logo ppid jember kim
Oleh : Kecamatan Arjasa

Bukan Hanya Soal Kesehatan, Homecare Arjasa Temukan Kebutuhan Lansia di Darsono

  • 20 Agustus 2026
  • Dibaca 4 Kali
Bagikan Via:
bukan-hanya-soal-kesehatan-homecare-arjasa-temukan-kebutuhan-lansia-di-darsono-20260820

Bukan Hanya Soal Kesehatan, Homecare Arjasa Temukan Kebutuhan Lansia di Darsono

JEMBER, 19 AGUSTUS 2026 – Pelaksanaan Program Homecare di Kecamatan Arjasa terus bergerak mendekati masyarakat yang membutuhkan. Setelah sebelumnya dilakukan rapat koordinasi di Puskesmas Arjasa pada Rabu, 19 Agustus 2026, tim kemudian turun langsung ke lapangan untuk mengunjungi sasaran Homecare di Desa Darsono, Kecamatan Arjasa, yakni lansia dengan Kartu Keluarga (KK) tunggal.

Kunjungan tersebut menjadi bagian penting dari pelaksanaan Homecare karena tim dapat melihat secara langsung kondisi sasaran sekaligus berbagai tantangan yang harus dihadapi ketika memberikan pelayanan dari rumah ke rumah. Tidak hanya kondisi kesehatan warga yang menjadi perhatian, tetapi juga kondisi lingkungan dan akses menuju rumah sasaran turut menjadi bagian dari evaluasi.

Untuk mencapai lokasi, rombongan harus melewati medan jalan yang cukup sulit dan tidak mudah dilalui kendaraan roda empat. Kondisi tersebut menjadi salah satu catatan penting dalam pelaksanaan pelayanan Homecare, mengingat karakteristik wilayah dan akses menuju rumah setiap sasaran tidak selalu sama.

Kabag Tapem Kabupaten Jember, Rachman Hidayat, S.Sos., yang turut dalam kunjungan tersebut, menilai penggunaan kendaraan perlu disesuaikan dengan kondisi medan. Menurutnya, kendaraan yang lebih fleksibel dan mampu menjangkau jalan sempit maupun medan yang sulit akan membantu tim menghemat waktu perjalanan sehingga pelayanan kepada masyarakat dapat dilakukan lebih efektif.

“Kalau melihat medan seperti tadi, sebaiknya menggunakan kendaraan yang memang bisa lebih mudah melewati jalan seperti ini. Kalau menggunakan mobil, waktunya akan lebih banyak terpakai di perjalanan. Dengan kendaraan yang sesuai medan, waktu kita bisa lebih efisien dan bisa digunakan untuk menjangkau lebih banyak sasaran Homecare,” ujar Rachman.

Kondisi tersebut menjadi gambaran bahwa pelayanan Homecare membutuhkan strategi yang tidak hanya berkaitan dengan pembagian tenaga kesehatan, tetapi juga kesiapan operasional di lapangan. Setiap wilayah memiliki karakteristik berbeda, sehingga metode mobilisasi tim harus disesuaikan agar pelayanan tetap dapat menjangkau warga secara maksimal.

Di lokasi sasaran, tim juga melihat secara langsung kondisi lansia yang hidup dengan KK tunggal. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena lansia yang tinggal sendiri memiliki kebutuhan yang lebih kompleks, terutama dalam hal mobilitas, akses terhadap pelayanan kesehatan, serta dukungan untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.

Kehadiran Homecare diharapkan dapat menjadi salah satu bentuk dukungan bagi kelompok masyarakat tersebut. Dengan mendatangi rumah secara langsung, tim dapat mengetahui kondisi warga secara lebih utuh sekaligus mengidentifikasi kebutuhan yang mungkin tidak terlihat apabila pelayanan hanya dilakukan di fasilitas kesehatan.

Selain aspek kesehatan, Camat Arjasa Andri Purnomo, S.T., M.Si., turut memperhatikan kebutuhan mobilitas lansia yang menjadi sasaran. Ia meminta Tim Layanan Rujukan Terpadu (LRT) untuk menindaklanjuti kebutuhan tersebut melalui koordinasi dengan Dinas Sosial.

“Untuk lansia yang menjadi sasaran ini, coba diusahakan melalui Tim LRT agar bisa dikoordinasikan dengan Dinas Sosial. Kalau memungkinkan, diberikan bantuan tongkat yang dapat membantu mobilisasi mereka, sehingga aktivitas sehari-hari bisa lebih mudah dan mereka lebih aman ketika berjalan,” tutur Andri.

Permintaan tersebut menunjukkan bahwa Homecare tidak hanya berfokus pada pemeriksaan dan pelayanan medis. Temuan di lapangan juga dapat menjadi pintu masuk untuk menghubungkan warga dengan berbagai layanan sosial yang sesuai dengan kebutuhannya.

Bagi lansia yang memiliki keterbatasan mobilitas, alat bantu sederhana seperti tongkat dapat memberikan manfaat besar. Selain membantu pergerakan, alat tersebut juga diharapkan dapat meningkatkan kemandirian dan rasa aman ketika lansia melakukan aktivitas di dalam maupun di sekitar rumah.

Tim LRT kemudian menjadi salah satu unsur penting dalam memastikan kebutuhan nonmedis yang ditemukan selama kunjungan dapat diteruskan kepada pihak terkait. Pola kolaborasi tersebut membuat pelayanan Homecare tidak berjalan sendiri, melainkan terhubung dengan berbagai perangkat dan layanan pemerintah sesuai kebutuhan sasaran.

Kunjungan ke Desa Darsono juga memperlihatkan bahwa pelaksanaan Homecare membutuhkan kepekaan terhadap kondisi nyata di lapangan. Data sasaran menjadi dasar awal, tetapi kondisi sebenarnya baru dapat diketahui ketika tim datang langsung ke rumah warga. Dari kondisi jalan, akses kendaraan, kondisi tempat tinggal, hingga kebutuhan alat bantu, semuanya menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan.

Dengan demikian, setiap kunjungan Homecare bukan sekadar rutinitas mendatangi pasien. Ada proses identifikasi, pemetaan, koordinasi, dan tindak lanjut yang dilakukan agar kebutuhan masyarakat dapat ditangani secara lebih menyeluruh.

Pelaksanaan Homecare di Desa Darsono menjadi salah satu contoh bagaimana pelayanan kesehatan bergerak lebih dekat kepada warga. Ketika akses menuju rumah sasaran tidak mudah, pemerintah dituntut untuk menyesuaikan cara kerja. Ketika ditemukan kebutuhan di luar layanan kesehatan, koordinasi lintas sektor menjadi jawabannya.

Dari jalan yang sulit dilalui hingga rumah seorang lansia yang hidup dengan KK tunggal, kunjungan tersebut memberikan satu pesan penting: pelayanan kepada masyarakat tidak boleh berhenti hanya karena medan yang sulit. Justru di tempat-tempat seperti inilah kehadiran pemerintah semakin dibutuhkan. (aza)

Galeri Foto