Oleh : Kecamatan Ajung
GUN MULYA, DESAINER KOSTUM UNIK DARI BAHAN ALAM YANG MENGINSPIRASI DARI DUSUN CURAH KENDAL.
- 10 November 2025
- Dibaca 269 Kali
Bagikan Via:
GUN MULYA, DESAINER KOSTUM UNIK DARI BAHAN ALAM YANG MENGINSPIRASI DARI DUSUN CURAH KENDAL.
Ajung, 09 November 2025 — Di sebuah dusun kecil bernama Curah Kendal, di wilayah Desa Sukamakmur, Kecamatan Ajung, tumbuh sosok kreatif yang tak biasa. Ia adalah Gun Mulya, pria yang dikenal masyarakat sekitar sebagai perancang kostum unik dari bahan alam dan daur ulang. Namun, siapa sangka, di balik kemampuannya menciptakan karya seni dari daun dan plastik, Gun Mulya juga terampil membuat aneka nasi tumpeng untuk acara hajatan, syukuran, dan perayaan desa. Kreativitasnya seakan tidak pernah habis, baik dalam dunia seni rupa maupun kuliner tradisional.
Gun Mulya tinggal di RT 5 RW 2 Dusun Curah Kendal. Dari rumah sederhananya, ia telah menyalakan api kecil kreativitas yang kini mulai menarik perhatian masyarakat sekitar, bahkan sampai ke dunia maya. Sejak tahun 2022, ia menekuni dunia desain kostum, khususnya yang menggunakan bahan-bahan tak lazim seperti daun-daunan, ranting, dan bahkan kantong kresek bekas. Di sela-sela waktu senggangnya, ia juga menerima pesanan nasi tumpeng untuk acara keluarga atau kegiatan warga. Menurutnya, baik membuat kostum maupun nasi tumpeng sama-sama membutuhkan rasa seni dan ketelitian. “Saya senang dua-duanya. Membuat kostum itu seni rupa, sedangkan membuat tumpeng itu seni rasa dan tata letak. Dua-duanya bisa bikin orang bahagia,” ujar Gun Mulya sambil tersenyum.Gun Mulya tidak lahir dari latar belakang pendidikan desain. Ia mengaku, semua yang dikerjakannya berawal dari rasa penasaran dan keinginan untuk berkarya. Sekitar tahun 2022, ia sering melihat foto dan video karnaval besar seperti Jember Fashion Carnival (JFC) yang terkenal dengan kostum megah dan konsep spektakulernya. Dari situlah muncul keinginan besar untuk bisa berpartisipasi suatu hari nanti. Namun, keterbatasan modal membuatnya berpikir keras. Ia lalu mencari cara agar bisa tetap berkarya dengan bahan yang mudah didapat. Dari alam sekitar, ia menemukan jawabannya. Ia mulai mengumpulkan daun kering, pelepah pisang, ranting, hingga limbah plastik seperti kantong kresek bekas yang sering berserakan di sekitar desa. “Saya berpikir, kenapa tidak memanfaatkan bahan yang ada di sekitar kita? Alam sudah menyediakan, tinggal bagaimana kita mengolahnya jadi sesuatu yang indah,” ujarnya sambil menata potongan daun kering di atas meja kerjanya.Langkah awal Gun Mulya tentu tidak mudah. Banyak eksperimen yang gagal — daun mudah robek, plastik tidak lentur, warna tidak cocok. Namun, dengan semangat pantang menyerah, ia terus mencoba. Ia belajar cara mengeringkan daun agar tetap kuat, memadukan warna alami, dan mengombinasikan bahan alam dengan limbah plastik supaya hasilnya tetap menarik. “Awal-awal sering gagal. Tapi dari situ saya belajar. Kalau kita sabar, hasilnya bisa luar biasa,” katanya. Karya pertamanya sempat dipamerkan secara sederhana dalam acara tingkat desa. Tak disangka, banyak warga terpesona melihat kostum dari daun dan plastik itu. Beberapa anak muda bahkan mulai memintanya membuat kostum untuk video TikTok dan konten kreatif media sosial lainnya. Dari sinilah, nama Gun Mulya mulai dikenal.Sejak tahun 2023, Gun Mulya mulai menerima orderan secara rutin. Sebagian besar pelanggan datang dari kalangan muda yang ingin membuat konten kreatif di media sosial. Kostum dari daun, plastik, dan bahan daur ulang ini menjadi daya tarik tersendiri karena keunikannya. “Banyak yang pesan buat konten TikTok, karena tampilannya beda dan menarik perhatian. Kadang mereka juga sekalian ngajak saya kolaborasi di videonya,” ujarnya sambil tertawa kecil. Selain untuk konten, beberapa pelanggan juga memesan kostum untuk kegiatan karnaval. Ia bahkan bersedia datang ke lokasi acara untuk membuat kostum di tempat, asalkan pihak pemesan menyediakan bahan-bahan dasar