DTPHP Jember Tinjau Serangan Hama Tikus yang Sebabkan 100 Hektare Padi Puso di Jenggawah
- 23 Juni 2026
- Dibaca 23 Kali
Bagikan Via:
DTPHP Jember Tinjau Serangan Hama Tikus yang Sebabkan 100 Hektare Padi Puso di Jenggawah
JEMBER, 23 JUNI 2026 – Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Jember melakukan peninjauan lapangan pada Senin, 22 Juni 2026, sebagai tindak lanjut atas laporan petani terkait serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) tikus di areal pertanaman padi Desa Jenggawah, Kecamatan Jenggawah. Serangan hama tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan berat hingga puso pada lahan seluas kurang lebih 100 hektare.
Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Kepala DTPHP Kabupaten Jember, Djamil, didampingi Kepala Bidang Pertanian, Luhur, beserta jajaran teknis dari DTPHP Kabupaten Jember. Kehadiran mereka di lapangan bertujuan untuk memastikan kondisi pertanaman yang terdampak sekaligus menyusun langkah penanganan yang tepat guna menekan kerugian petani.
Peninjauan dilakukan setelah adanya laporan dari petani dan petugas pertanian setempat mengenai meningkatnya serangan hama tikus yang menyerang tanaman padi pada fase generatif. Akibat serangan tersebut, sebagian besar tanaman mengalami kerusakan parah sehingga tidak dapat dipanen.
Kepala DTPHP Kabupaten Jember, Djamil, mengatakan bahwa pemerintah daerah melalui DTPHP bergerak cepat menindaklanjuti laporan yang disampaikan petani. Menurutnya, langkah tersebut penting untuk mengetahui secara langsung tingkat kerusakan yang terjadi serta menentukan strategi pengendalian yang efektif.
“Kami hadir di tengah petani untuk memastikan kondisi yang terjadi di lapangan. Dari hasil peninjauan, memang terdapat areal pertanaman padi yang mengalami kerusakan cukup berat akibat serangan tikus. Kondisi ini harus segera ditangani agar tidak semakin meluas ke wilayah pertanaman lainnya,” kata Djamil.
Ia menjelaskan bahwa serangan tikus merupakan salah satu ancaman serius bagi produktivitas tanaman padi karena dapat menimbulkan kerugian besar dalam waktu singkat. Oleh sebab itu, diperlukan kerja sama seluruh pihak dalam upaya pengendaliannya.
“Pengendalian tikus tidak bisa dilakukan secara sendiri-sendiri. Harus dilakukan secara serentak dan melibatkan seluruh petani dalam satu hamparan. Dengan gerakan bersama, populasi tikus dapat ditekan sehingga kerusakan tanaman dapat diminimalkan,” ujarnya.
Selain melakukan pengamatan terhadap kondisi pertanaman, rombongan DTPHP juga berdialog langsung dengan petani untuk mendengarkan berbagai permasalahan yang dihadapi di lapangan. Sejumlah petani menyampaikan bahwa serangan tikus terjadi dalam beberapa waktu terakhir dan menyebabkan banyak tanaman rusak sebelum memasuki masa panen.
Kepala Bidang Pertanian DTPHP Kabupaten Jember, Luhur, menyampaikan bahwa pihaknya akan melakukan inventarisasi dan pemetaan wilayah terdampak sebagai dasar dalam menentukan langkah penanganan selanjutnya. Pendampingan kepada petani juga akan terus dilakukan melalui penyuluh pertanian lapangan.
“Kami akan mengidentifikasi tingkat kerusakan dan faktor-faktor yang menyebabkan meningkatnya populasi tikus di wilayah ini. Data tersebut akan menjadi dasar untuk menentukan langkah pengendalian yang lebih terarah dan efektif,” jelas Luhur.
Menurutnya, pengendalian hama tikus harus dilakukan secara terpadu dengan melibatkan berbagai metode yang sesuai dengan kondisi lapangan. Selain itu, peran aktif petani dalam melakukan pengamatan dan pelaporan dini juga sangat diperlukan agar serangan dapat segera ditangani sebelum menimbulkan kerusakan yang lebih luas.
Dalam kesempatan tersebut, DTPHP Kabupaten Jember juga mengajak kelompok tani, pemerintah desa, penyuluh pertanian, dan pihak terkait lainnya untuk memperkuat koordinasi dalam pelaksanaan pengendalian OPT tikus. Langkah ini dinilai penting mengingat luas areal yang terdampak mencapai sekitar 100 hektare dan berpotensi memengaruhi produksi padi di wilayah tersebut.
Melalui kegiatan peninjauan lapangan ini, DTPHP Kabupaten Jember menegaskan komitmennya untuk terus hadir mendampingi petani dalam menghadapi berbagai tantangan di sektor pertanian. Penanganan yang cepat, koordinasi yang baik, serta keterlibatan aktif seluruh pihak diharapkan dapat menekan dampak serangan hama tikus dan menjaga produktivitas pertanian di Kecamatan Jenggawah.
Hasil identifikasi lapangan selanjutnya akan menjadi dasar penyusunan strategi pengendalian yang lebih komprehensif agar serangan OPT tikus dapat dikendalikan secara efektif. Dengan demikian, keberlanjutan produksi padi dan ketahanan pangan daerah dapat tetap terjaga meskipun menghadapi ancaman organisme pengganggu tumbuhan. (ima)