Dispendik Jember Bekali Mahasiswa KKN Kolaboratif 2026, Dorong Pembentukan Bank Sampah di Setiap Desa
- 01 Juli 2026
- Dibaca 36 Kali
Bagikan Via:
Dispendik Jember Bekali Mahasiswa KKN Kolaboratif 2026, Dorong Pembentukan Bank Sampah di Setiap Desa
Jember, 1 Juli 2026 – Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Jember terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung pembangunan berkelanjutan melalui dunia pendidikan. Hal tersebut diwujudkan dengan menggelar Pembekalan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kolaboratif ke-5 Tahun 2026 bagi Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) dan Mahasiswa yang berlangsung di Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Jember, Rabu (1/7/2026).
Kegiatan ini diikuti oleh ratusan mahasiswa peserta KKN Kolaboratif serta para Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) dari berbagai perguruan tinggi di Kabupaten Jember. Pembekalan menjadi langkah awal sebelum mahasiswa diterjunkan ke desa-desa untuk melaksanakan program pengabdian kepada masyarakat.
Mengusung semangat kolaborasi lintas perguruan tinggi dan pemerintah daerah, kegiatan tersebut menghadirkan materi mengenai pengelolaan sampah berbasis masyarakat sebagai salah satu program prioritas yang diharapkan dapat diwujudkan dalam pelaksanaan KKN tahun ini.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Jember, Arief Tjahyono, dalam sambutannya menyampaikan bahwa mahasiswa memiliki peran strategis sebagai agen perubahan di tengah masyarakat. Menurutnya, melalui KKN, mahasiswa tidak hanya menjalankan kewajiban akademik, tetapi juga menjadi motor penggerak perubahan sosial yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Pada KKN Kolaboratif tahun ini, Arief berharap seluruh peserta dapat menjadikan pembentukan dan penguatan bank sampah sebagai salah satu program kerja unggulan di desa lokasi KKN.
Menurutnya, persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya oleh pemerintah. Dibutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk mahasiswa yang memiliki semangat, kreativitas, serta kemampuan memberikan edukasi kepada warga.
"Saya berharap mahasiswa bersama Dosen Pembimbing Lapangan mampu menciptakan atau mengembangkan bank sampah di desa-desa lokasi KKN. Program ini bukan hanya membantu mengurangi volume sampah di Kabupaten Jember, tetapi juga membangun budaya peduli lingkungan yang dimulai dari rumah tangga," ujar Arief Tjahyono.
Ia menjelaskan bahwa perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah harus dimulai sejak dini. Kesadaran memilah sampah organik dan anorganik perlu ditanamkan dari lingkungan keluarga sebelum diterapkan di sekolah maupun masyarakat luas.
"Kesadaran tentang pengelolaan sampah harus dimulai dari rumah. Ketika setiap keluarga terbiasa memilah dan mengelola sampah, maka desa akan menjadi lebih bersih dan persoalan sampah di Kabupaten Jember dapat ditekan secara bertahap. Mahasiswa memiliki peran penting untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai hal tersebut," tambahnya.
Arief juga mengajak seluruh peserta KKN agar tidak hanya fokus pada kegiatan seremonial, tetapi mampu menciptakan program yang berkelanjutan sehingga manfaatnya tetap dirasakan masyarakat meski masa KKN telah berakhir.
Menurutnya, bank sampah menjadi salah satu contoh program yang memiliki dampak jangka panjang karena selain menjaga kebersihan lingkungan juga mampu memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat apabila dikelola secara konsisten.
Setelah sambutan Kepala Dinas Pendidikan, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh Susiatik, narasumber dari Forum Bank Sampah Jember. Dalam paparannya, ia menjelaskan pentingnya keberadaan bank sampah sebagai solusi pengelolaan sampah berbasis masyarakat sekaligus sarana edukasi lingkungan.
