Bupati Fawait Bertemu Pelaku UMKM dan Petani di Hari Kedua Bunga Desaku Mumbulsari
- 07 April 2026
- Dibaca 180 Kali
Bagikan Via:
Bupati Fawait Bertemu Pelaku UMKM dan Petani di Hari Kedua Bunga Desaku Mumbulsari
JEMBER, 07 APRIL 2026 - Bupati Jember Muhammad Fawait memanfaatkan agenda Bunga Desaku hari kedua di Kecamatan Mumbulsari untuk bertatap muka langsung dengan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pedagang mlijo, serta petani. Pertemuan yang berlangsung di Balai Desa Suco, Selasa, 07 April 2026, menjadi ruang dialog antara pemerintah daerah dan masyarakat akar rumput.
Camat Sumbersari Deni Hadiatullah, S.IP., MM., yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, menyampaikan dukungan penuh terhadap inisiatif bupati. Menurutnya, pertemuan langsung seperti ini sangat penting untuk mendekatkan pelayanan pemerintah kepada warga di tingkat desa.
“Dukungan penuh dari kami selaku camat untuk program Bunga Desaku. Ini menjadi wadah efektif bagi bupati mendengar aspirasi langsung dari masyarakat, sekaligus menyampaikan program-program prioritas Pemkab Jember,” ujar Deni Hadiatullah.
Dalam kesempatan itu, Bupati Fawait yang biasa dipanggil Gus Fawait menegaskan bahwa pemerintah daerah mulai memberi perhatian lebih serius terhadap pelaku ekonomi kecil yang selama ini dinilai kurang tersentuh kebijakan. Ia memperkenalkan sejumlah program, salah satunya “Mlijo Cinta” yang disertai keringanan bunga pinjaman bagi pelaku UMKM dan pedagang keliling.
“Saya tahu bertahun-tahun UMKM dan mlijo kurang mendapat perhatian. Padahal saat krisis, mereka yang jadi garda terdepan menyelamatkan ekonomi,” ujar Gus Fawait di hadapan ratusan peserta.
Ia meminta agar bantuan yang diberikan tidak disalahgunakan, termasuk fasilitas rombong dalam program Mlijo Cinta agar tidak diperjualbelikan. Fawait juga menekankan pentingnya penyebaran informasi program kesehatan. Pemkab Jember telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp400 miliar untuk menjamin layanan kesehatan masyarakat melalui skema Universal Health Coverage (UHC).
“Kalau sakit atau hamil, jangan takut ke rumah sakit. Semua ditanggung Pemkab Jember,” katanya. Ia meminta masyarakat yang hadir untuk turut menyosialisasikan program tersebut kepada lingkungan sekitar.
Dialog berlangsung dua arah. Perwakilan kelompok tani, Abdul Khodir, menyampaikan sejumlah aspirasi langsung. Ia mempertanyakan belum adanya insentif bagi kelompok tani, berbeda dengan RT/RW yang telah mendapatkan dukungan anggaran. Selain itu, ia meminta program pupuk organik diperkuat serta perbaikan jalan usaha tani (JUT) diprioritaskan guna memudahkan distribusi hasil panen.
Menanggapi hal itu, Gus Fawait menjelaskan bahwa pemerintah saat ini memprioritaskan peningkatan produktivitas melalui program optimalisasi lahan (oplah). Pada 2025, program tersebut mencakup sekitar 4.400 hektare lahan dengan melibatkan 107 kelompok tani. Sementara pada 2026, targetnya meningkat menjadi 7.000 hektare dengan 350 kelompok tani.
Di sisi lain, pemerintah mengalokasikan anggaran sekitar Rp38 miliar untuk alat dan mesin pertanian (alsintan) pada 2025, serta membangun 100 titik irigasi pompa. Namun untuk pembangunan JUT, Fawait mengakui belum menjadi prioritas utama.
“JUT tetap jadi perhatian, tapi saat ini kami fokus ke oplah yang langsung berdampak ke produktivitas,” ujarnya.
Terkait pupuk organik, Fawait justru mendorong kelompok tani untuk mandiri memproduksi sendiri. Menurutnya, jika pemerintah yang memproduksi, justru berpotensi menjadi pesaing bagi petani.
“Kelompok tani kami beri kesempatan untuk mengembangkan pupuk organik sendiri,” katanya.
Pertemuan ini memperlihatkan upaya pemerintah daerah membangun komunikasi langsung dengan masyarakat sekaligus menguji respons terhadap berbagai program yang tengah dijalankan. Di satu sisi, pemerintah menawarkan intervensi konkret seperti Mlijo Cinta, UHC, dan optimalisasi lahan. Di sisi lain, masyarakat tetap menuntut pemerataan dukungan hingga ke level paling bawah.
Kegiatan Bunga Desaku sendiri merupakan program unggulan Pemkab Jember untuk mendekatkan layanan publik ke pelosok desa, sekaligus membuka ruang dialog yang lebih inklusif. (dan)