Sekretaris Komisi A DPRD Jember Nilai Anggaran Program Bunga Desaku Sebanding dengan Dampak bagi Masyarakat
- 09 April 2026
- Dibaca 289 Kali
Bagikan Via:
Sekretaris Komisi A DPRD Jember Nilai Anggaran Program Bunga Desaku Sebanding dengan Dampak bagi Masyarakat
JEMBER, 09 APRIL 2026 - Program Bupati Ngantor di Desa dan Kelurahan atau yang dikenal sebagai "Bunga Desaku" terus digulirkan oleh Bupati Jember, Muhammad Fawait, sebagai sarana menyerap aspirasi warga secara langsung.
Meski program ini sempat memicu perdebatan karena alokasi APBD yang dianggap besar, pandangan berbeda justru datang dari legislatif.
Sekretaris Komisi A DPRD Kabupaten Jember, Siswono, menyatakan kekagumannya setelah mengikuti rangkaian kegiatan tersebut di Kecamatan Mumbulsari selama dua hari, Senin-Selasa, 6-7 April 2026.
Ia mengaku melihat urgensi program ini setelah memantau dari tahap awal.
"Sebelumnya, saya memang kurang mengikuti kegiatan ini, tetapi kebetulan memang berada di Dapil saya, jadi saya mengikuti sejak dari tahap persiapan hingga pelaksanaan," tutur Siswono, melalui pesan suara WhatsApp, Kamis 09 April 2026.
Politisi Partai Gerindra ini menilai, salah satu keunggulan Gus Fawait, panggilan akrab sang Bupati Jember, terletak pada cara komunikasinya yang merakyat.
Penggunaan bahasa daerah dianggap efektif dalam menjembatani informasi kepada warga yang tidak memiliki akses teknologi.
"Ya, kita kan sudah mengikuti beberapa kepemimpinan Bupati sebelum nya (tanpa bermaksud membandingkan), Gus Fawait ini memang berbeda," ujarnya.
Ia menambahkan, "Karena menggunakan bahasa sehari hari, kebanyakan kalau disini masyarakat Madura, jadi cara komunikasi Gus Fawait mudah dipahami."
Menurut Siswono, kehadiran Bupati di tengah desa menjadi jawaban bagi masyarakat awam yang minim gawai.
"Banyak program, yang sebelumnya masyarakat tidak mengerti, dengan adanya program Bunga Desaku ini, masyarakat jadi mengerti," imbuhnya.
Selama di Mumbulsari, berbagai isu strategis seperti beasiswa, pemberdayaan UMKM, hingga optimalisasi Puskesmas dikupas tuntas.
"Gus Bupati sangat rinci dan detail menjelaskan semuanya, mulai dari tujuan program, penggunaan keuangannya hingga nilai keuntungannya," tegas Siswono.
Menariknya, program ini juga menjadi momen refleksi bagi Siswono. Sebagai anggota dewan, ia merasa program jemput bola ini menunjukkan masih adanya celah dalam pengabdian kepada masyarakat.
"Saya sebagai wakil rakyat, justru merasa malu, ternyata masih banyak yang belum saya kerjakan," ungkapnya jujur.
Ia melihat Bunga Desaku sebagai instrumen untuk menghadirkan rasa keadilan bagi masyarakat kecil.
"Kehadiran Gus Bupati, dapat menjadi secercah harapan bagi masyarakat kalangan bawah, bukan hanya kaum elit saja yang dapat pelayanan, namun rakyat bawah juga mendapatkan perhatian setara," terangnya.
Tak hanya sekadar dialog, program ini terbukti memberikan solusi cepat. Saat banjir melanda Mumbulsari di tengah kegiatan, respons cepat langsung diberikan.
"Gus Fawait langsung turun ke lokasi, dan mendatangkan alat berat untuk menangani penyebab banjir," kata Siswono.
Bunga Desaku juga menjadi wadah perencanaan pembangunan tahun 2027, di mana usulan petani terkait pupuk organik langsung dicatat oleh jajaran OPD.
Atas dasar efektivitas tersebut, Siswono menyatakan dukungan penuh agar program ini diteruskan. "Kami, bersama partai pengusung Bupati Jember, bersepakat untuk mendukung program Bunga Desaku ini," tegasnya.
Terkait biaya, ia menilai hasil yang dirasakan masyarakat jauh lebih berharga. "Ya, saya kira penggunaan dana besar, sebanding dengan hasil yang di capai."
Ia pun memaklumi jika masih terdapat kekurangan kecil mengingat masa jabatan Bupati yang baru berjalan satu tahun.
"Ya, kan maklum Gus Bupati masih satu tahun menjalankan pemerintahan, pasti ada kekurangannya," pungkasnya sembari mengajak masyarakat untuk memberikan kritik secara santun dan objektif. (gil)