seperti daun dan kresek sesuai konsep yang disepakati. Untuk menjaga komitmen, setiap pemesanan harus dilakukan lebih awal dan membayar DP 50%. Aturan ini ia buat agar pekerjaannya bisa teratur dan tidak terganggu dengan pesanan mendadak. “Karena semuanya buatan tangan, saya butuh waktu dan tenaga. Jadi harus pesan dulu,” ujarnya.Bagi Gun Mulya, karya bukan hanya tentang keindahan, tetapi juga pesan moral. Ia ingin mengingatkan masyarakat agar lebih peduli terhadap lingkungan. Ia menunjukkan bahwa bahan yang sering dianggap sampah, bisa menjadi sesuatu yang bernilai seni. “Saya ingin masyarakat sadar, bahwa daun, plastik, atau bahan bekas sekalipun bisa disulap jadi karya. Jangan langsung dibuang, tapi coba diolah,” katanya. Setiap kostum buatannya memiliki tema dan makna. Ada yang melambangkan kehidupan alam, ada yang menggambarkan semangat manusia menjaga bumi. Ia mengaku sering mengambil inspirasi dari sekitar rumah — pohon jati, daun pisang, dan warna-warna alami di kebun warga.Selain mahir membuat kostum, Gun Mulya juga dikenal ahli dalam membuat aneka nasi tumpeng. Warga sekitar sering memesan tumpeng buatannya untuk acara ulang tahun, syukuran, tasyakuran, dan kegiatan keagamaan. Bentuk dan hiasannya selalu menarik perhatian, karena disusun dengan seni dan cita rasa yang khas. “Saya suka seni bentuk. Membuat tumpeng itu seperti membuat kostum juga. Harus rapi, indah, dan punya makna. Kalau kostum dari daun, tumpeng dari nasi dan lauk-lauk — tapi prinsip seninya sama,” jelasnya. Kemampuan ganda itu membuat Gun Mulya semakin dikenal di lingkungannya. Ia sering diminta ikut membantu berbagai kegiatan desa, mulai dari dekorasi hingga konsumsi acara. Semua ia lakukan dengan penuh semangat, tanpa meninggalkan kesederhanaannya.Meski sudah dikenal luas di desanya, Gun Mulya masih menyimpan satu impian besar: tampil di Jember Fashion Carnival (JFC). Ia ingin memperlihatkan bahwa dari desa kecil pun, karya besar bisa lahir. Namun, impian itu masih tertunda karena keterbatasan dana. Biaya untuk membuat satu kostum yang layak tampil di panggung JFC cukup besar, terutama untuk bahan pelengkap, transportasi, dan properti tambahan. Karena itu, ia berharap ada donatur atau pihak sponsor yang bersedia membantu mewujudkan mimpinya. “Kalau ada yang mau bantu, saya yakin bisa tampil di JFC. Saya ingin membawa nama desa, biar Ajung juga dikenal karena karya, bukan hanya karena hasil bumi,” katanya dengan penuh keyakinan.Masyarakat Dusun Curah Kendal merasa bangga memiliki sosok seperti Gun Mulya. Ia menjadi inspirasi bagi banyak anak muda yang ingin berkarya dari hal-hal sederhana. Beberapa warga bahkan membantu mengumpulkan bahan daun dan plastik, atau membantu proses pembuatan tumpeng ketika ada pesanan besar. “Gun Mulya itu kreatif banget. Bukan cuma bisa bikin kostum, tapi juga jago masak. Kalau ada acara desa, tumpengnya selalu dia yang bikin,” ujar salah satu warga sambil tertawa. Ke depan, Gun Mulya berencana untuk membuka pelatihan kecil bagi remaja desa yang ingin belajar membuat kostum atau tumpeng kreatif. Ia ingin berbagi ilmu agar semakin banyak generasi muda yang berani menyalurkan bakat seni mereka.Kisah Gun Mulya adalah kisah tentang keberanian untuk berkarya dari keterbatasan. Ia membuktikan bahwa kreativitas tidak harus mahal, dan bahwa seni bisa lahir dari hati yang tulus. Dari daun dan plastik, ia menciptakan keindahan; dari beras dan lauk, ia menyajikan kebahagiaan. Kini, nama Gun Mulya perlahan menjadi simbol semangat kreatif di Desa Sukamakmur. Ia tidak hanya menginspirasi lewat karya, tetapi juga lewat sikap pantang menyerah dan keinginannya untuk terus belajar. Di tangannya, alam dan dapur menjadi ruang ekspresi yang tak terbatas. Dan siapa tahu, suatu hari nanti, dari Dusun Curah Kendal, karya Gun Mulya benar-benar akan melangkah ke panggung besar seperti Jember Fashion Carnival — membawa kebanggaan bagi desanya, dan bukti bahwa dari desa kecil pun, ide besar bisa bersinar terang.