Susiatik mengatakan bahwa masih banyak desa yang belum memiliki sistem pengelolaan sampah yang terstruktur. Padahal, melalui bank sampah masyarakat dapat belajar memilah sampah sejak dari rumah, mengurangi sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir, hingga memperoleh manfaat ekonomi dari sampah yang berhasil dikumpulkan.
"Bank sampah bukan hanya tempat mengumpulkan sampah, tetapi menjadi pusat edukasi masyarakat untuk mengubah kebiasaan dalam mengelola sampah. Jika setiap desa memiliki bank sampah yang aktif, lingkungan akan lebih bersih, sehat, dan masyarakat juga bisa memperoleh nilai tambah dari sampah yang selama ini dianggap tidak berguna," jelas Susiatik.
Ia juga mengajak mahasiswa untuk menjadikan edukasi lingkungan sebagai bagian penting dari program KKN.
Menurutnya, mahasiswa mempunyai kemampuan berkomunikasi dan berinovasi sehingga mampu menjadi penggerak masyarakat dalam membangun budaya baru yang lebih peduli terhadap lingkungan.
Dalam sesi diskusi, peserta tampak antusias mengajukan berbagai pertanyaan mengenai mekanisme pembentukan bank sampah, sistem pengelolaan, hingga strategi mengajak masyarakat agar mau berpartisipasi secara aktif.
Berbagai contoh praktik baik pengelolaan bank sampah di beberapa desa juga dipaparkan sebagai inspirasi bagi mahasiswa dalam menyusun program kerja KKN nantinya.
Salah satu peserta, Sri Wulandari, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) dari Universitas PGRI Argopuro (Unipar) Jember, menyampaikan apresiasinya terhadap materi yang diberikan. Ia menilai gagasan menjadikan bank sampah sebagai program kerja KKN merupakan langkah yang sangat tepat karena menyentuh kebutuhan masyarakat secara langsung.
Menurutnya, mahasiswa tidak hanya belajar mengabdi kepada masyarakat, tetapi juga mampu meninggalkan program yang dapat terus dilanjutkan oleh warga setelah KKN selesai.
"Saya sangat mendukung gagasan menjadikan bank sampah sebagai salah satu program kerja KKN Kolaboratif tahun ini. Program ini realistis, bermanfaat, dan memiliki dampak jangka panjang. Kami siap mendampingi mahasiswa agar mampu berkolaborasi dengan pemerintah desa serta masyarakat dalam mewujudkannya," ujar Sri Wulandari.
Ia berharap sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, pemerintah desa, dan masyarakat dapat memperkuat keberhasilan program tersebut.
Kegiatan pembekalan berlangsung dengan suasana interaktif. Para mahasiswa terlihat aktif berdiskusi, mencatat materi, serta berbagi pengalaman mengenai kondisi pengelolaan sampah di wilayah masing-masing.
Dispendik Jember berharap pembekalan ini mampu menjadi bekal bagi seluruh peserta dalam merancang program KKN yang lebih inovatif, aplikatif, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Melalui tema kolaboratif yang diusung tahun ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya hadir sebagai peserta KKN, tetapi benar-benar menjadi agen perubahan yang mampu menghadirkan solusi terhadap berbagai persoalan di desa, salah satunya persoalan sampah.
Dengan dukungan dari Dosen Pembimbing Lapangan, pemerintah daerah, serta Forum Bank Sampah Jember, program pembentukan dan penguatan bank sampah di desa-desa diharapkan mampu menjadi gerakan bersama dalam mewujudkan Kabupaten Jember yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.
Kegiatan pembekalan ini sekaligus menegaskan bahwa kolaborasi antara dunia pendidikan, perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat merupakan kunci dalam menciptakan perubahan yang berdampak. Melalui KKN Kolaboratif 2026, mahasiswa diharapkan mampu mengimplementasikan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah menjadi aksi nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat serta mendukung terwujudnya lingkungan yang bersih dan budaya sadar sampah sejak dini di Kabupaten Jember. (HZ)