Pengelolaan Cagar Alam Watangan Dievaluasi, Konservasi dan Wisata Jadi Perhatian
- 26 Mei 2026
- Dibaca 48 Kali
Bagikan Via:
Pengelolaan Cagar Alam Watangan Dievaluasi, Konservasi dan Wisata Jadi Perhatian
JEMBER, 26 MEI 2026 – Pengelolaan kawasan konservasi Cagar Alam Watangan di Desa Lojejer, Kecamatan Wuluhan, kembali menjadi perhatian. Kamis, 21 Mei 2026. Sejumlah instansi lintas sektor menggelar penilaian efektivitas pengelolaan kawasan konservasi di Dorang Cafe Puger. Kegiatan tersebut menjadi bagian evaluasi untuk memperkuat perlindungan kawasan hutan konservasi di wilayah pesisir selatan Jember.
Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 08.30 WIB hingga 13.10 WIB itu dihadiri unsur Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Dinas Kehutanan, Perhutani, Forkopimcam Wuluhan, pemerintah desa, hingga aparat keamanan. di antaranya perwakilan Dinas Perhutani Kabupaten Jember Ariyanti, BKSDA Basya, Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur Suroso, Penyuluh Kehutanan Rahmad, Kepala Desa Lojejer M. Sholeh, Batuud Koramil 0824/23 Wuluhan Peltu Joko Prayitno, perwakilan Polsek Wuluhan Aiptu Eko S., Pol Airud Aiptu Agus R., serta Kasi PKKU Kecamatan Wuluhan Iqbal Basit.
Kasi BKSDA Perhutani Banyuwangi, Dwi Sugiarto mengatakan, penilaian efektivitas pengelolaan kawasan konservasi dilakukan untuk memastikan fungsi ekologis Cagar Alam Watangan tetap terjaga. Menurut dia, kawasan konservasi memiliki peran penting sebagai penyangga lingkungan sekaligus habitat alami berbagai flora dan fauna.
“Konservasi tidak bisa dilakukan sendiri. Harus ada kolaborasi semua pihak, mulai pemerintah, aparat, hingga masyarakat sekitar kawasan,” katanya saat memberikan sambutan.
Dia menambahkan, evaluasi pengelolaan kawasan diperlukan untuk mengetahui berbagai kendala di lapangan, termasuk pengawasan kawasan dan potensi gangguan lingkungan. Karena itu, sinergi lintas sektor dinilai menjadi kunci menjaga keberlangsungan kawasan konservasi.
Sementara itu, Camat Wuluhan Hanifah S.Pt., M.Si. menilai kawasan Cagar Alam Watangan memiliki potensi besar yang harus dijaga bersama. Selain berfungsi sebagai kawasan konservasi, wilayah tersebut juga memiliki potensi wisata alam, termasuk kawasan Pantai Kucur yang mulai dikenal masyarakat.
Menurut Hanifah, pengembangan wisata harus berjalan seimbang dengan upaya pelestarian lingkungan. Dia mengingatkan agar aktivitas wisata tidak sampai merusak ekosistem kawasan konservasi.
“Jangan sampai potensi wisata berkembang, tetapi kelestarian alam justru terabaikan. Konservasi tetap harus menjadi prioritas utama,” ujarnya.
Dia juga mengajak masyarakat ikut menjaga kebersihan dan keamanan kawasan pesisir maupun hutan konservasi. Sebab, keberadaan kawasan tersebut dinilai memiliki dampak jangka panjang terhadap keseimbangan lingkungan di wilayah selatan Jember.
Selain pemaparan materi, kegiatan itu diisi diskusi terkait evaluasi pengelolaan kawasan konservasi, penguatan pengawasan lapangan, hingga upaya edukasi lingkungan kepada masyarakat sekitar. Aparat TNI, Polri, dan Pol Airud turut menyatakan komitmennya mendukung pengamanan kawasan konservasi dari potensi perusakan lingkungan maupun aktivitas ilegal. (riz)