sebagai pendamping remaja. Jangan sampai anak mencari informasi dari lingkungan yang salah,” tegasnya.

Melalui sosialisasi tersebut, pemerintah berharap keterlibatan sekolah dan keluarga semakin kuat dalam mengawasi sekaligus mendampingi remaja. Langkah itu dinilai penting untuk menekan angka pernikahan dini serta mencegah lahirnya persoalan kesehatan dan stunting di kemudian hari. (riz)

Galeri Foto