logo ppid jember kim
Oleh : Badan Penanggulangan Bencana Daerah

185 KK di Baratan Jember Terancam Krisis Air Bersih, Sumur Mengering hingga Tak Layak Konsumsi

  • 13 Oktober 2026
  • Dibaca 14 Kali
Bagikan Via:
185-kk-di-baratan-jember-terancam-krisis-air-bersih-sumur-mengering-hingga-tak-layak-konsumsi-20261013

185 KK di Baratan Jember Terancam Krisis Air Bersih, Sumur Mengering hingga Tak Layak Konsumsi

JEMBER, 13 OKTOBER 2026 – Krisis air bersih akibat musim kemarau mulai membebani warga Lingkungan Glisat, Kelurahan Baratan, Kecamatan Patrang, Kabupaten Jember. Hasil asesmen Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember menunjukkan, sebagian besar sumur warga mengalami penurunan ketersediaan air, bahkan mengering hingga dasar sumur terlihat. Kondisi ini berdampak pada terbatasnya akses air bersih bagi sedikitnya 185 kepala keluarga (KK).

Temuan tersebut diperoleh Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Jember saat melakukan tindak lanjut asesmen kekeringan pada Selasa (13/10/2026). Pemeriksaan dilakukan bersama perangkat RT/RW setempat untuk mengetahui kondisi sumber air dan kebutuhan warga terdampak.

Berdasarkan hasil pendataan, dampak kekeringan tersebar di tiga wilayah. Di RT 03/RW 05 terdapat sekitar 75 KK terdampak, RT 02/RW 04 sebanyak 40 KK, serta RT 03 dan RT 04/RW 04 sebanyak 70 KK. Total warga yang membutuhkan penanganan mencapai 185 KK.

Hasil pengecekan menunjukkan sumur warga memiliki kedalaman sekitar 6 hingga 12 meter. Namun, sebagian besar mengalami penurunan debit secara signifikan, bahkan ada yang mengering hingga dasar sumur terlihat. Kondisi air di sejumlah sumur juga dinilai tidak layak untuk dikonsumsi.

Terbatasnya sumber air membuat warga harus mencari alternatif untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di wilayah RT 03/RW 05, misalnya, warga mengandalkan sumber air di kawasan Perumahan Diamond yang berjarak sekitar 150 meter dari permukiman. Akan tetapi, sumber tersebut juga digunakan bersama oleh masyarakat perumahan dan warga kampung sekitar.

Keterbatasan akses bahkan membuat sebagian warga harus mengambil air pada malam hari. Sementara itu, alternatif lainnya adalah sungai yang berjarak sekitar satu hingga dua kilometer dari permukiman.

Situasi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan yang dihadapi warga bukan hanya berkurangnya ketersediaan air akibat kemarau, melainkan juga terbatasnya akses terhadap sumber air alternatif. Padahal, air bersih merupakan kebutuhan mendasar, terutama untuk minum dan memasak.

Narasumber BPBD Kabupaten Jember, Zaenuddin Permana dari Tim Reaksi Cepat (TRC), menjelaskan bahwa asesmen dilakukan untuk memastikan kondisi lapangan sekaligus mengidentifikasi kebutuhan penanganan bagi masyarakat terdampak.

“Dari hasil pengecekan di lapangan, sebagian besar sumur warga mengalami penurunan ketersediaan air, bahkan ada yang sudah mengering. Warga membutuhkan bantuan air bersih untuk memenuhi kebutuhan utama, terutama minum dan memasak,” ujar Zaenuddin.

Dalam kegiatan tersebut, tim melakukan koordinasi dengan perangkat RT/RW, pemeriksaan sumur warga, pendataan kondisi sumber air, serta dokumentasi. Tim mulai bergerak menuju lokasi pada pukul 09.00 WIB dan kembali ke markas komando pada pukul 11.30 WIB.

Berdasarkan hasil asesmen, BPBD Kabupaten Jember merekomendasikan distribusi air bersih sebanyak 5.000 liter setiap empat hari sekali. Selain itu, diperlukan penyediaan empat unit tandon air, dengan dua unit untuk RT 03/RW 05 dan dua unit untuk wilayah RT 02, RT 03, serta RT 04/RW 04.

Namun, pelaksanaan distribusi tandon masih menunggu kesiapan pangkon atau dudukan tandon di lokasi. BPBD juga merekomendasikan agar hasil asesmen diteruskan kepada dinas terkait untuk mendukung penanganan lebih lanjut.

Dengan kondisi sumur yang terus mengalami penurunan debit dan sumber air alternatif yang terbatas, distribusi air bersih secara berkala menjadi langkah mendesak untuk membantu warga memenuhi kebutuhan dasar. Penanganan lanjutan juga diperlukan agar masyarakat tidak terus menghadapi kesulitan serupa setiap kali musim kemarau berlangsung. (bob)

Galeri Foto