Guru PAUD Didorong Kenalkan Koding dan Kecerdasan Artifisial Melalui Pembelajaran yang Menyenangkan
- 23 September 2026
- Dibaca 27 Kali
Bagikan Via:
Guru PAUD Didorong Kenalkan Koding dan Kecerdasan Artifisial Melalui Pembelajaran yang Menyenangkan
JEMBER, 23 SEPTEMBER 2026 - Perkembangan teknologi digital yang semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari mendorong dunia pendidikan untuk menyiapkan anak sejak usia dini agar mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Namun, pengenalan teknologi kepada anak usia dini tidak harus selalu dilakukan melalui perangkat digital. Cara yang menyenangkan, sederhana, dan sesuai tahap perkembangan anak justru menjadi bagian penting dalam membangun kemampuan berpikir mereka.
Semangat tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam kegiatan Bimbingan Teknis Strategi Pengintegrasian Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) dalam Ekosistem Pembelajaran Anak Usia Dini. Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Indro Wiyarno, M.Pd. dari Direktorat Guru PAUD dan Pendidikan Nonformal, Rahadia Wiyos Hastono, S.Kom. dari BBGTK Provinsi Jawa Timur, serta Indah Nurcholifah, S.Pd.
Rabu, 23 September 2026, kegiatan tersebut dilaksanakan di Ballroom Hotel Fortuna Grande dan dibuka oleh Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Jember, Nurul Hafid Yasin, S.STP., M.Si. Dalam sambutannya, Nurul Hafid menekankan bahwa perkembangan teknologi harus diikuti dengan kesiapan pendidik, terutama dalam memahami bagaimana teknologi dapat diterapkan secara tepat dalam proses pembelajaran anak.
“Pengintegrasian koding dan kecerdasan artifisial di jenjang PAUD bukan berarti anak harus langsung berhadapan dengan teknologi yang rumit. Yang paling penting adalah bagaimana guru mampu menumbuhkan cara berpikir logis, kreatif, sistematis, dan mampu memecahkan masalah melalui kegiatan yang sesuai dengan dunia anak,” ujar Nurul Hafid.
Menurutnya, guru memiliki peran penting dalam menjembatani perkembangan teknologi dengan kebutuhan tumbuh kembang peserta didik. Anak usia dini membutuhkan pengalaman belajar yang konkret, menyenangkan, dan dekat dengan lingkungan mereka. Karena itu, pengenalan konsep koding dan kecerdasan artifisial dapat dilakukan melalui permainan, cerita, pola, pengelompokan benda, instruksi sederhana, maupun kegiatan pemecahan masalah. Pendekatan tersebut membuat anak belajar tanpa merasa sedang mengikuti pembelajaran teknologi yang kompleks.
Hal senada disampaikan Indro Wiyarno, M.Pd. Menurutnya, penerapan KKA pada anak usia dini perlu ditempatkan sebagai bagian dari proses pembelajaran yang memberikan pengalaman bermakna.
“Kita tidak sedang mengajarkan anak PAUD menjadi programmer. Kita sedang membangun fondasi berpikir mereka. Anak belajar mengenali pola, menyusun langkah, mengikuti instruksi, mencoba, menemukan kesalahan, kemudian mencari cara untuk memperbaikinya,” ujar Indro.
Pendekatan tersebut sejalan dengan pedoman implementasi KKA yang menempatkan pengembangan berpikir komputasional sebagai bagian penting pada jenjang PAUD. Pembelajaran juga dapat dilakukan melalui aktivitas dengan perangkat digital maupun tanpa perangkat atau unplugged, sehingga dapat menyesuaikan kondisi dan sumber daya satuan pendidikan.
Sementara itu, Rahadia Wiyos Hastono, S.Kom. menyoroti pentingnya kesiapan guru dalam menghadapi perubahan ekosistem pendidikan. Menurutnya, pendidik tidak cukup hanya mengenal teknologi, tetapi juga harus mampu memilih dan memanfaatkannya secara bijak sesuai tujuan pembelajaran.
“Teknologi adalah alat. Guru tetap menjadi bagian utama dalam menentukan bagaimana pengalaman belajar anak dibangun. Karena itu, pemahaman guru mengenai KKA harus terus diperkuat agar penerapannya benar-benar memberikan manfaat bagi perkembangan anak,” tuturnya.
Dalam kegiatan tersebut, peserta juga diajak memahami bahwa kecerdasan artifisial tidak semata-mata berkaitan dengan penggunaan aplikasi atau perangkat canggih. Konsep dasarnya dapat diperkenalkan melalui aktivitas sederhana yang mendorong anak mengamati, mengelompokkan, membandingkan, mengenali pola, serta menyelesaikan persoalan.
Indah Nurcholifah, S.Pd. turut menekankan pentingnya menciptakan suasana belajar yang dekat dengan kehidupan anak. Guru dapat menggunakan permainan tradisional, benda-benda di sekitar kelas, gambar, cerita, hingga aktivitas bergerak untuk memperkenalkan konsep berpikir komputasional. Dengan demikian, KKA di PAUD tidak hadir sebagai sesuatu yang menakutkan atau sulit. Sebaliknya, KKA dapat menjadi bagian dari permainan dan eksplorasi yang membuat anak aktif bertanya, mencoba, dan menemukan jawaban.
Kegiatan bimbingan teknis ini diharapkan mampu memperkuat kapasitas pendidik PAUD dalam menghadapi perkembangan teknologi sekaligus menjaga pembelajaran tetap berpijak pada kebutuhan anak. Transformasi pendidikan tidak hanya berbicara tentang perangkat dan aplikasi, tetapi juga tentang bagaimana guru menyiapkan anak menjadi pembelajar yang kreatif, kritis, adaptif, dan mampu menghadapi perubahan.
Bagi anak-anak, mungkin kegiatan tersebut hanya tampak seperti permainan sederhana. Namun di balik aktivitas menyusun pola, mengikuti instruksi, atau mencari solusi, terdapat proses membangun fondasi berpikir yang akan berguna dalam perjalanan pendidikan mereka di masa depan. (puja)